Translate

tema 1

tema 1
tema

Minggu, 18 November 2012

ASAL-USUL BERKETUHANAN


ASAL-USUL  BERKETUHANAN 
update 02-07-2014
Kebutuhan manusia secara garis besarnya ada 2 bagian :
  1. Kebutuhan biologis-jasmaniah : sandang, pangan, papan dan pasangan
  2. Kebutuhan psikologis-bathiniah : Rasa aman, nyaman, tenang dan damai.
Untuk memenuhi kebutuhan psikologis atau kebutuhan bathin ini, manusia mulai mencari sesuatu apapun bentuknya yang dianggapnya mempunyai kekuatan yang luar biasa, yang bisa menolong dirinya, yang bisa melindungi dirinya sehingga dia merasa aman dan nyaman.  Sesuatu yang dianggap mempunyai kekuatan mistik itu menjadi sesuatu yang dirindui, dipuja dan dipuji dan disembah oleh mereka.
Berdasarkan penelitian para ahli antropologi, pada awalnya manusia primitip mengakui hanya ada satu Tuhan Yang Maha Tinggi yang disembah.  Namun dalam perkembangannya karena Tuhan tersebut tidak pernah bisa hadir dalam kehidupan mereka sehari-hari, maka mereka mulai menggantinya dari satu Tuhan menjadi beberapa tuhan yang mudah untuk dikenali dan mudah dijangkau oleh pola pikir mereka saat itu.  Keyakinan kepada beberapa tuhan dinamakan polytheisme.
Sejak saat itu dalam benak manusia, dalam pikiran manusia muncul suatu konsep bertuhan. Konsep bertuhan itu turun-temurun diyakini, walaupun yang ada di dalam pikiran manusia itu bukan tuhan yang sebenar-benarnya tuhan.

Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.  Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa ( AL HAJJ 22 : 74 )

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu  (  YUSUF 12 : 40 )

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuknya, mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan hawa nafsunya
( AN NAJM 53 : 23 ).

