Translate

tema 1

tema 1
tema

Rabu, 05 Desember 2012

ADAKAH REINKARNASI DI DALAM AL QUR’AN REVISI 18 FEB 2018








ADAKAH
REINKARNASI
DI  DALAM AL QUR’AN

Edisi revisi
18 Februari 2018


Disusun oleh

Dr. H MAMAN SW Sp OG
http: //www.slideshare.net/drmaman
http : //www.drmamanspog.blogspot.com




Tuhan menjadikan manusia berkeinginan,
Cinta terhadap wanita, putera-puteri,
Emas-perak, kuda pilihan, ternak, sawah-ladang,
Semuanya itu hanya secuil kesenangan hidup di dunia saja
Namun Allah-lah seindah-indahnya tempat untuk kembali
 (ALI IMRAN 3 : 14)


Janganlah kamu mengira orang-orang yang meninggal di jalan Allah itu mati,
Tidak…!!!  Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan mendapat rizki
 ( ALI IMRAN 3 : 169 )

Allah yang meninggikan langit tanpa tiang yang tampak olehmu
Kemudian Dia bersemayam di atas arasy
dan menundukan matahari dan bulan,
masing-masing beredar sesuai waktu yang telah ditetapkan
Tuhan mengatur segala urusan
dan menjelaskan tanda-tanda kebesaran-Nya
agar kamu meyakini pertemuan dengan Tuhan-mu
 ( AR-RA’D 13 : 2 )


PULANG KAMPUNG

Goresan penaku adalah gelora jiwaku yang resah gelisah
yang mengalir dari sungai kehidupanku
menuju samudera keabadian
Ku cari bumi pelarian dengan dada yang senantiasa berdesah
Geram tenggelam kelam dalam keranda jalang malam jahanam
Akhirnya terhempas tinggal ampas
Hati menjerit merintih ke langit
Menggelepar atas angan-angan yang panjang
Ku coba mencari Cahaya Yang Hakiki
Meniti gili-gili menyusuri tepian kali
Menapak jejak leluhur
Disini air dan darah ibuku tertumpah
Tanah kelahiran … Lembut menyambut
Mesra membelai mereka yang istirah dan tetirah
Kerinduanku …
bergayut pada pucuk-pucuk pohon jambu
bersama Yoyo, Edi, Uhi dan Dudung
Di tanah ini ku rasakan kedamaian
Kesadaran ku menggeliat…. Sumerah pasrah
Aku harus berpacu dengan waktu
Matahari-ku … pasti berlalu
Langit ku telah senja… lembayung sutera
Ibu Ayu…. Aku pun lelah sudah
Janganlah kau kutuk… bila aku mengantuk
Di haribaanmu… biarkan tidurku lelap
Tugel rasa… as nyawa putih
Badan rebah…. ruh ngadeg
Purkutut… paksi mabur… kurungan katut
Dzat hilang tanpa kumpulan
Kahanan jati ning ora
Ya Ingsun Badan Kasirnaan…
Nur Haq… Nur Kudrat …Kun Dzat
Mulia Sampurna
                         Mulih ke jati… pulang ke asal… pulang ke Rahmatullah                        
Aku datang… Ya Allah… Aku datang


Cierebon, malam tahun baru 31 Des. 1999






DONGENG PENDAHULUAN

Bismillaahirrahmanirrahiim…
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Robbi atas segala rahmat dan nikmat serta hidayah-NYA yang telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima pada bulan April 1998 (Dzulhijah 1419). Penulis ikut rombongan jemaah haji dari pesantren Yayasan Al Amanah Cililin Bandung, dibawah bimbingan Bapak Drs K.H. A. Manshur bin K.H. Makmun.  Beliau pernah bermukim di Mekah selama tujuh tahun…

Pada saat di Mekah, kami berziarah ke MA’LA, tempat pemakaman umum bagi kaum Muslimin termasuk para jema’ah yang meninggal di Mekah . Tempatnya datar seperti lapangan tanpa rumput, hanya ada batu-batu sebesar kepala sebagai tanda bahwa di bawahnya ada makam. Setiap lubang makam berisi lebih dari satu orang, bisa sampai 5-6 orang.  Lubang makam dindingnya dibeton, setelah dimakamkan setahun, lubang tersebut digali kembali, dikosongkan untuk pemakaman berikutnya.  Sisa tulang belulangnya entah dibuang kemana.  Dengan demikian tempat pemakaman ini dari sejak dahulu sampai sekarang luasnya tetap, tidak berkurang dan tidak juga bertambah.  

Menurut keterangan Bapak Drs. K.H. Manshur ada jenazah seorang ulama besar dari Indonesia yang sangat terkenal yang wafat dan dimakamkan di pemakaman ini, yaitu Sech K.H. Nawawi al Bantani (dari Banten Jawa Barat).  Makam beliau pernah beberapa kali dibongkar ternyata jasadnya dan kain kafannya masih tetap utuh.  Untuk menghormati beliau, maka makamnya tidak pernah dibongkar lagi.

Sebelum kembali ke tanah air, kami sempat tinggal di Medinah selama 8 hari.  Pada suatu hari di masjid Nabawi Medinah, sambil menunggu sholat dzuhur, penulis sempat berbincang-bincang dengan sesama jema’ah yang berasal dari Balikpapan, yaitu Bapak H. Tony Suryaatmaja SE dan Bapak H. Abd. Radjak dari Tarakan Kalimantan Timur.

H. Tony S. SE ini menceritakan pengalaman anehnya yang terjadi pada saat di Masjidil Haram, Mekah.  Setelah beliau selesai mengerjakan putaran ke tujuh thowaf haji, sambil berjalan beliau berdo’a dan bersyukur, kedua tangan terangkat disertai pandangan mata lurus ke arah depan.   Pada saat itu dia terkejut karena tidak jauh di hadapannya ada seseorang yang menoleh, melihat dan tersenyum kepadanya.  

Orang tersebut wajahnya sangat mirip sekali dengan wajah mertuanya (Bapak Mertua) yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.   Mertua beliau ini semasa hidupnya dikenal sebagai seorang ulama tempat bertanya bagi masyarakat di sekitarnya bahkan sampai ketempat yang jauh-jauh.  

Mertua ini meninggal dengan cara yang aneh tapi nyata, dimana pada saat jenazahnya menyentuh tanah, jasadnya langsung hilang, yang tertinggal hanya kain kafannya saja. H. Tony S. merupakan saksi mata, karena dia sendiri yang mengatur posisi kepala mertuanya agar menghadap ke kiblat dan mencium tanah. Saksi lainnya yang turun ke liang lahat adalah anaknya yang laki-laki serta adik mertuanya.  

Agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, maka dengan secepatnya dilakukan penutupan dengan papan seperti biasa dan segera ditimbun dengan tanah. Kejadian tersebut sangat dirahasiakan oleh mereka bertiga, sampai terjadi peristiwa di Mekah.  

Perlu kita ketahui bahwa mertua H. Tony  S ini berasal dari daerah Martapura – Kalimantan Selatan, dan pernah berguru kepada Sech al Banjari, mungkin keturunannya.  Sech al Banjari ini dikenal sebagai salah seorang wali Allah yang bermukim di martapura sampai wafat dan dimakamkannya juga di Martapura, kebetulan penulis pernah bertugas di sana. Menurut keterangan para sesepuh di Martapura, salah satu dari keturunan Sech al Banjari ini pasti ada yang menjadi wali.

Dengan demikian ada 2 versi cara kematian yang sangat kontras yang diperlihatkan atau yang dikisahkan  kepada kami yang terlibat dalam obrolan pada saat itu. Ulama yang pertama dikisahkan meninggal dengan jasad dan kain kafannya yang tetap utuh, ulama yang kedua dikisahkan oleh saksi mata di liang lahat, setelah jenazahnya mencium tanah kemudian jasadnya menghilang. Kami hanya bisa berucap Allahu Akbar, Maha Suci Engkau, sesungguhnya kami orang yang dzolim.  

Untuk beberapa saat suasanapun menjadi hening … Apa … Mengapa … dan Bagaimana ilmunya …???  Mana yang terbaik dari keduanya …???  Itulah yang menjadi pertanyaan kami… Semua ilmu adalah milik Allah.
Menurut Al Ghazali : Semulia-mulianya ilmu adalah ilmu mengenal Allah …
Laa illaaha ilallaah … Laa adalah tiada .. Keakuan kita musnah, dunia dan sekitarnya juga lenyap, fana … yang ada hanya Allah … Dia ada. Tiada sesuatu apapun disamping NYA …

Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah-Nya  (AL QASHASH 28 : 88).
Kita semua milik Allah, akan kembali kepada Allah (AL BAQARAH 2 : 156).
Janganlah engkau mati kecuali dalam keadaan berserah diri (ALI IMRAN 3 : 102).

Atas dasar ayat-ayat tersebut di atas, maka yang disebut kembali kepada Allah itu seharusnya bagaimana ??? Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah itu yang bagaimana ??? Manakala kita berserah diri kepada Allah, masih adakah rasa ke-aku-an dalam diri kita ??? Bukankah rasa keakuan merupakan dosa sirik yang tersembunyi ?? Apakah hal itu tidak akan merusak keikhlasan dan keimanan kita ??? Masih adakah rasa ke-aku-an di dalam diri kedua ulama yang dikisahkan di atas ???

Muhammad Rosulullah S.A.W bersabda :
Mintalah fatwa kepada hati nuranimu sendiri, meskipun orang lain telah memberimu fatwa, meskipun orang lain telah memberimu fatwa, meskipun orang lain telah memberimu fatwa …
Yang terbaik adalah yang menentramkan ruhaniDemikian kata Rosulullah.
Al Qur’an sendiri mengatakan agar kita senantiasa berpikir, berpikir dan berpikir, apakah engkau tidak mengetahui. Berarti untuk kedua kasus diatas, mana yang terbaik silahkan pikirkan sendiri …

Oleh karena itu, penulis tidak merasa berhak untuk memberikan penilaian  kepada kedua ulama tersebut. Walau bagaimanapun, untuk mencapai tingkatan seperti kedua ulama tersebut tentu bukan suatu pekerjaan yang mudah. Apakah ada pelajaran khusus yang dimiliki oleh kedua ulama tersebut ??? Siapa gurunya ??? Kemana mencarinya ??? Seandainya Allah berkenan memberikan sedikit pengetahuan kepada kita yang awam ini agar bisa mengetahui mengenai hari H kita. Hal itu sudah merupakan suatu bonus yang luar biasa bagi kita yang harus kita syukuri sekali … Apalagi kalau kita bisa seperti kedua ulama tersebut.

Akhirnya obrolan pun bergeser ke masalah ada tidaknya reinkarnasi dalam ajaran Al Qur’an. Sebagian besar dari umat Islam agaknya tidak mempercayai adanya reinkarnasi ini. Akan tetapi bagi mereka yang beragama Hindu, Budha atau mungkin juga ajaran Kong Hu Cu, justru sebaliknya, mereka percaya akan adanya reinkarnasi dalam siklus kehidupan berikutnya.

