Translate

tema 1

tema 1
tema

Rabu, 26 Desember 2012

CATATAN TENTANG HAJI PENGERTIAN HAJI MENURUT YUSRI


CATATAN TENTANG HAJI

PENGERTIAN HAJI MENURUT YUSRI


Haji syariat : adalah yang dikerjakan oleh umat Islam pada setiap bulan Dzulhijjah, pergi ke Baitullah dengan segala bekal dan persyaratan yang diperlukan untuk menunaikan ibadah haji.
Hakikat dari haji syariat adalah mengosongkan hati dan fikiran dari mengingat sesuatu selain Allah dengan kodrat dan irodat NYA serta mengharap syafaat dari Rosulullah. Kita tinggalkan kampung halaman, harta benda, anak istri dan lain-lainnya semata-mata untuk mencari keridoan Allah.
Sebagai bekal untuk menunaikan ibadah haji adalah kesabaran, keimanan, keikhlasan keta’atan (istiqomah) dan ketaqwaan.

Haji tarikat : adalah naiknya seorang salik ke maqam Ruh, alam arwah, berbekal takut kepada Allah lahir dan bathin. Kendaraannya adalah kemauan, tekad yang keras, teguh dan mantap, beristiqomah dalam melakukan perjalanan tarikat berdasarkan petunjuk guru pembimbing atau syeikh. Peralatannya adalah Dzikrullah, bahasa gaulnya meditasi, sekali lagi meditasi… gitu lo…!!!

Haji hakikat : adalah naiknya seorang salik ke martabat Wahdah, mereka sampai kepada Haq Allah Ta’ala melalui proses fana. Berbekal Mahabbah, rasa cinta kepada Allah, kendaraannya adalah Nur Ahadiyah, berdasarkan Hidayah Allah semata, tidak bisa didapatkan melalui usaha. Guru pembimbingnya adalah Mukasyafah (terbuka hijab) dari Haq Allah, peralatannya adalah Haibatul Jalal dalam hati, sehingga hatinya cemerlang dengan Jalalul Haq, keagungan Allah, maka ketika itu sampailah ia kepada Tuhan, yang menemaninya adalah Tajalil Jamal, Cahaya Allah.   Oleh karena itu menurut Yusri : Haji Tarikat lebih mulia dari pada haji syariat, karena pada haji tarikat si salik mencapai maqam Ruh, dimana Ruh adalah lebih mulia dari pada seluruh makhluk lainnya. Demikian juga haji hakikat tentu lebih mulia dari pada haji tarikat, karena haji hakikat telah mencapai martabat Wahdah, hakikat dari pada Ruh, berarti mi’raj, OOBE, mencapai pencerahan jiwa yang  sempurna.  Dengan demikian silahkan renungkan, pahami dan hayati sendiri, mulai dari haji syariat, haji tarikat, haji hakikat serta apa yang dimaksud haji mabrur , bukan haji mabur , karena ternyata tidak harus ke Mekah,  namun melalui ujian keikhlasan… Tanpa uang setiap orang bisa mencapai haji hakikat, asalkan hatinya bersih … yang dibersihkan melalui proses berdzikir ...
Itulah haji sejati, haji yang sebenar-benarnya haji.  Walaupun demikian, kita bebas memilih ingin mencapai haji syariat ataukah haji hakikat.   Bila ingin mencapai haji syariat, itu mudah, persiapkan saja uangnya, beres… Dari mana sumber uangnya terserah … Uang hasil korupsi pun, siapa yang tau …???  Who know and so what gitu lo … ???  Haji imitasi… perilaku tidak terkendali.  Agamanya delapan,  kelakuannya tiga setengah…   Oleh karena itu sebelum ke Mekah, pahami dulu surat-surat Al Qur’an, bukan memahami surat-surat tanah kemudian dijualPulang dari Mekah jadi “Tarsan”, sudah tidak memiliki apa-apa lagi.  Ke Mekah tanpa memahami makna hakikinya Al Qur’an, jadinya hanya wisata ria,  wuaahh heibat, ada rasa bangga mendapat sertifikat dengan nama baru bergelar haji, akhirnya tenggelam dalam kemusrikan… Karena tidak memahami Allah ada dimana, rumahNya yang mana yang harus disucikan.. Ternyata Tuhan tidak ada di Mekah dan rumah-Nya pun tidak dibuat dari batu bata.  Qolbu mukmin baitullah.  Itulah baitullah yang hakiki, buatan Allah sendiri.