Kita semua belum pernah berjumpa dengan Tuhan, lalu bagaimana kita bisa kenal nama-Nya.  Enak aja … Tak jumpa maka tak kenal, tak kenal maka tak cinta, tak cinta maka tak iman.  Tuhan yang sebenarnya tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia, Dia tidak serupa dengan apapun, tidak ada sesuatu apapun disisi-Nya,  Dia berdiri dengan sendirinya tanpa penolong.  Dia bukan laki-laki dan juga bukan perempuan.  Orang Arab atau orang Timur Tengah menyebut nama Tuhannya  Al Ilah artinya yang disembah, akhirnya muncul kata Allah.  Berarti pada awalnya yang memberi nama Tuhan Allah adalah manusia juga.  
Kata Allah menurut gramatika bahasa Arab berarti bentuk laki-laki ( maskulin ), Bapa, namun kata Al Dzat berarti bentuk perempuan ( feminin ), Bunda.  Jadi kata Allah ini sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim,  sejak sebelum agama Islam muncul.  Kemudian Nabi Ibrahim yang berpikiran kritis berusaha mencari Tuhan tanpa alat-alat canggih.  Di abad sekarang ini kebenaran keberadaan Allah, kebenaran Al Quran, mulai terbukti dengan adanya penelitian luar angkasa, penelitian atom dan energi, penelitian DNA, penelitian air dan lain-lain.
Sejak zaman primitif, setelah manusia memiliki konsep berketuhanan, mereka kemudian membuat aturan-aturan tata cara penyembahan, tata cara peribadatan yang disebut Agama yang berasal dari kata A artinya tidak dan gama artinya kacau.  Agama adalah aturan agar tidak kacau.  Melalui keberagamaan diharapkan kehidupan masyarakat tidak kacau, aman tentram dan damai.  Demikian juga Nabi Muhammad membuat tata cara beribadah, tata cara sholat sebagai syareat Islam setelah beliau bermukim di Madinah.  Seiring dengan perkembangan zaman, dari zaman purba sampai zaman sekarang, tata-cara keberagamaan pun banyak mengalami perubahan.  Pada abad modern ini, hampir semua umat di dunia berkeyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Dari polytheisme menjadi monotheisme.                                                     
Pada zaman Nabi Ibrahim Al Ilah mereka adalah berhala-berhala yang kemudian dihancurkan oleh Nabi Ibrahim.  Kemudian Ibrahim mengajarkan agama samawi, yaitu agama wahyu, menyembah Allah Tuhan Yang Maha Esa.  Begitu pula pada saat zaman Nabi Muhammad masyarakat jahiliyah tidak menolak nama Tuhan Yang Maha Tinggi adalah Allah, yang mereka tolak adalah karena Nabi Muhammad mengajak mereka dan melarang mereka menyembah tuhan-tuhan lainnya selain Allah Tuhan Yang Maha Esa. 
Menurut penelitian Karen Amstrong,  pada zaman Pra Islam Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim di dekat sumber air keramat Zamzam adalah sebagai kuil untuk menyembah Allah, Tuhan Tertinggi bangsa Arab.  Disekitar nya banyak berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan yang lain.  Mekah sudah dianggap sebagai kota suci dimana dalam radius 20 mil dari Ka’bah dilarang adanya segala macam kekerasan, perkelahian apalagi pertumpahan darah.  Pada saat itu sudah ada kebiasaan tawaf dan ibadah haji yang dilakukan setiap tahun pada saat musim gugur.  Ibadah haji di awali di Ka’bah kemudian diluar Mekah untuk menghormati Tuhan-Tuhan yang lain, kemudian acara di Arafah dan melemparkan batu ke arah tiga pilar di Mina.  Pada musim haji ada gencatan senjata, setiap suku dijamin keamanannya untuk melakukan ibadah haji di Mekah.
Sebagai bukti sederhana bahwa kata Allah sudah tidak asing lagi di masyarakat Arab jahiliyah adalah bahwa ayahanda Nabi Muhammad bernama Abdullah.  Sesungguhnya kita tidak tahu Tuhan itu apa dan ada dimana adalah rahasia.  Nama diberikan bila sesuatu ada wujudnya.  Segala sesuatu yang berwujud lebih dari satu harus diberi nama agar kita tidak keliru, agar tidak salah alamat.  Tuhan tidak punya nama karena tidak berwujud.  Namun DIA Yang Maha Esa adalah Dzat Wajibul Wujud, wajib adanya.  Dia juga Dzat Mumkinu Wujud, mungkin adanya.  DIA adalah transenden, tak terjangkau oleh akal dan pikiran. Nama Tuhan yang sebenarnya tidak bisa diucapkan dan tidak bisa dituliskan.  Walaupun demikian bila penyembahan semua umat tertuju kepada-Nya, tidak akan salah sasaran, karena DIA Maha Tunggal.  Oleh karena Tuhan tidak punya nama, maka kita pun bebas memanggil atau menyebut nama Tuhan dengan nama apa saja.  Boleh panggil Bapa atau Bunda atau dengan nama apa saja yang baik-baik ( Asma’ul husna ).  
Nggak masalah bro, nggak usah sewot coy…Tuhan juga nggak pernah marah.

Katakanlah : Seru-lah Allah atau seru-lah Ar-Rahman, dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai nama Al-Asma’ul Husna … ( AL-ISRA 17 : 110 ).
Hanya milik Allah Asma’ul Husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu ( AL-A’RAF 7 : 180 ).

Kita pun yakin bahwa Tuhan Maha Pengampun, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,  bukan Tuhan Maha Pemurka.  Tuhan tidak pernah menyusahkan umatnya.   Semua Nama yang menggambarkan sifat-sifat dualitas-Nya dan saling bertentangan itu, berada dalam ke-Esa-an Dzat-nya.  Misalnya sifat Jamal ( Terang ) dan Jalal ( Gelap ), Al Hadi, Yang Memberi Petunjuk dan Al Mudzil, Yang Menyesatkan, tidak berarti Tuhan ada dua, Dia tetap Yang Maha Tunggal.    Yang kita sembah bukan nama-Nya, tapi Dzatnya yang Essensi-Nya berada dalam setiap mahluk ciptaannya.  Karena Dialah Al Muhit Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu.  Dia ada di mana-mana, namun dalam ke Esa-an-Nya Dia tidak ke mana-mana, Dia berada di dalam diri kita semua.   Demikianlah kata para sesepuh.