Mungkin kita pernah membaca mengenai kematian Dalai Lama yang bernama Lama THUBTEN YESHE, kemudian muncul kembali ber-reinkarnasi pada seorang anak laki-laki yang bernama OSEL di negara Spanyol. Konon kabarnya, kedua orang tua si anak tersebut adalah penganut agama Dalai Lama Tibet. Silahkan baca buku Mackenzie tentang reinkarnasi.

Ada suatu kisah populer yang pernah terjadi di dalam lingkungan keluarga penulis. Kisah itu pun pernah disampaikan oleh ayahanda almarhum kepada penulis setelah penulis dewasa.  Kisah itu terjadi pada saat acara khitanan kakak penulis yang bernama Yahya Zakaria Wiriaatmadja (almarhum).  
Sebagai tradisi khitanan di daerah kami di Jawa Barat, pada umumnya hewan yang disembelih saat mengkhitan anak laki-laki adalah seekor ayam jantan yang disebut sebagai “bela”.  Namun untuk perjamuan tersebut, ayahanda almarhum telah mempersiapkan juga seekor sapi jantan yang besar, berwarna coklat kehitam-hitaman, benar-benar gagah, mirip seekor banteng.

Pada saat direbahkan akan disembelih, sapi jantan tersebut meronta-ronta, mengamuk walaupun akhirnya dia menyerah juga.  Kemudian keajaiban pun terjadi, ternyata sapi itu kebal.  Golok jagal yang dipakai untuk menyembelih lehernya, ternyata tidak bisa melukai sapi tersebut, goloknya seperti tumpul.  Akhirnya sang jagal pun menghadap dan melaporkan kejadian aneh bin ajaib tersebut, sambil menyerahkan goloknya kepada ayahanda almarhum.

Atas kejadian itu sesungguhnya ayahanda pun agak terkejut, beliaupun teringat akan sesuatu yang kemudian beliau rahasiakan kepada siapapun termasuk kepada jagal tersebut.  Golok pun diterima dan dibawa ayahanda masuk ke dalam kamar, kemudian beliau berdo’a memohon keridhoan Allah.  Setelah selesai berdoa golok tersebut diserahkan kembali kepada jagal yang akan mengerjakan penyembelihan …
Sang sapi pun ternyata tidak meronta-ronta lagi, terkesan pasrah dan mengeluarkan air mata, sehingga orang-orang yang menyaksikan pun merasa aneh, bahkan ada yang berkata : Sapinya kok menangis, seperti manusia saja !? … Selanjutnya penyembelihan bisa dikerjakan dengan mudah sekali…

Yang dirahasiakan oleh ayahanda almarhum adalah bahwa pada malam sebelumnya ayahanda pernah bermimpi didatangi seorang laki-laki dengan perawakan yang gagah, kumis melintang dan berpakain seperti seorang jawara.  Setelah uluk salam, si orang ini memohon dengan sangat agar dia “disempurnakan” oleh ayahanda. Kemudian malam hari setelah penyembelihan itu, ayahanda pun bermimpi didatangi orang itu lagi, dia mengucapkan terima kasih kepada ayahanda karena dia telah “disempurnakan”, kemudian dia mohon diri dan langsung pergi …
Menurut ayahanda, almarhum kakek juga pernah melakukan proses “penyempurnaan” pada 2 ekor kambing yang disembelihnya, dimandikan kemudian dikafani dan dikuburkan.

Ketika ayahanda dalam keadaan sakit parah karena kanker usus, penulis masih ingat saat beliau dirawat di Rumah Sakit, beliau sempat memberi wejangan kepada penulis bahwa beliau tidak akan meninggal di Rumah Sakit dan seandainya pulang kehadirat Allah pun dia akan pulang pada hari Jumat.  Kemudian beliau menambahkan bahwa sekarang ini dia sedang menunggu satu tanda lagi, dimana bila tanda itu datang berarti hari yang tersisa hanya tinggal 1 hari saja dan mungkin tidak akan sempat bertemu lagi.  Pada waktu itu penulis tidak berani bertanya hari Jumatnya adalah Jumat yang mana, Jumat yang kapan ??? Ternyata memang beliau meninggal dunia pada hari Jumat 28 Desember 1984 pukul 04.00 WIB dan memang penulis tidak sempat berjumpa lagi dengan beliau.

Selanjutnya ayahanda almarhum pernah mengatakan bahwa dia tidak mau kalau harus menitis kembali (reinkarnasi), alasannya adalah bahwa perjalanan melalui reinkarnasi itu sangat melelahkan, karena jadi bodoh lagi, sehingga harus merayap lagi dari bawah, apalagi bila lahirnya di kolong jembatan … jadi anak gembel … Seandainya dilahirkan sebagai anak konglomerat pun belum tentu bisa hidup enak.

Beliau berpesan : Bila saatmu tiba, kamu pulang jangan sampai kesasar.  Situasi ayah sudah tidak mungkin untuk memberikan pelajaran ini, maka sebaiknya kamu harus mencoba mencari pelajaran tersebut di Cirebon, mudah-mudahan di Cirebon masih ada yang memiliki pelajaran ini, walaupun sangat sedikit sekali kemungkinan untuk mendapatkannya …Demikian pesan terakhir almarhum yang disampaikan kepada penulis…Dari kata-kata beliau, penulis mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan beliau memiliki pelajaran khusus untuk maksud tersebut …
Semoga Allah membimbing penulis dengan Cahaya-Nya kepada Cahaya-Nya.
Amin … Amin … Ya Robbal Alamin …




SEBUAH IJTIHAD

Ketiga kisah tersebut menjadi dorongan bagi penulis untuk membuka kembali setiap lembar Al Qur’an, terutama yang berkaitan dengan masalah ruh dan reinkarnasi. Sebelumnya memang penulis pernah menggaris bawahi beberapa ayat yang berkaitan dengan masalah ruh dan masalah reinkarnasi ini, namun hati penulis masih merasa belum pas, karena buku-buku tinjauan kepustakaan mengenai masalah ini sangat sulit di dapat. Apalagi di kota kecil seperti di Cirebon, walaupun sekarang di Cirebon sudah ada Toko Buku Besar Gramedia.

Pada suatu hari secara kebetulan, penulis mendapat pinjaman sebuah foto copy dari buku karangan H. E Semedi yang berjudul “SEBUAH IJTIHAD”. Ternyata materi isi buku tersebut adalah bahasan mengenai reinkarnasi berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an yang agaknya selama ini kurang diperhatikan bahkan tidak dipercayai oleh sebagian besar umat Islam.

Hanya sayang sekali foto copy buku yang saya terima itu tidak mengikut sertakan baik nama percetakannya ataupun nama penerbitnya. Walaupun tulisannya sudah agak kabur, karena hasil foto copy buku yang difoto copy ulang, namun masih bisa dibaca dan sangat bermanfaat sekali bagi penulis. Buku tersebut telah membuka wawasan penulis serta menambah keyakinan penulis mengenai betapa universalnya dan betapa sempurnanya ajaran Islam di dalam Al Qur’an. Untuk itu penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada pengirim buku tersebut dan juga kepada penulisnya, yaitu H. E. Semedi.

Oleh karena kondisi tulisan foto copy tersebut sudah mengabur, maka penulis berusaha membuat ringkasannya saja serta tanpa mengurangi rasa hormat penulis pada H. E. Semedi, penulis juga memberikan beberapa catatan sesuai dengan apa yang ditulis oleh Semedi sendiri dan juga sesuai dengan keyakinan penulis.

Di dalam buku tersebut, menurut H. E. Semedi, setiap manusia akan ber-reinkarnasi atau dilahirkan kembali menjadi manusia harus melalui rahim manusia juga. Manusia tidak akan dilahirkan kembali menjadi hewan melalui rahim hewan.  Dalam hal ini mungkin beliau khilaf bahwa bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tidak mungkin. Allah-lah yang Maha Kuasa atas segalanya. Allah yang menghidupkan, yang mematikan dan Allah juga yang menghidupkan kembali. Allah yang berkuasa untuk merubah dan memberi kita bentuk, apapun bentuknya.

Kami menentukan kematian di antara kamu dan Kami berkuasa merubah rupa kamu dan menciptakan ( kembali ) dalam ( bentuk ) yang tidak kamu ketahui  
(AL WAAQI’AH 56 : 60-61).

Hai manusia, apa yang memeperdayakan kamu terhadap Tuhan-mu Yang Maha Pemurah, yang menciptakan kamu, lalu membentuk dan menyempurnakan kamu dalam bentuk yang dikehendaki-Nya Dia membentuk tubuhmu  
(AL INFITHAAR 82 : 6-8).
Lalu Kami berfirman kepada mereka  : JADILAH KAMU KERA !!!
(AL BAQARAH 2 : 65).
Tatkala mereka melanggar apa yang dilarang baginya, kepadanya : JADILAH KAMU KERA YANG DIJAUHI DAN DI BENCI ( AL-A’RAF 7 : 166 ).
… Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ( ada ) yang dijadikan kera dan babi … ( AL MA’IDAH 5 : 60 )

Walaupun mungkin yang dimaksud adalah perubahan moralnya menjadi seperti kera, akan tetapi bila Tuhan menghendaki orang durjana itu dilahirkan kembali melalui rahim kera, kemudian hidup menjadi seekor kera, maka siapa yang kuasa mencegah kehendak Allah.

Sedangkan H. E. Semedi sendiri berpendapat bahwa bila seseorang dilahirkan kembali ke dunia, reinkarnasi, dengan jasmaninya yang baru ini, maka identitas orang tersebut bisa berubah. Kebangsaannya atau kaumnya dan jenis kelaminnya pun bisa berubah. Berarti menjadi se-ekor hewanpun seharusnya bisa.  Bila Tuhan menghendaki, bentuk apapun bisa terjadi.

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.  Dia memberikan anak perempuan kepada yang Dia kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada yang Dia kehendaki  (ASY-SYUURA 42 : 49).

Tidak Aku sia-siakan amal siapapun yang beramal, baik laki-laki atau perempuan .  Kamu berasal satu daripada yang lain. (ALI IMRAN 3 : 195).

Pembahasan mengenai reinkarnasi ini tentu akan mencakup masalah ruh, masalah alam akhirat, masalah kurun waktu di alam akhirat yang semuanya itu tidak bisa dibuktikan secara nyata.  Selain itu juga menyangkut masalah ayat-ayat Al Qur’an yang mutasyabihaat, yang mengandung kiasan-kiasan dan perumpamaan-perumpamaan. Untuk mentafsirkan ayat-ayat tersebut diperlukan suatu pengkajian dan penghayatan yang sangat mendalam.
Masalah kita harus percaya atau tidak akan adanya reinkarnasi, itu tergantung kepada diri pribadi masing-masing.  Islam mengajarkan agar kita berani berijtihad, berani untuk mengajukan pendapat masing-masing.  Terserah lu…EGP bro…

Barang siapa berijtihad, apabila dia benar, maka baginya dua pahala dan apabila salah, maka baginya satu pahala ( Hadits Rosulullah SAW ).