Jangan mempersekutukan-ku dengan apapun, sucikanlah rumah-Ku bagi mereka yang thowaf, berdiri, ruku dan sujud ( AL HAJJ 22 : 26 ). 
Ikhlas kepada Allah ( semata ) dan tiada mempersekutukan-Nya ( AL HAJJ 22 : 31 )
Bukan daging dan bukan pula darahnya, yang sampai kepada Allah adalah ketakwaanmu ( AL HAJJ 22 : 37 )

Ikhlas itu adalah salah satu rahasia-Ku yang Aku titipkan di dalam hati orang-orang yang Aku cintai.  Malaikat tidak mengetahui ke ikhlasan seseorang, sehingga malaikat tidak bisa mencatatnya dan setanpun tidak bisa mengetahuinya, sehingga setan tidak bisa merusaknya ( HADITS QUDSI )

Dan lengkapilah perbekalan, perbekalan yang terbaik adalah takwa.  Dan patuhlah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai pikiran ( AL BAQARAH 2 : 197 )

Hai keturunan Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan ( sebagai ) perhiasan ( bagimu ), namun pakaian berupa takwa itu lebih baik ( AL A’RAF 7 : 29 )

Semoga tidak pernah terjadi, namun seandainya terjadi bencana alam yang luar biasa dasyatnya sehingga Mekah tenggelam kedasar bumi, bagaimana kita bisa menunaikan ibadah haji …??? Bila kita memahami masalah Haji mabrur dan Haji hakekat kita tak usah bingung…!!! Percaya Diri Aja..!!!   Ikuti saja jejak Nabi Muhammad SAW ketika di guha Hiro, jejak para Sufi dan para Wali di Indonesia…
Syariat tanpa hakikat adalah fasik, sedangkan hakikat tanpa syariat adalah zindik, bila seseorang melakukan kedua-duanya maka sempurnalah kebenaran orang itu.
Bila haji hakikat adalah haji sejati, haji yang sebenar-benarnya haji, lalu pertanyaanya adalah : Mengapa masalah haji hakikat ini tidak disosialisasikan sejak dini ???   Bila haji hakikat disosialisasikan sejak dini bisa gawat dong… Kenapa gawat … ???   Ya iya lah, ngga ada yang mau ke Mekah, DEPAG bisa kehilangan proyek dan Arab bisa kehilangan devisa, tau …!!!???   Lagian ngapain susah payah pake mikirin haji hakekat segala, kuno…  Kalau kata orang Haji mabur ke Mekah adalah tiket ke surga, ya kita mah ikutan ajalah, ma’mum.   Kalau iman kita, disebutnya iman taklid, ngga pake otak juga ngga apa-apa yang penting hepi…!!!  Haji imitasi juga ngga apa-apa yang penting keren dan beken…gitu lo …!!!   