PENDAHULUAN


PENDAHULUAN
update 02-07-2014

Awalluddin ma’rifatullahi.    Awal mula beragama adalah mengenal Allah dan meng-Esa-kan Allah (TAUHID).  Laa illaaha illallaah, tiada Tuhan selain Allah. Qulhuwallaahu ahad, katakanlah bahwa Allah itu ESA, setelah itu carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Hai orang-orang yang beriman bertakwa-lah kepada Allah, carilah jalan (wasilah)supaya dekat kepada-Nya dan berjihadlah di jalan Allah supaya kamu berjaya
( AL MAIDAH 5 : 35 )

Wasilah menurut para sufi adalah sarana yang bisa mendekatkan manusia kepada Tuhan, berupa keimanan dan perilaku yang sholeh.  Tidak ada ketergantungan kepada guru mursid, karena guru mursid adalah juga manusia,  sesama hamba Allah yang tidak bisa dijadikan sarana wasilah

Sabda Rosulullah saw : 

  1. Berpeganglah pada Al Qur’an dan Sunah
  2. Tidak ada kewajiban bae’at bagi seorang muslim
  3. Urusan dunia engkau lebih tahu, tata cara beribadah ikutilah cara-ku
  4. Pembersih qolbu adalah DZIKIR
  5. Dzikir adalah jalan terdekat menuju Allah
Jika mereka tetap ( istiqomah ) menempuh jalan itu ( tariqat ) sesungguhnya akan kami beri air ( rizki, rahmat ) yang berlimpah-limpah ( AL JIN 72 : 16 )

Barang siapa menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah dan berbuat kebaikan, baginya pahala pada Tuhan-nya, tiada mereka ketakutan dan tiada mereka bersedih hati ( Al BAQARAH 2 : 112 )

Banyak jalan menuju kepada Allah, sebanyak bintang di langit, sebanyak ruh manusia itu sendiri. Seperti halnya jari-jari roda sepeda yang semuanya menuju ke titik pusat as. Titik Pusat As adalah Al Haqq, Yang Maha Benar, Allah Yang Maha Esa, yang akan memberikan penjelasan kepada kita semua mengenai apa-apa yang kita perselisihkan.  Kita pun harus berserah diri secara total kepada-Nya.

Untuk setiap umat, Kami telah berikan pola syari’at ( aturan ) dan jalan hidup yang benar ( tata cara pelaksanaannya ), sekiranya Allah menghendaki, pastilah kamu dijadikannya satu umat saja, namun Allah hendak mengujimu dalam hal karunia yang telah diberikan kepadamu, karena itu berlomba-lombalah untuk berbuat kebajikan, hanya kepada Allah tempat kalian kembali lalu Tuhan memberitahukan kepada kalian apa-apa yang kalian perselisihkan itu ( AL MAIDAH 5 : 48 )

Dan bagi setiap umat ada kiblatnya ( sendiri ) yang ia menghadap kepada-Nya.  Maka berlomba-lombalah kamu ( dalam berbuat ) kebaikan.  Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian.  Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segalanya ( AL BAQARAH 2 : 148 ).

Dari mana saja kamu keluar, maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhan-mu. Dan Allah tidak pernah lengah dari apa yang kamu kerjakan ( AL BAQARAH 2 : 149 )

Dan dari mana saja kamu keluar palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram, dan di mana kamu ( sekalian ) berada palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang dzolim di antara mereka.  Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.  Dan agar Ku- sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan agar kamu mendapat petunjuk ( AL BAQARAH 2 : 150 )    

KATAKANLAH (HAI MUHAMAD) : Kami beriman kepada Allah dan kepada yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Yaqub, dan anak cucunya dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun diantara mereka dan hanya kepada-NYA kami berserah diri ( ALI IMRAN 3 : 84 )