Setelah kita mengetahui adanya reinkarnasi berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an, maka menurut pendapat penulis, yang penting adalah mencari dan mempelajari ilmunya, bagaimana tata cara pelaksanaan pengamalan dan penghayatannya, sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunnah, sehingga kita hidup di dunia ini tidak membabi buta, serta kita bisa selamat sampai kembali kepada Illaahi Robbi.

Bila kita buta di dunia, maka di akhirat pun akan buta. (AL ISRA 17 : 72).
Sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam keadaan buta. (THAAHAA 20 : 124).

Oleh karena mereka buta, maka Ruh mereka tersesat masuk ke rahim hewan, sehingga mereka terlahir kembali ke dunia ini sebagai hewan. Hal itu adalah merupakan hukuman dari Allah, sesuai dengan amal dan perbuatannya tatkala mereka hidup di dunia dimana perbuatannya lebih hina dari hewan.
Bagi mereka yang beriman kepada Allah semata, maka Allah akan membimbing dengan Cahaya-Nya kepada Cahaya-Nya.  Mereka akan mendapat keridhoan Allah dan mendapat ucapan selamat dari Allah.

Cahaya di atas Cahaya, Allah menuntun kepada Cahaya-Nya kepada yang dikehendaki-Nya  (AN NUUR 24 : 35).

Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), datanglah kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan penuh keridhoan, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku. (AL FAJR 89 : 27-30).

Ucapan selamat dari Tuhan-mu. Salaamun qaulam mirobbirohiim (YAASIN 36 : 58).

Untuk mendapat taufik dan hidayah Allah, keridhoan Allah serta ucapan selamat dari Allah, tentu bukan suatu hal yang mudah.  Hal ini tergantung kepada kesabaran kita, keimanan, keikhlasan serta tetap (istiqomah) bertawakal semata-semata kepada Allah di dalam setiap menghadapi ujian dari Allah tatkala kita hidup di dunia.

Jika mereka tetap ( istiqomqh ) menempuh jalan ( tariqat ) itu, sesungguhnya akan kami beri air ( rizki, rahmat, makrifat ) yang berlimpah-limpah (AL JIN 72 : 16).

Adanya reinkarnasi ini justru untuk membuktikan kepada kita bahwa Allah itu Maha Pengampun, Maha Adil serta Maha Bijaksana. Mengapa demikian ??? Karena Allah akan memberi ampunan, katakanlah suatu grasi atau suatu remisi bagi manusia durjana sekalipun.  Islam tidak menganut paham Unforgiving God, kecuali bagi mereka yang mempersekutukan Allah … Demikianlah menurut H. E. Semedi.

Bila manusia itu mati maka ada tiga hal yang bisa menolongnya, yaitu : Amal kebaikannya, ilmu yang diamalkannya dan do’a anak yang soleh
( Hadits Rosulullah ).

Katakanlah : Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah yang akan mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(AZ-ZUMAR 53).

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa-dosa selain itu terhadap orang-orang yang diridhoi-Nya (AN NISAA 4 : 48).

Kami akan memasang timbangan yang adil untuk hari kebangkitan, sehingga tak ada orang yang rugi sedikitpun, biarpun amalan itu hanya seberat biji sawi, Kami akan memperlihatkannya dan Kami cukup sebagai penghisab. (AL ANBIYAA 21 : 47).

Sebaiknya bagi mereka yang soleh, mereka akan mendapat pahala di dunia dan di akhirat.  Walaupun mereka sudah meninggal dunia, do’a dan amal ibadahnya masih tetap tercatat sebagai tabungan di akhirat.  Contohnya adalah do’a Nabi Ibrahim atau do’a Nabi Muhammad yang memohon kepada Allah agar umatnya mendapat keselamatan di dunia dan di akhirat.  Do’a Nabi Muhammad ini bisa menjadi safa’at bagi umat yang senantiasa patuh dan ta’at mengikuti ajaran beliau.  

Demikian pula halnya dengan do’a para leluhur kita, ketika mereka masih hidup di dunia, do’a mereka telah tercatat sebagai tabungan di akhirat.  Atas izin dan keridhoan Allah tabungan tersebut bisa diterima oleh anak-cucunya sebagai karomah atau maunat, bila anak-cucunya patuh dan ta’at kepada Allah dan Rosulnya serta sering berdo’a untuk Rosul dan para leluhurnya, secara minimal memberikan hadiah Al Fatihah bagi rosul serta bagi para leluhur mereka yang sudah almarhum.

Mari kita perhatikan beberapa firman Allah dibawah ini :
Janganlah kamu mengira orang-orang yang meninggal di jalan Allah itu mati, tidak…!!! Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan mendapat rizki
(ALI IMRAN 3 : 169)…  Uenak buanget bro… Ga usah kerja gitu lo…!!!
Mereka ( Ruhnya ) tidak merasakan kematian di dalamnya ( akhirat ), kecuali kematian yang pertama ( di dunia )… (AD DUKHAAN 44 : 56).  Ruh tetap hidup disisi Tuhannya..

Pengertian rezeki dalam surat ALI IMRAN 3 : 169 sangat luas sekali, antara lain, misalnya karomah atau maunat, do’a beliau akan turun kepada anak cucunya apabila anak-cucunya patuh dan ta’at kepada Allah dan Rosulnya, serta sering menghadiahkan do’a, secara minimal membacakan Surat Al Fatihah bagi arwah baliau serta arwah para leluhurnya.

Dengan memperhatikan kedua ayat tersebut, bisa kita pahami bahwa yang mengalami kematian dan kehancuran adalah jasmaninya saja (kematian pertama), dari tanah akan kembali menjadi tanah, sedangkan di alam akhirat ruhaninya tidak akan merasakan kematian lagi.  Ruhaninya akan tetap hidup dan akan kembali ke alam ghaib.  Selanjutnya apakah Ruhani yang akan menjalani azab dan rahmat kubur…???  Ataukah jasmaninya dihidupkan kembali agar merasakan balasan dari Allah, kehidupan yang sempit di dunia ataukah kehidupan penuh barokah…???

Bila kita perhatikan Firman Allah : Setelah sempurna kejadiannya, Aku hembuskan Ruh-Ku kepadanya ( AL HIJR 15 : 29 ). 
Berarti setiap ruh itu merupakan Essensi Dzat Allah, dimana Dzat Allah akan tetap suci dan tetap bersih dari polusi duniawi.  Oleh karena itu Ruh pun akan tetap suci, sehingga apakah mungkin ruh mendapatkan siksa kubur…???


SURGA-NERAKA DIMANAKAH DIKAU


Apakah surga dan neraka itu hanya sekedar bahasa kiasan…??? Apakah hanya sekedar bahasa metapora…??? Apakah ayat-ayat tentang surga dan neraka itu adalah ayat-ayat mutasyabihat, yaitu ayat-ayat yang terselubung, penuh makna, bagaikan seorang gadis yang memakai cadar…???

Manusia itu ada jasmaninya,  ada Ruhnya dan ada nafsunya…
Yang masuk surga atau neraka itu jasmaninya, Ruhnya atau… nafsunya…????

JASMANI
Diciptakan dari lumpur, berarti manusia mmengandung unsur tanah dan air.  Manusia itu membutuhkan oksigen dari udara, sehingga tubuhnya hangat, berarti pada jasmani ada unsur api dan angin.  Setelah mati jasmaninya akan hancur dan kembali ke unsur semula. 

Ruh : 
Berasal dari DZAT ILAHI.. maka RUH TETAP SUCI..  Ruh tetap kekal tidak akan mengalami kerusakan dan kematian ...

Setelah sempurna kejadiannya, Aku hembuskan Ruh-Ku kepadanya
( AL HIJR 15 : 29 dan ASH-SHAD 38 : 72 ).. 

Pahami ayat ini secara universal…
Karena Islam ajaran dari Rosulullah saw adalah Rahmatan lil alamin, tidak sekedar untuk umat manusia tapi juga untuk seluruh alam semesta… Dengan demikian RUH-KU merupakan ESSENSI DZAT ALLAH yang imanen, yang bersemayam di dalam setiap ciptaan-NYA, di dalam atom sekalipun sebagai SUMBER ENERGI… RUH-KU tetap suci, tetap kekal abadi, tidak akan rusak dan tidak akan mengalami kematian.

Mereka ( Ruhnya ) tidak merasakan kematian di dalamnya ( akhirat ), kecuali kematian yang pertama ( di dunia ).. (AD DUKHAAN 44 : 56)..
Hadits Qudsi :
Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, oleh sebab cinta, Aku ingin dikenal, maka Aku jadikan makhluk ( Nur Muhammad ) agar ia mengenal akan Aku.
Hadits Rosulullah saw :
Aku adalah bapak dari segala ruh.
Aku berasal dari Cahaya Allah, semua yang ada di alam ini berasal dari cahaya ku.
Yang mula-mula dijadikan Allah adalah Nur Nabimu ya Jabir dan Allah jadikan dari Nur itu segala sesuatu dan engkau wahai Jabir adalah termasuk sesuatu itu. 
BERARTI RUH BERASAL DARI CAHAYA ALLAH


Karena Ruh itu merupakan Essensi Dzat Allah dimana Dzat Allah akan tetap suci dan tetap bersih tidak kena polusi duniawi.  Demikian juga Ruh, dimana Ruh pun akan tetap suci, Ruh akan tetap kekal, Ruh tidak rusak dan tidak akan mengalami kematian, karena Ruh berasal dari Dzat Allah.  Oleh karena itu apakah mungkin Ruh mendapatkan siksa kubur…??? 
 
Selanjutnya bila kita perhatikan Firman Allah : Setelah sempurna kejadiannya, Aku hembuskan Ruh-Ku kepadanya ( AL HIJR 15 : 29 ). 
BERARTI RUH ADALAH ESSENSI-SARI PATI DZAT ILAHIYAH YANG BERSEMAYAM DI DALAM SEMUA MAHLUK CIPTAANNYA…
Di alam semesta, di dalam hewan dan tumbuh-tumbuhan, di dalam diri manusia, di dalam batu, di dalam patung, di dalam ATOM
SEBAGAI SUMBER ENERGI…. Bila atom meledak Hirosima dan Nagasaki hancur

Karena Ruh itu merupakan Essensi Dzat Allah dimana Dzat Allah akan tetap suci dan tetap bersih tidak kena polusi duniawi.  Demikian juga Ruh, dimana Ruh pun akan tetap suci, karena Ruh berasal dari Dzat Allah.  Oleh karena itu apakah mungkin ruh mendapatkan siksa kubur…??? 