YANG DIKERJAKAN SAAT HAJI DI MEKAH

BERPAKAIAN IHROM :
Kita tanggalkan baju biasa pakaian sehari-hari kemudian mengenakan pakaian ikhrom. Hakikatnya adalah menanggalkan kebiasaan atau sifat-sifat kita yang tercela, baik yang dilakukan oleh anggota badan, panca indera maupun yang dilakukan oleh hati kita.  Menanggalkan baju kebiasaan kita sehari-hari yang penuh lumpur-lumpur kehidupan, penuh segala noda dan dosa, penuh rasa iri hati, dendam kesumat, ujub, takabur, ria, sombong, berprasangka buruk kepada orang lain, kejam, jahil, aniaya, serakah, kikir dan lain-lainnya yang merupakan dosa syirik tersembunyi yang telah menggumpal menjadi penyakit dan membutakan mata hati, bahkan bila dibiarkan, bisa tumbuh dan berkembang menjadi berhala besar dalam diri kita sendiri. Itulah rasa keakuan, kesombongan, keangkuhan, ria, ujub, takabur, bagaikan iblis yang tidak mau sujud di hadapan Adam.  Rasa keserakahan, tamak, loba, ingin memiliki yang bukan haknya, sebagaimana halnya Adam dan Hawa yang tergoda rayuan iblis. Rasa iri, dengki, cemburu buta atas keberuntungan orang lain seperti riwayat Habil dan Qabil.
Adakah kedamaian dalam kehidupan manakala … masih ada kesombongan … keangkuhan, kerakusan, keserakahan serta … rasa iri dengki … di dalam hati ini … Yaa Allah hindarkanlah kami dari segala kemusyrikan yang tersembunyi.

WUKUF DI ARAFAH.
Di padang gersang Arafah tidak ada perbedaan harkat derajat manusia, tidak ada istilah pejabat, tidak ada istilah rakyat jelata.  Dimata Allah semuanya diperlakukan sama.  Kita dinilai sesuai dengan kadar amal perbuatan dan keimanan kita.
Yang dinilai Allah adalah hati kita.
Apakah kita masih mempunyai dosa syirik yang tersembunyi …
Apakah amal kita telah kita perbaiki dengan keikhlasan …
Apakah keikhlasan kita telah kita hiasi dengan kerendahan hati dalam pengabdian serta kesadaran bahwa sesungguhnya kita tidak mempunyai daya kekuatan apapun kecuali Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya.
Di Arafah ini, di kaki Allah kita semua bersimpuh dan mengemis … dan mengemis.

Hai manusia, kalian tidak lebih hanya seorang pengemis, Allah-lah Yang Maha Kaya dan Maha Terpuji ( AL FATHIR 35 : 15 )

Wukuf di padang Arafah hakikatnya adalah fana-ul fana, seorang hamba yang tenggelam dalam lautan makrifah, dalam kesunyian SIRNYA, tiada yang maujud kecuali Allah, tiada yang melihat melainkan dengan penglihatan-Nya, tiada yang mendengar melainkan melalui pendengaran-Nya, tiada yang bergerak melainkan Allah yang menggerakan Nya. 
Essensi wukuf di Arafah adalah tenggelam dalam dzikrullah, tenggelam dalam meditasi.

THAWAF
Thawaf adalah tata cara beribadah kepada Allah sejak zaman nabi Adam sebelum ada perintah sholat, yaitu dengan cara berjalan mengelilingi Ka’bah. Thawaf bisa berarti suatu keta’atan dan keikhlasan melaksanakan perintah Allah. Semua makhluk ciptaan Allah harus tunduk dan ta’at kepada perintah Allah. Bulan, thawaf mengelilingi bumi, bumi thawaf mengelilingi matahari dan seterusnya matahari serta seluruh planet di dalam susunan tata surya juga thawaf mengelilingi pusat galaksi di alam semesta ini.  Elektron thawaf mengelilingi inti atom.  Sel darah merah thawaf dari jantung ke paru-paru, setelah dibersihkan akhirnya kembali kepada jantung.
Thawaf merupakan lingkaran perjalanan kehidupan dari satu titik kemudian kembali ke titik awal.  Manusia berasal dari Dzat Yang Maha Suci, setelah berkelana di dunia dengan segala noda dan dosanya, kemudian pada suatu waktu nanti, dia akan kembali kepada ke-Maha Suci-an Allah.