Dan mereka beriman kepada Kitab yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-Kitab yang telah diturunkan sebelum-mu, serta mereka yakin akan adanya akhirat
( AL BAQQRAH 2 : 4 )

KATAKANLAH : Barang siapa yang memusuhi Jibril, maka Jibril itulah yang telah menurunkan ( Al Qur’an ) ke dalam hatimu dengan seizin Allah, membenarkan apa ( Kitab-Kitab ) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman ( AL BAQARAH 2 : 97 )

Tidak ada hak bagi seorang Rosul medatangkan suatu ayat, melainkan atas izin Allah.  Bagi tiap-tiap masa ada kitab ( yang tertentu ) ( AR RAD 13 : 38 )

Bagi setiap umat ada Rosul, maka bila datang Rosul mereka, antara mereka diberikan keputusan dengan adil dan mereka tiada teraniaya ( YUNUS 10 : 47 ).
Kami tidak mengutus seorang Rosulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberikan penjelasan dengan terang kepada mereka
( IBRAHIM 14 : 4 ).

Allah telah menciptakan bermacam-macam umat. Untuk setiap umat ada Rosulnya yang memberi petunjuk dalam bahasa kaumnya.  Untuk setiap umat, Allah telah memberikan pola syari’at dan juga untuk setiap masa ada kitabnya sendiri, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi umat tersebut... Allah Maha Mengetahui segalanya sehingga menurunkan seorang Rosul dan Al Qur’an yang sangat sesuai dengan situasi dan kondisi untuk budaya jahiliyah di Arab saat itu...!!!   
Orang Eskimo di daerah Kutub Utara mempunyai tata cara beribadah tersendiri yang sesuai dengan situasi dan kondisi alam di sana. Daerah ini mendapat cahaya matahari hanya 6 bulan, yaitu pada saat matahari berada di wilayah utara khatulistiwa.  Waktu siang disini terasa begitu panjang.  Pada saat matahari berada di wilayah selatan khatulistiwa, selama 6 bulan tanpa matahari, malam hari pun terasa  panjang.  
                                                                                                                                                                                                                              Oleh karena itu konsep sholat yang 5 waktu akan sangat sulit untuk diterapkan  di daerah ini. Haruskah kita memaksakan konsep agama Islam di wilayah Eskimo??? Konsep agama Islam ini hanya cocok di wilayah yang mempunyai putaran waktu 24 jam sehari semalam, 12 jam siang dan 12 jam malam. Lalu apakah tata cara ubudiyah seperti orang Eskimo tidak akan diterima oleh Tuhan ??? Apakah kita sebagai umat yang beragama Islam berhak mengatakan bahwa mereka yang non muslim itu adalah kafir ??? Sesungguhnya apa dan siapa yang disebut kafir?? Kafir artinya adalah menutupi. Arti kiasan bagi siapapun dan apapun agamanya, bila dia menutupi suatu kebenaran maka disebutnya orang kafir.
Lalu apakah orang Eskimo beserta umat lainnya yang non muslim akan masuk neraka semua??? Itu semua urusan Allah dan Allah adalah Al Alim, yang memiliki semua ilmu.  Semua tata cara syari’at setiap umat berasal dari Allah.  Setiap umat memiliki kiblatnya masing-masing. Semua umat sama di hadapan Allah.  Yang berbeda adalah kadar keimanan dan ketakwaannya.  Namun untuk umat Muhammad Allah memberikan ketentuan lain, sehingga ada keseragaman di dalam tata cara beribadah yang sudah dibakukan, yaitu pada saat sholat di manapun umat Islam itu berada, harus menghadap ke Masjidil Haram.   Hal ini sebagai salah satu penjelasan bahwa Allah telah menyempurnakan syariat Islam ajaran Muhammad. 
Pada awal perjalanan menuju kepada Allah tidak harus sama, tata cara syari’at, tata cara beribadah setiap umat bisa saja berbeda-beda, dengan demikian pengalaman bathin yang terjadi pasti akan berbeda-beda pula, sebagaimana halnya bila kita melakukan pendakian dari arah yang berbeda.  Pada saat kita semua bersama-sama telah berada di puncak kemudian melihat ke bawah, maka apa yang kita lihat pasti akan sama.  Misalnya bila kita melihat Istana Negara dari arah yang berbeda, tentu saja apa yang kita lihat akan berbeda pula, akan tetapi bila kita sama-sama melihatnya dari atas tugu Monas tentu apa yang kita lihat akan sama.