NAFSU :
KENAPA MANUSIA DIBERI NAFSU… ???  Karena Allah akan mengujinya...!!!

Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir ..  ( AL INSAN 76 : 1 - 3 )

Apakah manusia mengira cukup dengan berkata : kami telah beriman, dan mereka tiada di uji ? ( AL ANKABUT 29 : 2 )

Kami pasti akan menguji kamu sekalian dengan sesuatu berupa ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta benda, jiwa dan buah-buahan, tapi sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yang bila bencana menimpa dirinya dia berkata : sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada Allah kita akan kembali
( AL BAQARAH 2 : 155-156 )

Agar NAFSU terkendali maka diberi Amanah, Dibai’at dengan SYAHADAT…
karena Allah Maha Mengetahui bahwa manusia bersifat dzolim dan bodoh. 
Terbukti setelah lahir ke alam dunia manusia melalaikan amanah Allah, KARENA ADA NAFSU, sehingga manusia disebut INSAN yang artinya LALAI

Sesungguhnya telah kami tawarkan AMANAH kepada langit, bumi dan gunung-gunung, akan tetapi mereka semua enggan memikulnya, karena takut menghianatinya, namun  manusia bersedia memikulnya, karena manusia sungguh zalim dan bodoh  (AL AHZAB 33 : 72)
Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap  mereka ( seraya berfirman ) : Bukankah AKU TUHANMU…??? Semua jiwa ( anfusihim ) menjawab : Benar kami bersaksi   
( AL A’RAAF 7 : 172 )…

Semua umat manusia di dunia sudah muslim karena sejak di alam arwah.. sudah bersyahadat, sudah di bai’at Allah,  tak perlu lagi dibai’at oleh manusia…
Sabda Rosulullah saw : Berpeganglah pada Al Qur'an dan Sunnah agar selamat.. tidak ada kewajiban bai’at bagi seorang muslim.
ANFUSIHIM bentuk jamak dari NAFS.. NAFSU.. namun ada yang mengartikan NAFS sebagai JIWA dan ada juga yang mentafsirkannya sebagai RUH…  Secara logika yang diberi amanah, yang bersyahadat, yang bersaksi, yang dibai’at itu NAFSNYA, jiwanya, agar NAFS TERKENDALI, bukan jasmaninya dan bukan pula Ruhnya…!!!  Karena NAFS cenderung untuk berbuat jahat…

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat oleh Tuhan-ku, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
( YUSUF 12 : 53 )

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya-nafsnya dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya ( ASY-SYAM 91 : 9-10 ) 
Nafsu adalah dosa syirik tersembunyi.. Nafsu itulah berhala besar yang harus dihancurkan.   Bukan patung-patung di Purwakarta …!!!

Hujwiri sufi dari Persia berkata : Barang siapa yang mencampakkan hawa nafsunya maka Tuhan akan mendekatinya, meskipun ia berada dalam gereja.  Barang siapa yang mengikuti hawa nafsunya maka Tuhan akan menjauhinya,  meskipun ia berada di dalam mesjid….
Islam semu gitu loh …!!!
Sufi lain mengatakan bahwa bila kita berjalan mendekatkan diri kepada Allah maka Tuhan akan berlari mendekati kita …

RUH adalah ESSENSI DZAT ALLAH.. yang berada di dalam setiap Ciptaan-NYA..
Setelah AKU sempurnakan kejadiannya AKU hembuskan ruh KU kepadanya
( AL HIJR 15 : 29  dan ASH-SHAD 38 : 72 ).. maknai ayat ini secara universal

Tanda-tanda Kami disegenap penjuru, dan didalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar... (  FUSHSHILAT 41 : 53 ) …
...di dalam dirimu, apakah engkau tidak memperhatikan ( ADZ-DZARIYAT 51 : 21 ).  
Di dalam diri manusia ada  Yang Maha Melihat .. ( AL QIYAMAH 75 : 14 )

Berarti RUH adalah ESSENSI-SARI PATI DZAT ALLAH yang bersemayam, yang IMANEN di dalam semua mahluk ciptaan-NYA… Di alam semesta, di dalam hewan dan tumbuh-tumbuhan, di dalam diri manusia, di dalam batu, di dalam patung, di dalam ATOM SEBAGAI SUMBER ENERGI…. Bila atom meledak Hirosima dan Nagasaki hancur …

Oleh karena itu, kata Al Ghazali :  
1. Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhan-nya.  Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasa dirinya bodoh.  Barang siapa mencari Tuhan keluar dari dirinya maka dia akan tersesat semakin jauh…. Pertanyaan saya : Apakah mencari Tuhan ke Mekah tersesat…???  Apakah Allah ada di Mekah…???  Silahkan pikirkan sendiri


1.    2. Tauhid murni adalah penglihatan atas Tuhan dalam semua benda …Bila kita tidak menyadari adanya unsur-unsur keillahian yang tersembunyi di dalam setiap ciptaan-Nya berarti islamnya adalah islam semu….
2.   
AS SYIBLI : Aku tidak melihat segala sesuatu kecuali Allah…
MUHAMMAD BIN WASI : Aku tidak melihat segala sesuatu tanpa Allah di dalamnya…
Wajar bila para sesepuh kita bila hendak menebang pohon selalu minta izin, minta maaf dan berdo’a terlebih dahulu..  Berarti yang disembah bukan bendanya, bukan nama-NYA tapi essensi Dzat Ilahiyah yang ada di dalamnya.  Lalu bagaimana mereka yang menghancurkan patung-patung di Purwakarta.. ???  Seperti apa yang dikatakan Al Ghazali islamnya Islam semu.. islamnya masih islam-islaman…???

Namun di dalam Al Qur’an memang tidak dikatakan amanah itu apa… Apakah berupa tugas hidup di dunia sebagai apa…??? Ataukah amanah itu agama…???  Karena dunia adalah panggung sandiwara dan Allah adalah sutradaranya.   Dunia juga merupakan bangku sekolahan bagi semua Ruh agar naik tingkat untuk mencapai kesempurnaan melalui peran hidup kita di dunia sebagai apa…  
   
Sesungguhnya telah Kami tawarkan amanah ( agama…??? ) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, akan tetapi mereka semua enggan memikulnya, karena takut menghianatinya, namun manusia bersedia memikulnya, ia sungguh zalim dan bodoh sekali (AL AHZAB 33 : 72).

Bila kita perhatikan secara keseluruhan, maka setiap manusia seutuhnya akan memiliki jasmani, ruh dan nafsu.  Dalam keadaan sadar dia akan merasa sebagai manusia seutuhnya, karena ada jasmaninya, ada ruhaninya dan ada nafsunya… Dalam keadaan koma, pingsan atau tidur hanya ada jasmani dan rohnya. Pada orang mati hanya ada jasmaninya saja, ruh dan nafsunya tidak ada…

Bila jasadnya rusak, maka Ruh akan keluar meninggalkan jasad bersama nafsunya, yang disebut kematian.  Proses kematian dan pemusnahan hanya diderita oleh jasad. Ruh tidak terkena proses degenerasi dan proses pemusnahan. Ruh tidak mengenal kematian, karena pengertian RUH-KU adalah essensi dari Dzat Allah yang imanen dalam diri kita ( Al HIJR 15 : 29 dan AS SHAAD 38 : 72 ).

Mereka ( RUHNYA ) tidak merasakan kematian di dalamnya ( akhirat ), kecuali kematian yang pertama ( di dunia ).. ( AD DUKHAAN 44 : 56 ).. Ruh tetap hidup disisi Tuhannya…

Setelah jasad musnah, kemana Ruh akan pergi ??? Karena Ruh berasal dari Cahaya Allah…apakah Ruh akan kembali ke Cahaya asalnya ??? Kembali ke Cahaya asal disebut SWARGA, SWAR adalah Cahaya dan GA adalah kembali, seperti dalam film GHOST yang dibintangi Demi Moore, dimana ruh pacarnya dijemput oleh Cahaya… 
 Apakah Ruh juga akan dibangkitkan kembali untuk ber- reinkarnasi ???

Mari kita simak Firman Allah : 
Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhan-mu dengan suka cita dan penuh keridhoan… Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku ( AL FAJR 89 : 27-30 ).

Pengertian NAFSU dalam hal ini  mencakup amarah, luwamah, sufiah dan mutmainah. Semua umat Islam percaya akan adanya rahmat dan siksa kubur. 

Yang menjadi pertanyaan :
Bila yang dipanggil Allah itu MUTMAINAHNYA saja, maka yang akan mendapat azab kubur itu apanya …???  Apakah jasmaninya, Ruhnya ataukah amarah, luwamah dan sofiyahnya,???  Ruh tidak mungkin kena azab, karena Ruh tetap suci… Jasmani di kubur… hancur jadi tanah… Jasmani tanpa Ruh dan nafsu apakah bisa merasakan sakit dan pedihnya siksa kubur…???

Sebelum terjadi kiamat konon kabarnya Ruh mereka yang sudah mati berada di alam barzah…  Konon kabarnya proses pengadilan di Padang Masyar itu nanti setelah hari kiamat.  Jadi apa yang sedang dilakukan para Ruh orang-orang yang sudah mati itu saat ini…???  Apa yang sedang terjadi pada diri para Ruh mereka saat ini…??? Apakah mereka sudah masuk surga untuk mendapatkan pahala atau sudah masuk neraka untuk menerima siksa tanpa proses pengadilan…???

Di dalam Al Qur’an, gambaran di surga hanya ada kesenangan fisik antara lain : air yang mengalir, makanan dan minuman yang tidak memabukan, kasur-kasur yang empuk, gadis-gadis montok dan bidadari,  namun cowo maconya dan bidadaranya ngga ada…!!!  Jadi ibu-ibu rugi dong… di surga ngga ada pendampingnya…
Apakah mungkin Ruh tanpa jasmani tanpa nafsu bisa merasakan nikmatnya surga…??? Apakah Ruh ada kelaminnya…???  Silahkan jawab sendiri.
Gue sendiri bingung BRO… 

Bila Ruh ada kelaminnya, bidadarinya dan gadis montoknya mungkin hamil dan gue bisa praktek disana nolongin bidadari melahirkan.  Mungkinkah ayat-ayat tentang neraka dan surga itu adalah ayat-ayat mutasyabihat, hanya  bahasa kiasan atau bahasa metapora tentang kesusahan dan kesenangan hidup di dunia … ??? 
EGP aja lagi….

Surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya…mereka diberi buah-buahan… mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci ( AL BAQARAH 2 : 25 )

Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk ( AL WAQIAH 56 : 34 )
Dan gadis-gadis montok yang usianya sebaya ( AN NABA 78 : 33 )

Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangan, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan tidak pula oleh jin.
Maka nikmat ( SEX ) Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan
( AR-RAHMAN 55 : 56-57 )

Minuman dari gelas yang campurannya adalah air kafur( AL INSAN 76 : 5 )
Wedang jahe dari mata air salsabila( AL INSAN 76 :  17-18 ) 
Campuran khamr murni dari Tasnim ( AL MUTAFFIFIN 83 : 27 )

Minuman di surga air kapur dan wedang jahe…???  Kurang gizi…!!! Surga gitu loh…!!!  Namun menurut berita terkini, di zaman now, di surga sudah ada perbaikan gizi, sudah ada es cream magnum, capucino, fanta dan coca cola.  Nerakanya juga sudah dipasangin AC… Luaaarrr biasa… hehehe..

Daripada mereka di alam barzah bengong… maka wajar bila Allah menghidupkan mereka kembali ke alam dunia, bereinkarnasi untuk menerima balasan atas apa yang mereka lakukan di kehidupan mereka sebelumnya… Apakah azab yang pedih berupa kehidupan yang sempit ataukah kehidupan yang penuh berkah di dunia sebagai pahala dari Allah Yang Maha Adil, Maha Rahman dan Maha Rahim…??? Itu semua sebagai pembelajaran bagi semua Ruh di dunia untuk mencapai kesempurnaan… agar bisa kembali kepada Allah...

Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam keadaan buta ( THAHA 20 : 124 )

Mereka menetap di dalamnya ( neraka??? ), tidak akan diringankan baginya siksaan, dan tidak pula mereka ditunda (siksaannya), kecuali mereka kemudian bertaubat dan berbuat baik, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
( ALI IMRAN 3 : 88 – 89 ).... Taubat itu di dunia ataukah di akherat... ???

Setiap yang memiliki nafs (nafsin) akan merasakan kematian dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepada kamu ganjaranmu.  Barang siapa dipindahkan dari api (neraka) dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia memperoleh kemenangan dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan….( ALI IMRAN 3 : 185 ).  Surga itu kesenangan hidup di dunia yang memperdayakan..

Apakah mungkin taubat itu dilakukan di alam barzah…???  Taubat hanya mungkin dilakukan tatkala kita masih hidup di dunia…???  Sekotor apapun manusia, sebesar apapun dosa kita, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Rahman dan Maha Rahim…
Allah akan menerima siapapun yang kembali kepada-Nya… dan diberi ampunan, dilapangkan jalan kehidupannya dan diangkat kembali derajatnya.  Diangkat dari neraka dunia, dipindahkan ke surga, itulah suatu kemenangan...  Diangkat dari kehidupan yang sempit dipindahkan ke kehidupan yang menyenangkan namun juga memperdayakan, karena ada nafsu… sesuai Surat ALI IMRAN 3 : 185…

Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah yang akan mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (AZ-ZUMAR 53).

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa-dosa selain itu terhadap orang-orang yang diridhoi-Nya (AN NISAA 4 : 48).

Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-nya, hendaklah ia berbuat kebaikan dan jangan mempersekutukan Tuhan-nya dengan apapun
( AL KAHFI 18 : 110 ).

orang-orang yang beriman mintalah pertolongan dengan sabar dan Sholat, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar ( AL BAQARAH 2 : 153 )

Cahaya di atas Cahaya, Allah akan membimbing dengan Cahaya-NYA kepada Cahayanya bagi  yang Dia kehendaki ( AN NUUR 24 : 35 ).       

Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan memberi rizki dari arah yang tidak diduga … Allah akan memberikan kecukupan … akan dimudahkan segala urusannya … dihapus segala kesalahannya …serta dilipat gandakan pahalanya ( AT THOLAQ 65 : 2-3-4-5 ).

Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-NYA di waktu pagi dan petang, Dia akan mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada Cahaya yang terang
( AL AHZAB 33 : 41-43 )

Selesai sholat, bertebaranlah kamu di muka bumi, cari karunia Allah, kerjakan dzikir sebanyak-banyaknya agar kamu sukses ( AL JUMU’AH 62 : 10 ).  
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong ( agama ) Allah, niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu ( MUHAMMAD 47 : 7 ).

Barang siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan kehidupan yang baik dan Kami akan memberinya pahala sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan
( AN NAHL 16 : 97 )

Wajar bila ada sesepuh yang mengatakan bahwa neraka dan surga itu adanya di dunia.  Neraka adalah kehidupan yang sempit dan surga adalah kehidupan yang menyenangkan di dunia.  Dikehidupan baru yang penuh barokah dan menyenangkan, mungkin kita tidak lulus ujian, karena ada nafsu.  Kehidupan di dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan,  karena ada nafsu.. Para pencari sejati bukan mencari dunia dan bukan pula surga…tetapi mencari keridhoan Allah dan ucapan selamat dari Allah..
Allah-lah seindah-indahnya tempat untuk kembali… (ALI IMRAN 3 : 14)

Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), datanglah kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan penuh keridhoan, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku. (AL FAJR 89 : 27-30)...

Ucapan selamat dari Tuhan-mu. Salaamun qaulam mirobbirohiim ( YAASIN 36 : 58 )

Dari Sang Pencipta kembali kepada Sang Pencipta. Semua ciptaan-Nya disebut makhluk, ada yang tampak dan ada yang tidak tampak.  Surga itu ciptaan Allah yang tidak tampak, berarti surga adalah makhluk.  Kita harus kembali kepada Allah bukan kepada makhluk.  
Ruh mengalami ribuan kali reinkarnasi ke alam dunia, karena dunia merupakan bangku sekolahan bagi setiap ruh untuk naik tingkat sampai akhirnya Ruh mencapai kesempurnaan.  Setelah Ruh mencapai kesempurnaan, maka Ruh itu tidak akan ber-reinkarnasi lagi, dia akan tetap di sisi Allah.  Itu yang enak, ngga usah kerja…    
Oleh karena itu kata Al Qur’an jadi manusia itu merugi…lebih baik tetap hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rizki... Kita harus berusaha agar tidak dilahirkan kembali ke dunia.

Demi waktu Asar… sesungguhnya manusia itu selalu dalam kerugian… kecuali bagi mereka yang beriman, mereka yang beramal soleh dan berbicara tentang hal-hal yang baik dan mereka yang sabar( AL ASR 103 : 1-3 )

Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkannu kembali, selanjutnya kepada-Nya lah kamu dikembalikan (AL BAQARAH 2 : 28).

Innaa lillaahi wa inna ilaihi raajiuun. Dari Allah kembali kepada Allah Sang Pencipta  ( AL BAQARAH 2 : 156 ). 
Allah-lah seindah-indahnya tempat untuk kembali ( ALI IMRAN 3 : 14 ). 
Janganlah kamu mengira orang-orang yang meninggal di jalan Allah itu mati, tidak…!!! Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan mendapat rizki
(ALI IMRAN 3 : 169).
Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah dia yang paling takwa diantara kalian
( AL HUJURAT 49 : 13 )

Silahkan pilih :
Kembali kepada Sang Pencipta atau kembali ke surga mahluk ciptaan-Nya…!!! monggo wani piro…!!!



MASALAH RUH

Mereka akan bertanya kepadamu masalah ruh.  Katakanlah : Masalah ruh itu urusan Tuhan. Kamu hanya diberi ilmu sedikit sekali  (AL ISRA 17: 85).

Ayat tersebut dengan jelas menerangkan bahwa manusia hanya sedikit sekali diberi ilmu oleh Allah, sehingga walau bagaimanapun, dengan cara secanggih apapun tidak akan bisa membuka rahasia tentang Ruh ini.  Kita mengetahui bahwa Ruh itu ada di dalam diri kita, walaupun kita tidak bisa melihatnya namun kita mempercayainya.  Bila jasmani ini tanpa Ruh maka disebutnya mayat, orang mati.

Kita tidak bisa melihat Ruh, yang bisa kita lihat hanyalah jasmaninya. Melalui jasmaninya kita bisa lihat jelas jenis kelaminnya, apakah laki-laki atau perempuan. Sedangkan mengenai Ruh, kita tidak mengetahui apakah ada jenis kelaminnya atau tidak. Apakah Ruh itu seperti halnya malaikat, dimana malaikat pun tidak mempunyai jenis kelamin dan tidak mempunyai hawa nafsu.

Sewaktu kita hidup, kita bisa merasakan rasa sakit, sedih, riang-gembira, dan sebagainya.  Akan tetapi bila kita dalam keadaan koma, tidak sadar diri, tidak punya nafsu, maka kita tidak bisa merasakan apa-apa lagi.   Manusia seutuhnya ada jasmaninya ada Ruhnya dan ada nafsunya.

Walaupun Al Qur’an tidak menjelaskan bahwa Ruh itu berkelamin atau tidak, namun Allah menciptakan pasangannya. Allah senantiasa menciptakan segala sesuatu selalu berpasang-pasangan.  Demikian juga dengan masalah Ruh.

Hai manusia bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari nafsu ( jiwa, jenis ) yang satu ( min nafsiw wahidatin ), dan dari padanya, Allah menciptakan pasangannya … (AN NISAA 4 : 1).

H. E . Semedi berpendapat, mungkin itulah yang disebut jodoh hakiki, NAFS yang satu berada dalam jasmani suami (Adam) dan NAFS pasangannya berada dalam jasmani istrinya (Hawa). Sebagaimana halnya H. E. Semedi, maka penulis pun cenderung berpendapat bahwa bila pasangan suami-istri sering cekcok, tidak ada kecocokan dan tidak ada kebahagiaan di dalam rumah tangga, mungkin salah satu penyebabnya adalah NAFS suami istri tersebut bukan pasangannya.  Menurut bahasa ilmiahnya aura mereka tidak serasi, sehingga perpaduan kedua aura mereka membentuk gambaran aura yang kacau.  Kekacauan aura ini akan menimbulkan energi negatif bagi mereka.

Menurut H. E. Semedi kata NAFS dalam bahasa Arab bisa diterjemahkan sebagai RUH atau JIWA yang jenisnya hanya ada satu atau diterjemahkan sebagai JENIS saja.  Nafs bila ditafsirkan sebagai nafsu, mengandung unsur amarah, luwamah, sufiah dan mutmainah yang akan mempengaruhi kematangan kepribadian dan nalar seseorang.  Sedangkan jiwa menurut ilmu kedokteran jiwa adalah Psyko, keadaan mental seseorang yang merupakan keadaan kepribadian seseorang dimana dalam perkembangannya sejak dari masa anak-anak sampai dewasa senantiasa dipengaruhi oleh faktor keturunan (gen pembawa sifat) dan faktor lingkungannya.  Ilmu yang mempelajari perkembangan jiwa disebut Psykologi dan Ilmu yang mempelajari kelainan jiwa disebut Psykiatri.