Hendaklah mereka ( kalian ) membersihkan kotoran-kotoran yang melekat di badan kalian, selesaikan nazar kalian, kemudian thowaflah di rumah tua ini
( AL HAJJ 22 : 29 )

Milik Allah akan kembali kepada Allah ( AL BAQARAH 2 : 156 )

Thawaf yang hakikatnya adalah musyahadah (menyaksikan) melalui rahasia SirNya dengan cara muraqqabah. Dirinya merasa dekat dan merasa diawasi, merasa berpandang-pandangan dengan Dzat Allah. Jasmaninya menghadap ke Baitullah, hatinya memandang Dzat Allah yang Laesa Kamislihi Syaeun, tidak serupa dengan apapun.  Sejenak bermesra-mesraan dengan Allah.
Oleh karena itu sangatlah wajar bila ada sesepuh yang berpendapat bahwa pada saat melakukan thawaf hati kita harus bersih dari keinginan duniawi.  Hal ini sesuai dengan surat Al Hajj 22 : 29 dimana kita harus selesaikan terlebih dahulu semua nazar atau keinginan kita, setelah selesai baru kemudian thawaf.  Berarti pada saat thawaf, dalam hati kita hanya semata-mata bertaubat, berserah diri kepada Allah, mohon ampunan dan keridoan Allah.  Oleh karena itu cukup dengan memperbanyak bacaan tasbih di dalam hati :
Subhanallah-wal hamdulillah-wa laa ilaha ilallah-hu allah-hu akbar- wa laa haola wa laa kuwata ila billahil aliyil adhim.

Jangan ada keinginan yang lain selain Allah.  Jangan menduakan Tuhan, jangan mencintai yang lain selain Allah pada saat thawaf.
Subhanallah … Pengalaman pribadi penulis pada saat melakukan thowaf yang pertama kali, mulut dan pikiran penulis terkunci tak bisa mengucapkan do’a apapun selain tasbih tersebut.  Penulis sempat bingung namun tetap pasrah kepada Allah SWT.   Hal itu terjadi pada saat  penulis menunaikan ibadah haji tahun 1998.  Maha Benar Allah dengan segala firmannya, sesuai surat Al Hajj 22 : 29 …    
Dalam hal ini, bagi diri pribadi penulis yang tidak pernah mengikuti pendidikan  pesantren secara khusus, penulis merasa terbebani bila harus menghafal do’a yang panjang-panjang.  Apalagi bagi orang-orang yang sudah tua, dimana daya ingat untuk menghafal sudah sangat berkurang.  Oleh karena itu, dari segi praktisnya, dengan hanya membaca tasbih saja, dimana bacaannya juga cukup pendek, beban terasa lebih ringan, sehingga pada saat thawaf juga terasa jadi lebih khusyuk.  Menurut penulis, permohonan untuk urusan duniawi bisa dilakukan dilain kesempatan, kapan saja dan dimana saja, di Masjidil Haram, asalkan tidak pada saat thawaf.  Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya, sesuai Surat Al Hajj 22 : 29.       
Bacaan Tasbih ini, kata para sesepuh, riwayatnya adalah sewaktu Rasulullah dalam perjalanan Isra-Mi’raj, beliau bertemu dengan Nabi Ibrahin a.s.  Kemudian Nabi Ibrahim berkata kepada Rasulullah bahwa tanaman di sorga adalah Tasbih : Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha ilallah-hu Allahu akbar, kemudian dilanjutkan oleh Rasulullah dengan : wa laa haola wa laa kuwata ila billahil aliyil adhim…

SA’I
Merupakan tujuh jalan pendakian ( tujuh tahapan ) yang harus dilalui dengan sungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat sabar dan tawakal dalam rangka mencari Dzat Yang Hakiki sebagai Sumber Kesucian ( shofa ) dan Sumber Kebajikan ( marwa ), yaitu Allah.
Air dan Buah Hati Ismail adalah limpahan rizki dan rahmat yang tanpa batas yang sungguh sangat menenangkan dan menentramkan hati, sebagai hadiah dari Allah bagi mereka yang telah menemukan kebenaran yang hakiki, bagi mereka yang telah mencapai tingkat pencerahan jiwa.  Kematian telah diyakininya sebagai pulang ke  Rahmat Allah, karena dia berasal dari Rahmat Allah.

Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat ( AL INSYIQAAQ 84 : 19 )
Akan tetapi dia tidak mau menempuh jalan yang mendaki, tahukah kamu jalan yang mendaki itu ??? ( AL BALAD 90 : 11-12 )
Cahaya di atas Cahaya, Tuhan akan membimbing dengan Cahaya-nya kepada Cahaya-nya bagi yang Dia kehendaki ( AN-NUUR 24 : 35 )

Silahkan cari sendiri makna hakiki yang disebut jalan yang mendaki itu, dalam rangka upaya untuk menyempurnakan keberagamaan kita, agar kita bisa mencapai derajat ikhsan dan menjadi insan kamil.
Proses pendakian hanya bisa terungkap melalui dzikir dalam arti kata yang luas atau meditasi… sebagaimana yang telah dilakukan oleh para sufi … , pendakian ruhani, tingkat demi tingkat … melalui proses fana dan kasaf …

MUZDALIFAH
Bermalam di Muzdalifah adalah berniat dalam semua pekerjaan haji dengan mementingkan yang menjadi kesukaan Allah serta mengekang semua hawa nafsu keduniawian yang dibisikan setan dalam hati.

BERHIMPUN DI MINA
Setelah melepaskan sifat-sifat kita yang tercela, janganlah merasa diri kita paling mulia. Di Mina tidak ada istilah pejabat pemerintah, penguasa, hakim, jaksa ataupun, konglomerat, si kaya ataupun si miskin, semuanya adalah hamba Allah yang sedang dinilai, amal perbuatannya, ketakwaannya. Siapa yang paling baik hatinya dan amal perbuatannya, dialah yang paling mulia disisi Allah.


MELONTAR JUMROH
Demikian juga dengan perbuatan melontar Jumroh adalah juga melemparkan sifat-sifat kita yang tercela untuk membersihkan lahir dan bathin kita.
Dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar akan tetapi Allah yang melempar ( AL ANFAAL 8 : 17 )
Kitapun harus sadar bahwa kita tidak memiliki daya dan kekuatan apapun namun Allah lah yang menghidupkan dan yang menggerakkan diri kita.

BERKURBAN
Menyembelih hewan kurban pada hakikatnya adalah memotong hawa nafsu kita agar tidak melampaui batas, hawa nafsu kita terkendali.  Kita tidak keras kepala, tidak egois, bisa menenggang rasa. Kelakuan kita tidak seperti hewan.   Dengan berkurban maka tali silaturahmi antar sesama kita akan menjadi baik.  Bila hubungan antar sesama kita baik maka hubungan kita dengan Allah pun akan menjadi baik… Dengan berkurban kita belajar ikhlas semata-mata kepada Allah…

5 komentar:

  1. Alhamdulillah..
    Syariat dan Hakikat, Insya Allah menuju kepada Ma'rifat.
    Man Arofa Nafsahu Faqod Arofa Robbahu

    BalasHapus
  2. Apik tenan Pak...
    Hal-hal semacam inilah yg semestinya didapat jemaah saat manasik, sehingga kita bisa menghayati hakekat setiap kegiatan dalam ritual haji. Umumnya manasik adalah penjelasan prosedur dan schedule pada tahapan2 proses. Tanpa mengetahui makna dan latar belakangnya.
    Salam hangat dr depan Masjid Nabawi.

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah.. terima kasih... salam utk semuanya... semoga jadi haji mabrur

    BalasHapus