Bila kita  berada di tempat yang lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, Istana Negara serta seluruh benda yang ada di atas bumi ini akan nampak semakin kecil bahkan selanjutnya akan hilang sama sekali dari pandangan mata lahir kita, yang ada hanyalah kekosongan semata. Akan tetapi bila mata lahir tersebut kita pejamkan, maka istana tersebut akan tampak kembali, karena mata bathin bisa menembus ruang dan waktu…  

Tuhan ada.  Dia berdiri dengan sendirinya tanpa pertolongan dari siapapun. Tidak ada apa-apa di sisiNya. Tidak ada swara ataupun nada.  Tidak ada aksara.  Tidak ada kitab apapun di sisiNya.  Zabur, Taurat, Injil, Qur’an dan Hadits pun tidak ada.
Oleh karena itu bila kita ingin menghayati perjalanan Haqiiqat, mulai dari bentuk-bentuk lahiriyah kepada makna yang haqiqi dan tersembunyi, tutuplah mata dan telinga, tutuplah semua kerangka teoritis tentang masalah Dzat yang tidak bisa terjangkau oleh akal dan pikiran kita ( transenden ).  

KATA JALALUDDIN RUMI :

Bila makrifat kepada Dzat ingin kau dapat, lepas aksara, galilah makna. Katupkan bibirmu, tutup matamu, sumbat telingamu, tertawakan aku manakala engkau tidak MELIHAT RAHASIA AL HAQ…  

Secara tidak langsung Rumi menganjurkan agar kita berdzikir-bermeditasi sesuai ajaran Rosulullah saw bahwa dzikir-meditasi adalah jalan terdekat menuju Allah..

Tutup semua kitab.. Tutup semua panca indera kita.  Bukalah mata hati, maka tak ada yang perlu untuk diperdebatkan lagi.
Seseorang bisa saja kehilangan objek pemujaannya, akan tetapi Yang Dipuja tidak akan kehilangan Dirinya Sendiri. Dia Maha Mengetahui siapa pemujanya.  Dia Maha Mengetahui atas segalanya...

Tanda-tanda Kami disegenap penjuru, dan didalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar... (  FUSHSHILAT 41 : 53 ) …

...di dalam dirimu, apakah engkau tidak memperhatikan ( ADZ-DZARIYAT 51 : 21 ).  

Setelah AKU sempurnakan kejadiannya AKU hembuskan Ruh-KU kepadanya

( AL HIJR 15 : 29  dan ASH-SHAD 38 : 72 )

RUH-KU BUKAN RUH CIPTAANKU itu berarti ESSENSI DZAT ILAHIAH bersemayam, IMANEN di dalam semua CIPTAAN-NYA DI ALAM SEMESTA… Di dalam diri manusia, di dalam hewan dan tumbuh-tumbuhan, di dalam patung, di dalam batu, di dalam atom sebagai SUMBER ENERGI DI ALAM SEMESTA.  

DIA berada dimana-mana, namun dalam Ke-esaan-Nya DIA tidak kemana-mana… Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.. Oleh karena itu silahkan pilih sendiri jalan yang mana, agama apa yang kita inginkan, sesuai dengan keyakinan kita.  Yang disembah bukan namanya akan tetapi DZATNYA sebaga ESSENSI yang bersemayam di dalam setiap ciptaan-Nya…

Jadi jangan beranggapan Agama Animisme itu sesat...bukan batunya atau pohonnya yang disembah namun ESSENSI dzat Allah yang bersemayam di dalam setiap ciptaanNYA..