Setelah Adam dan Hawa, maka generasi manusia selanjutnya dilahirkan melalui rahim ibunya masing-masing, setelah melalui proses biologis.  Jadi yang berjenis kelamin adalah jasmaninya, yang mempunyai nafsu adalah jasmaninya.  Seandainya Ruh mempunyai alat kelamin dan mempunyai nafsu, apakah mungkin terjadi perkawinan di alam Arwah.  Apakah mungkin Ruh di alam Arwah berkembang biak melalui perkawinan ??? Selanjutnya H.E Semedi menambahkan bahwa Al Qur’an pun membahas mengenai masalah banci (hermaphrodite) dan kemandulan.

Ia menciptakan yang dikehendaki-Nya. Ia memberikan ( jenis kelamin ) perempuan kepada yang dikehendaki-Nya dan memberikan ( kelamin ) laki-laki kepada yang dikehendaki-Nya atau Dia mencampurkan mereka laki-laki dan perempuan (banci), dan Dia menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa. (ASY SUYUURA 42: 49-50).


PROSES TERJADINYA RUH

Sebagian besar umat Islam berpendapat bahwa Ruh telah diciptakan sebelum terbentuknya jasad (Adam).  Walaupun demikian ada juga yang berpendapat bahwa Ruh diciptakan setelah terbentuknya jasad.  Perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dipermasalahkan, yang penting adalah bahwa semua umat Islam meyakini akan keberadaan Ruh…
Sebelum Allah menciptakan segala sesuatu, yang pertama kali Allah ciptakan adalah NUR MUHAMMAD.  Dari Nur Muhammad ini Allah menciptakan segala sesuatu... Berarti Ruh diciptakan dari Nur Muhammad….

Hadits Qudsi :
Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, oleh sebab cinta, Aku ingin dikenal, maka Aku jadikan makhluk ( Nur Muhammad ) agar ia mengenal akan Aku.

 Hadits Rosulullah SAW  :
Aku adalah bapak dari segala ruh.
Aku berasal dari Cahaya Allah, semua yang ada di alam ini berasal dari cahaya ku.
Yang mula-mula dijadikan Allah adalah Nur Nabimu ya Jabir dan Allah jadikan dari Nur itu segala sesuatu dan engkau wahai Jabir adalah termasuk sesuatu itu.

Hadits Qudsi tersebut menjelaskan keberadaan Tuhan yang tersembunyi, Dia belum mempunyai nama, Dia adalah Dzat mutlak tanpa bentuk, tanpa ruang dan waktu.  Dia diluar jangkauan akal ( transendental ).  Dia berada di dalam Ke-Esa-an-NYA yang murni, sebagai suatu Essensi Dzat yang berada di suatu alam yang disebut alam Ahadiyyaah.  Kemudian Dia ingin Eksis, ingin dikenal, maka Dia mulai menghadirkan Dirinya dalam Dirinya sendiri dan memproklamirkan dirinya sebagai ALLAH.  Kata Allah berasal dari kata Al Ilah artinya Yang Disembah.  Nama Tuhan yang sebenarnya gue ngga tau Bro.. ketemu aje ngga pernah ape lagi kenal namaNYA.  Tak jumpa maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak iman... Wajar ya Bro kalo ada sesepuh yang bilang bahwa awal mula beragama itu mengenal Allah... Jadi jangan sok merasa diri paling berimanlah...

Aku adalah Allah (  Yang Disembah ), dan tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku  ( THOHA 20 : 14 ).
Aku adalah Tuhan-mu, karena itu sembahlah Aku (AL ANBIYA 21:41).

Dia adalah Allah yang berkuasa (kudrat) dan berkehendak (irodat). Dia ingin eksis. Dia ada dan tak ada apa-apa disampingnya ( HADITS ).
Oleh karena tidak ada apa-apa disampingnya, maka untuk menghadirkan diri-Nya sendiri, Dia pancarkan (Emanasi) Cahaya Dzat-Nya sendiri melalui sifat Kalam-Nya, yaitu KUN, maka jadilah Nur Muhammad yang disebut juga sebagai alam Wahdat. Nur Muhammad ini kemudian merupakan sumber dari semua ciptaan Allah. Dari Nur Muhammad ini kemudian terpancar bermacam-macam ciptaan-Nya.

Dalam tahapan berikutnya tercipta alam Arwah, di dalamnya termasuk alam Ruh dan Malaikat. Selanjutnya tercipta Alam Ajsam (Alam Jasad), alam semesta dan segala isinya sampai ke Alam Insan Kamil yang disebut alam wahidiiyyah atau hakekat insaniah.  Kemudian Dia memproklamirkan diri-Nya dan memerintahkan kepada semua makhluk ciptaan-NYA agar menyembah kepadaNya ….

Aku adalah Tuhan-mu, karena itu sembahlah Aku
( AL ANBIYA 21 : 41 dan  Surat THOHA 20 : 14 ).
Maka :
Kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan segala yang ada di bumi
( AN NAHL 16 : 49 ).
Dan tiada sesuatu apapun yang tiada bertasbih memuji-Nya. (AL ISRA 17 : 44).
Semua mahluk tunduk dan taat kepada perintah Allah kecuali Iblis.  
( AL BAQARAH 2 : 34 ).

Proses pancaran keluarnya Dia dari kemurniannya ini disebut proses tanuzzullat, proses emanasi atau disebut juga proses penurunan martabat (degradasi), Dia turun untuk memanifestasikan dirinya, dari Martabatnya yang paling tinggi di Alam Ahadiyah turun sampai ke Alam Insan Kamil melalui 7 tahapan (martabat).
Selanjutnya Dzat Allah tersembunyi dalam Insan Kamil (imanensi).  Hal ini bisa kita ibaratkan sebagaimana biji gandum yang mempunyai potensi untuk tumbuh, setelah menjadi sebuah pohon gandum, biji menjadi tersembunyi di dalam pohon.  Atau bila biji gandum telah menjadi roti, walaupun potensinya sudah sangat berkurang, namun zat gandum tetap ada, tersembunyi di dalam roti.  Demikian juga dengan Dzat Allah, menjadi tersembunyi di dalam diri setiap insan.

Dzat Allah meliputi segala sesuatu ( FUSHSHILAT 41 : 54).
Di dalam dirimu, apakah engkau tidak memperhatikan
(ADZ- DZAARIYAAT 51 : 21).

Di dalam setiap rongga anak Adam Aku ciptakan suatu mahlgai yang disebut dada, dalam dada ada qolbu, dalam qolbu ada fuad, dalam fuad ada syafoga, dalam syafoga ada Sir, di dalam SIR ada AKU, tempat Aku menyimpan rahasia ( HADITS QUDSI ).

Di dalam Sir ada Aku … Maka Sang Aku (Nur Dzat) ini akan menggerakkan Sir, kemudian Sir akan menggerakkan Ruh, kemudian Ruh akan menggerakkan qolbu dan qolbu akan menggerakkan akal (budi, cipta, rasa, kersa), selanjutnya akal atau otak akan menggerakkan tubuh.  Otak kita yang menyerap ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup.  Tubuh fisik sebagai pelaksana untuk melakukan perintah Allah.
Menurut istilah para sesepuh : Nur, Sir, Budi, Cipta, Rasa, Kersa, Pangawasa (daya).
Tiada yang bergerak kecuali atas perintah Tuhan ( Hadits ).

Firman Allah :
Tangan Tuhan berada di atas tangan mereka ( AL FATH 48 : 10 ).
Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, akan tetapi Allah-lah yang melempar (AL AN FAAL 8 : 17).

Jasmani manusia berasal dari tanah. Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan Allah dari tanah tanpa melalui proses biologis. Penciptaan Adam tidak terjadi secara serta merta dalam waktu sekejap, akan tetapi melalui suatu proses bertahap dalam kurun waktu yang cukup lama.

Oleh karena itu, ada Hadits Rosulullah yang mengatakan :
Aku memiliki waktu khusus dengan Tuhan, yang dimana di dalamnya tiada lagi malaikat atau Rosulnya.
Aku sudah menjadi Nabi, sedangkan Adam adalah dalam keadaan antara air dan lempung.
Akulah Bapak dari segala Ruh, dan Adam adalah Bapak segala Jasad.

Setelah Aku sempurnakan kejadiannya maka Aku tiupkan Ruh-Ku kepadanya
(AL HIJR 15 : 29, AS SHAAD 38 : 72).

Dan (ketika) Tuhan-mu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap Jiwa-Nafs mereka masing-masing (dan berfirman) : Bukankah Aku Tuhan-mu…???  Mereka menjawab : Benar kami bersaksi …
(AL A’RAAF 7 : 172).

Dari ayat-ayat tersebut di atas, agaknya setiap manusia sebelum dilahirkan ke dunia, NAFS-nya sudah diambil kesaksiannya oleh Allah bahwa Allah adalah Tuhan mereka, kemudian secara serempak mereka menjawab : Benar kami bersaksi … 
Ini merupakan syahadat ( kesaksian ) awal.  
Selain diambil kesaksiannya, semua umat manusia juga membawa beban amanah. Di dalam Al Qur’an tidak dikatakan amanahnya itu apa…??? Apakah amanah itu berupa tugas hidup manusia di dunia sebagai pembelajaran untuk mencapai kesempurnaan…??? Apakah ditugaskan sebagai penjahat besar yang kemudian bertaubat ataukah sebagai ulama besar yang melakukan maksiat…??? Apakah sebagai khalifah untuk memberi rahmat bagi seluruh alam semesta…??? Ataukah amanah itu agama…??? 

Bila amanah itu agama,  tidak dikatakan agamanya itu apa…???  Ruh manusia bersedia memikul amanah tersebut karena manusia bersifat zalim dan bodoh, sehingga harus banyak belajar.  Ternyata setelah hidup di dunia, penghianatanpun terjadi karena NAFS cenderung untuk berbuat jahat.  Oleh karena itu, manusia disebut INSAN yang artinya adalah lalai (lupa).

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat oleh Tuhan-ku, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang  ( YUSUF 12 : 53 )
 
Sesungguhnya telah Kami tawarkan amanah ( agama…??? ) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, akan tetapi mereka semua enggan memikulnya, karena takut menghianatinya, namun manusia bersedia memikulnya, ia sungguh zalim dan bodoh sekali (AL AHZAB 33 : 72).

Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi  ( AL BAQARAH 2 : 30 )
Dan tiadalah Allah mengutus engkau hai Muhammad, melainkan untuk memberi rahmat bagi seluruh alam semesta ( AL ANBIYA 21 : 107 )


PERKEMBANGAN JANIN MENURUT AL QUR’AN

Bukankah Kami ciptakan kamu dari cairan hina yang Kami tempatkan dalam wadah yang aman sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan  ( AL MURSALLAT 77 : 20-23 ).

Dan sesungguhnya kami ciptakan manusia dari saripati tanah basah, kemudian Kami jadikan nutfah (setetes mani) dalam wadah yang aman, kemudian kami jadikan nutfah itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian kami keluarkan dia sebagai mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta Yang Terbaik
(AL MU’MINUUN 23 : 12 – 14).

Ia ciptakan kamu dalam perut ibumu setingkat demi setingkat dalam tiga selubung kegelapan.  Itulah Allah Tuhan-mu.  Kepunyaan-Nya-lah kerajaan, tiada Tuhan selain dia.  Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan ( AZ-ZUMAR 39 : 6 )
Setelah Aku sempurnakan bentuknya dan Aku tiupkan Ruh-Ku kepadanya…
(AL HIJR 15 : 29, AS SHAAD 38 : 72).

Sebelum masuk kedalam jasmani Jiwa-Nafs sudah bersyahadat ketika Allah berfirman : Bukankah aku Tuhanmu. Para Jiwa-Ruh menjawab : Benar kami bersaksi ( Al A’raf 7 : 172 ).   

Kemudian Ruh dihembuskan ke janin dalam kandungan ibu.  Janin sudah hidup, sudah bergerak,, jantungnya sudah berdenyut namun belum diberi NAFSU..   Dalam kandungan  Ruh sudah bertaqwa kepada Allah sejak hari pertama dalam kandungan Ibu, karena Ruh berasal dari Dzat ALLAH.  Setelah bayi dilahirkan ke dunia, bayi mulai bernafas, bayi menangis keras, mulai-lah ada nafsu.. 

Semua umat manusia yg hidup di dunia ada jasmaninya, ada ruhnya dan ada nafsunya.  Semua umat manusia  sudah mengemban amanah… Namun di dalam Al Qur’an tidak dikatakan amanah itu apa… Apakah berupa tugas hidup di dunia sebagai apa…??? Ataukah amanah itu agama…???  Namun yang pasti, Ruh berasal dari DZAT YANG MAHA SUCI..  Ruh yang harus mengendalikan nafsu…

Bila nafsu tidak terkendali maka jasmani yang akan menanggung akibatnya..  Jasmani akan dimasukkkan ke dalam neraka, yaitu kehidupan yang sempit di dunia.  Namun bila manusia itu bertaubat Allah akan mengangkatnya kembali ke kehidupan yang penuh barokah..  Bila dia belum menerima balasan dikehidupan yang sekarang, mungkin dia akan menerima balasannya dikehidupan yang akan datang…

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat oleh Tuhan-ku, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( YUSUF 12 : 53 )
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya-nafsnya dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya ( ASY-SYAM 91 : 9-10 )

Barang siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan kehidupan yang baik dan Kami akan memberinya pahala sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan
( AN NAHL 16 : 97 )
Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkannu kembali, selanjutnya kepada-Nya lah kamu dikembalikan (AL BAQARAH 2 : 28).

Hai manusia jika kamu ragu-ragu tentang hari kebangkitan, maka sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari segumpal tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan tidak sempurna kejadiannya, agar Kami dapat menjelaskan kepadamu dan Kami tempatkan yang Kami kehendaki di dalam rahim untuk suatu masa tertentu  (ajalum musamman) dan kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, dan kamu menjadi dewasa dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan diantara ka mu ada yang dikembalikan ke tingkat hidup yang paling rendah, sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan …(AL HAJJ 22 : 5).
Dan bagi setiap umat ada suatu masa.  Maka bila tiba masanya tidak bisa mereka menundanya sesaatpun, dan tidak bisa pula mereka memajukannya.
(AL A’RAAF 7 : 34).
Kemudian sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan kembali di hari kebangkitan  (AL MU’MINUUN 23 : 15 – 16).

Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Tuhan mereka yang sebenarnya . Sesungguhnya segala hukum kepunyaan-Nya dan Dia-lah pembuat perhitungan yang paling tepat. (AL AN’AAM 6 : 62).

Al Qur’an memang sangat luar biasa… waktu itu belum ada pelajaran embriologi ilmu kedokteran…namun Al Qur’an sudah menyatakan bahwa perkembangan janin dalam kandungan ibu melalui tiga selubung kegelapan.  Secara embriologi selubung yang paling luar adalah EKTODERM, bagian tengah MESODERM dan lapisan selubung yang paling dalam adalah ENTODERM… Pada tahapan ini belum berbentuk sebagai bayi…
“Ia ciptakan kamu dalam perut ibumu setingkat demi setingkat, DALAM TIGA SELUBUNG KEGELAPAN” (AZ-ZUMAR 39:6)

Tahap selanjutnya setiap lapisan selubung berkembang membentuk organ-organ tubuh… Dimulai dari lapisan paling luar-ektoderm membentuk bulu, kulit dan organ otak. Lapisan tengah- mesoderm akan membentuk tulang dan otaot.  Lapisan dalam-entoderm membentuk organ dalam manusia.   Manusia dikatakan mati bila rekaman gelombang otaknya sudah datar..

Secara medis kita tidak mengetahui kapan Ruh dihembuskan ke janin… Secara medis melalui alat USG denyut jantung bayi sudah bisa terlihat saat janin berusia dua bulan… Berarti bayi sudah hidup… walaupun belum diberi nafas…


TANDA – TANDA MENJELANG KEMATIAN

Untuk melengkapi tulisan ini, Bapak H. Abdul Radjak dari Tarakan, Kalimantan Timur berkenan mengirimkan catatannya kepada penulis mengenai tanda-tanda menjelang kematian bagi mereka yang mendapatkan rahmat Allah.
Catatan tersebut sumbernya berasal dari ajaran Sech H. Muhammad Seman Al Banjari yang dipimpin oleh Muhammad Suming Abu Bakar.
Tanda-tanda menjelang kematian adalah sebagai berikut :

Tanda Pertama
Bila Allah berkenan memberikan rahmatnya kepada kita maka tanda pertama adalah perasaan seperti tertusuk jarum, dimana rasa sakitnya terasa sampai ke ubun-ubun, serta kita juga mendengar seperti suara letusan senapan sebanyak 1 (satu) kali. Bila kita mendapat rahmat tersebut maka ucapkanlah : YA … HU … Berarti sisa usia kita  tinggal 40 hari … maka janganlah kita lalai … untuk tetap beribadah kepada Allah …

Tanda Kedua
Rahmat Allah yang kedua adalah dari mata kita keluar cahaya putih yang berubah wujud dan berdiri di hadapan kita sebagai manusia yang berpakaian sangat indah dan berhadap-hadapan dengan kita, maka segeralah kita ucapkan : ALHAK KULHAK … Berarti sisa usia kita tinggal 7 hari lagi … Maka kita harus lebih tekun lagi untuk beribadah kepada Allah

Tanda Ketiga
Dari mulut keluar cahaya yang sangat indah, kemudian cahaya tersebut berubah wujud yang sangat menyerupai rupa diri kita sendiri, disertai bau yang sangat harum, maka segeralah ucapkan : ALHAMDULILLAHI RABBIL ALLAMIN … Berarti sisa usia kita tinggal tiga hari lagi. Mulailah kita berwasiat ….

Tanda Ke-empat
Adalah merupakan hari H kita, hari yang kita nanti-nantikan, saat kita kembali ke Rahmat Allah … Telinga kita berdengung panjang, teramat panjang … Pandangan mata kita berubah menjadi kabur … kemudian segalanya menjadi hitam, alam semesta terasa gelap gulita … Walaupun demikian kita hendaknya jangan lalai untuk tetap berdzikir kepada Allah … ujung lidah dilipat ke atas menyentuh langit-langit … Selanjutnya dari kegelapan tersebut akan muncul suatu titik cahaya … yang merubah kegelapan tersebut menjadi terang benderang dan sangat gilang gemilang, sangat indah tiada tara … Sungguhpun demikian kita harus tetap tenang dan tetap berdzikir kepada Allah semata … Kita  janganlah ragu dan bimbang lagi, karena saat itu kita sedang berhadapan dengan “NUR ALLAH”.

Kemudian kita mendengar suara mendengung kembali … disertai rasa kantuk yang sangat hebat … maka tetaplah berdzikir kepada Allah … Bila kita masih mampu untuk mengangkat kedua belah telapak tangan kita, maka angkatlah … ucapkanlah Allahu Akbar atau Laa illaaha ilallaah atau Allah…Allah…Allah ujung lidahnya menyentuh langit-langit, sambil menutup kedua mata kita… Kita kembali ke Rahmat Allah… amin… amin... Ya Robbal alamin…


KEBANGKITAN RUH DAN PENGHISABAN

Apakah Ruh akan segera menjalani masa hukuman setelah kematian jasmani ??? Berapa lama masa hukuman tersebut harus dijalani ??? Apakah hukuman yang diterima Ruh  bisa mendapatkan keringanan, grasi, remisi bahkan pengampunan dari Allah Yang Maha Pengampun …Apakah di akhirat Ruh harus menunggu sampai akhir zaman, hari kehancuran total seluruh alam semesta yang disebut hari kiamat tanpa ada proses pengadilan ??? Apakah perhitungan Allah tidak cepat ???  

Pada hari kiamat, menurut pelajaran agama yang kita terima sewaktu masih dibangku sekolah, semua ruh akan dikumpulkan di padang Masyar untuk diadili…   Mungkin dalam bayangan kita, yang namanya Padang Masyar adalah suatu lapangan yang sangat luas… luar biasa luasnya… Begitu banyak Ruh, milyaran ruh berdesak-desakan dalam antrian, menunggu giliran proses sidang pengadilan di Padang Masyar… ada yang duduk, ada yang jongkok ada yang berdiri, ada yang kebingungan … macam-macam lah…

Sampai saat ini kiamat masih belum terjadi, berarti para ruh yang sudah meninggal itu sampai saat ini pun belum berkumpul di Padang Masyar.  Bila demikian para Ruh itu berada dimana…??? Katanya mereka ada di alam barzah lagi pada bengong, menanti dan menanti proses sidang pengadilan yang akan dilaksanakan di Padang Masyar setelah hari kiamat.  Berarti sampai saat ini belum ada keputusan sidang pengadilan… neraka dan surga masih kosong Bro…
Yang demikian itu, sesungguhnya Allah, Dia-lah yang Haq, Dia-lah yang menghidupkan orang mati dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sesungguhnya saat itu akan tiba. Tiada keraguan dalam hal itu, oleh karena Allah akan membangkitkan mereka di dalam kubur (AL HAJJ 22 :6-7).

Yang dimaksud dengan kebangkitan di dalam kubur dalam surat AL HAJJ 22 : 6-7 adalah kebangkitan Ruh.  Saat kebangkitan Ruh di alam kubur itulah yang disebut qiyaamat (bangkit).  Setelah Ruh dibangkitkan, kemudian Ruh akan dikumpulkan sesuai dengan amal perbuatannya di dunia, sesuai dengan kadar keimanannya masing-masing, di neraka atau disurga, tanpa merugikan siapapun… Di kehiidupan yang sempit ataukah dikehidupan yang penuh barokah di dunia…???
Apakah hari kebangkitan itu harus menunggu sampai akhir zaman…???