Para sufi mengatakan bahwa seorang arif adalah dia yang melihat Tuhan dalam semua benda atau makhluk. Dia tidak hanya melihat Tuhan dari semua benda atau makhluk, akan tetapi dia juga melihat semua makhluk adalah merupakan realitas dari pada Tuhan.. Itulah yang oleh para Sufi disebut sebagai TAUHID DZAT... TAUHID YANG HAKIKI… TAUHID MURNI…

AS SYIBLI : Aku tidak melihat segala sesuatu kecuali Allah…

MUHAMMAD BIN WASI : Aku tidak melihat segala sesuatu tanpa Allah di dalamnya…

Oleh karena itu, kata Al Ghazali :

  • Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhan-nya.  Barang siapa mengenal Tuhannya, maka dia merasa dirinya bodoh.  Barang siapa mencari Tuhan keluar dari dirnya maka dia akan tersesat semakin jauh..
  • Tauhid murni adalah penglihatan atas Tuhan dalam semua benda …Bila kita tidak menyadari adanya unsur-unsur keillahian yang tersembunyi di dalam setiap ciptaan-Nya berarti islamnya adalah islam semu…
Dia ada di mana-mana, namun dalam ke-Esa-an-Nya Dia tidak ke mana-mana.  Itulah  sifat dualitas Allah dalam ke-Esa-an-Nya.   Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.  Oleh karena itu silahkan pilih sendiri jalan yang mana, agama apa yang kita inginkan, sesuai dengan keyakinan kita. 

Tuhan pun berfirman :                                                                                                            
Sesungguhnya agama kamu ini satu agama saja ( AL ANBIYA 21 : 92 )
Agama di sisi Allah adalah Islam-Fitrah ( ALI IMRAN 3 : 19 )
Aku ridhoi Islam-Fitrah sebagai agama bagimu ( AL MAIDAH 5 : 3 ).
Tuhan kami dan Tuhan-mu adalah satu dan hanya kepada-Nya kami berserah diri
( AL ANKABUT  29 : 46 )

Tidak ada paksaan dalam ajaran Islam (AL BAQARAH 2 : 256).    
Menjadi orang Islam (Islam-Fitrah) bukan berarti kita menjadi orang yang kehilangan kepribadian.  Kita tidak harus menjadi orang Arab atau ke Arab-Araban dan juga bukan karena pakaian kita menjadi orang Islam.  Sesungguhnya sebaik-baiknya bekal, sebaik-baiknya pakaian adalah taqwa, bukan jilbab dan bukan pula baju gamis.   

Perhatikan Firman-firman Allah berikut ini :
Sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal ( AL BAQARAH 2 : 197 )

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan dan pakaian taqwa itulah yang paling baik, yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat  ( AL A’RAF 7 : 26 ) 

Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah dia yang paling takwa di antara kalian ( AL HUJURAT 49 : 13 ).

Prinsip Islam adalah keimanan, ketakwaan, kesucian, keselamatan, kedamaian, kasih sayang, kesabaran dan keikhlasan serta berserah diri kepada Allah.   Islam adalah fitrah manusia dan semua agama mengajarkan tentang Fitrah.  Sekali lagi tidak ada paksaan dalam ajaran Islam (AL BAQARAH 2 : 256).  Hanya saja, kata Rosulullah saw : Dzikrullah adalah jalan yang terdekat menuju kepada Allah.  Menurut Al Qur’an : Dzikrullah lebih utama dalam kehidupan ( AL ANKABUT 29 : 45 ), dengan dzikir hatipun akan menjadi tenang dan tenteram (  AR RAD 13 : 28 ).    Adz-Dzikir  adalah  Al Qur’an   (  AL HIJR 15 : 9 ).  Al Qur’an adalah An Nuur  ( ASY- SYURA 42 : 52 ) dan  An Nuur adalah Allah ( AN NUUR 24 : 35 ).  Berarti Adz-Dzikir adalah Allah… Bila kita berdzikir dengan menyebut Asma Allah maka Allah akan memperlihatkan Cahayanya…

Bagimu agamamu, bagiku agamaku ( AL KAFIRUN 109 : 6 )
Amalku untuk-ku dan amal-mu untuk-mu. Kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan, akupun tidak tidak bertanggung jawab atas apa yang kamu lakukan ( YUNUS 10 :  41 ).