Bila kita meyakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya, maka kita harus yakin bahwa sekalipun jasad sudah mati, Allah bisa menghidupkannya kembali. Hal ini bisa kita simak melalui kisah yang terjadi pada zaman Nabi Musa a.s…
Dan ketika kami berkata  : “Hai Musa !!! Kami tidak percaya kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata”. Lalu halilintar menyambarmu sedang kamu menatap. Kemudian Kami hidupkan kamu setelah kematianmu agar kamu bersyukur. 
( AL BAQARAH 2 : 55-56 )

Dan  Dia-lah pembuat perhitungan yang paling tepat  (AL ANN’AAM 6 : 62).

Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhan-mu dengan suka cita dan diridhoi-Nya, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-KU  (AL FAJR 89 : 27 : 30).

Surga Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang saleh di antara orang tua mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka  (AR RA’D 13 : 23).

Dan orang-orang yang beriman, lalu anak-cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, Kami susulkan keturunan mereka pada mereka dan kami tidak mengurangi amal mereka sedikitpun (ATH-THUUR 52 : 21).

Dengan demikian berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas, bila kita sekeluarga semuanya se-agama dan se-iman, maka di akhiratpun kita semua akan berkumpul kembali…Di kehidupan yang baru pun mereka akan berkumpul kembali. Kemudian bagaimanakah nasibnya mereka yang mengingkari rahmat Allah ???  Semua tergantung kepada amal perbuatannya masing-masing.

Pada hari itu kamu akan dihadapkan ( kepada Tuhan ), tiada sesuatupun dari keadaanmu akan disembunyikan  (AL HAAQQAH 69 : 18).

Kumpulkanlah mereka yang berbuat dzolim bersama istri-istri mereka dan apa-apa yang biasa mereka sembah selain Allah, dan tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka dan tahanlah mereka, karena mereka harus ditanyai
(ASH-SHAFFAAT 37 : 22 -  24).

Dan demi Tuhan engkau…!!!  Kami akan menanyai mereka semuanya tentang apa yang telah mereka kerjakan  (AL HIJR 15 : 92).
Pada hari Tuhan memanggil mereka dan berfirman : Apakah jawaban yang  kamu berikan kepada utusan-utusan itu  (AL QASHASH 28 : 65).

Sungguh tentu Kami akan menanyai umat yang telah menerima Rosul yang diutus kepada mereka dan Kami juga akan menanyai Rosul-Rosul itu  (AL A’RAAF 7 : 6).

Ada sesepuh yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan utusan di Surat AL A’RAAF 7 : 6.. adalah utusan yang ada di dalam diri kita sendiri, yaitu : anggota badan, panca indera kita serta nafsu kita. Semua itu merupakan kitab pribadi yang akan memberikan kesaksian dihadapan Allah.

Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri  (AL QIYAAMAH 75 : 14).
Lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi terhadap apa yang mereka kerjakan.
( AN NUR 24 : 24 )
Berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan  ( YAASSIIN 36 : 65 )
Pendengaran, penglihatan dan hati masing – masing akan dimintai tanggung jawabnya  ( AL ISRO 17 : 36 )

Bacalah kitabmu…!!!  Cukuplah dirimu sendiri sebagai penghijab terhadapmu
(AL ISRO 17 : 14).

Manusialah yang berbuat dzolim terhadap dirinya sendiri akhirnya manusia juga yang menghisab dirinya sendiri. Maha suci Allah dari tindakan dzolim dan penghisaban, Dia Maha Pengampun, Maha  Pengasih lagi Maha Penyayang.
Bila demikian, apakah benar mereka akan ditanyai ??? Bukankah Allah Maha Mengetahui akan segala sesuatu ???

Menurut H.E Semedi, yang dimaksud ditanyai disini adalah kita diminta untuk mempertanggungjawabkan semua perilaku kita, jadi bukan dalam arti yang sebenarnya (muhkamaat), akan tetapi bersifat kiasan (mutasyabihaat).  

Oleh karena itu, dianggap janggal bila di akhirat ada pertanyaan-pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir : Siapakah Tuhan kamu ?  Siapakah Nabi kamu ? Apakah agama kamu ? Apa kiblat kamu? Siapa pemimpin kamu? Dan siapakah saudaramu?

Maka jawablah dengan tegas dan jelas serta meyakinkan :
Allah adalah Tuhanku, Muhammad adalah Nabiku, Islam adalah agamaku, Ka’bah kiblatku, Al Qur’an adalah pemimpinku, dan kaum muslimin-muslimat, mukminin-mukminat adalah saudaraku.. 

Dan jika wanita jawablah : Aku rela Allah sebagai Tuhan,  aku rela Islam agamaku, aku rela Muhammad Nabiku dan Rosul Allah…



Cara menjawabnya bagi laki-laki dan bagi wanita pun berbeda… Apakah Ruh ada kelaminnya…???  Apakah yang menjawab jasadnya yang sudah jadi mayat…???  Bila jasadnya yang menjawab, maka tidak perlu ditanya, karena kata Al Qur’an, tangan dan kaki bersaksi.  Mata, telinga dan lidah bersaksi… 
Apakah malaikat Rokib dan Atid tidak tersinggung, karena catatannya tidak digubris…??? Apakah tidak ada koordinasi diantara malaikat, walaupun masih dalam satu departeman…??? Ajaran seperti ini justru akan sangat merendahkan derajat Tuhan Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Pengampun dan Maha Pengasih lagi Maha Penyayang …

Menurut ajaran Islam addinu bil aqli. Agama harus masuk akal, agama harus rasional.  Di era globalisasi ini, ajaran yang tidak masuk akal akan sangat merugikan perkembangan Islam, karena bagi mereka yang berfikiran kritis atau mereka yang non Muslim pasti akan mentertawakan ajaran tersebut.  Oleh karena itu, ajaran Islam yang tidak rasional merupakan propaganda yang buruk bagi umat Islam itu sendiri, demikian menurut H.E Semedi.


Wajar bila ada sesepuh yang berpesan bahwa beliau tidak mau dibacakan Talkin saat menjelang kematiannya.   Beliau mengatakan bahwa ujian dari Allah itu senantiasa ada sampai saat menjelang maut pun kita masih tetap diuji… Pada saat terakhir itu jin,  syaethon , iblis dan sebangsanya datang menyamar menyerupai kerabat yang kita kenal yang sudah tiada,  membujuk manusia agar mengikutinya… Pada saat seperti itu kata sesepuh, kita harus membantu orang yang sedang dalam sakaratul maut agar dia tidak terpengaruh bujukan iblis…

Nasehat sesepuh ini sangat rasional, masuk diotak gue Bro… Beliau bilang,  agar ruh tidak terjebak bujukan syaethon dan iblis, maka syaethon, iblis dan sejenisnya itu harus di usir,  sehingga perjalanan Ruh manusia langsung lurus menuju Allah tanpa hambatan…

Pada hari saat harta benda dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih ( ASY-SYU’ARA : 26 : 88-89 )
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir ( AL INSAN 76 : 3 )
Inilah jalan yang lurus menuju kepada-Ku ( AL HIJR 15 : 41 )
Jangan ikuti jalan-jalan lain ( AL AN’AM 6 : 153 )

Oleh karena itu sesepuh itu menganjurkan agar yang harus dibaca adalah Surat Pengusiran yaitu Al Hasyr 59 : 21-22-23-24.  Lalu ditiupkan dari arah kiri kearah kanan, agar semua jin setan dan iblis yang menghalangi jalan disingkirkan.   Kalau sekiranya Allah menurunkan Al Qur’an kepada sebuah gunung, pasti gunung itu akan tunduk, terpecah belah karena takut kepada Allah, itu sebagai perumpamaan bagi kita, agar kita berpikir Bro.

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan takut kepada Allah. Dan Kami buat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka berpikir.
Dialah Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghoib dan yang nyata. Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Dia Allah, tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Maha Penyelamat, Maha Pemberi Keamanan, Maha Pemelihara, Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Agung, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Memiliki Asma ul Husna.  Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi.  Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. (AL HASYR 59 : 21-22-23-24) 

Selanjutnya kita mohon agar Utusan Allah yang sangat menyayangi kita datang dan kita berharap agar si sakit yang sedang menjelang maut tetap bertawakal kepada Allah, maka kita harus membacakan Surat At Taubah 9 : 128-129.. untuk si sakit…

Telah datang kepadamu seorang utusan dari kaum-mu sendiri, yang sangat merasakan penderitaan-mu, yang sangat menginginkan ( keimanan dan keselamatan ) bagimu, amat belas kasih dan penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling, maka katakanlah : Cukup Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia, hanya kepadaNya aku bertawakal, dan Dia Tuhan Pemilik Arsy Yang Agung ( AT TAUBAH 9 : 128-129 )

Kemudian siapakah Utusan itu…??? Itulah Dia Yang Maha Suci, Yang Maha Kudus, Tuhan malaikat dan Ruh.
Subbuhun, Kuddusun, Robbuna wa Robbul malaikatu wa Ruh…
Yang bagaimana …???  
Dia adalah Cahaya diatas Cahaya, Allah akan membimbing dengan Cahayanya menuju kepada Cahayanya ( AN NUUR 24 : 35 )..

Do’a selanjutnya : Bismillaahi nikmatilladzina an amtuna alaena wa kafa bihi nikmati islam…agar si sakit mendapatkan nikmat Islam… yaitu Innalillahi wa innailaihi roojiun, dari Allah kembali kepada Allah. Dari Cahaya Kembali kepada Cahaya, bukan ke surga… Selanjutnya secara bergantian kita membisikkan Asma Allah ditelinga si sakit, agar dia tetap tawakal…sampai akhir hayatnya tetap mengingat Allah… Akhirnya dia kembali kepada Allah, meninggal dengan tenang… Sampai saat ini belum pernah ada yang meninggal dengan sukses… hehehe…

Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu ( AN NISA 4 : 1).
Dan Tuhan menyaksikan segalanya ( AL AHZAB 33 : 52).
Sesungguhnya Allah meliputi segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu
( AL BAQARAH 2 : 115 ).

Dzat Allah meliputi segala sesuatu ( FUSHSHILAT 41 : 54 ).
Dalam dirimu apakah engkau tidak memperkatikan (ADZ-DZAARIYAAT 51 : 21).
Dia (Allah) bersamamu di manapun kamu berada, Allah melihat segala sesuatu yang kamu kerjakan (AL HADID 57 : 41).

Di alam kubur arwah orang-orang kafir menyesali perbuatannya tatkala dia hidup di dunia. Setelah kematiannya Ruh mereka bisa melihat dan mendengar sesuatu yang terjadi di alam kubur :
Sesungguhnya kamu telah lalai, maka mulai hari ini Aku buka tabir yang menutupimu, maka pandangan matamu menjadi tajam  ( AL QAF 50 : 22 ).

Kemudian Ruh mereka meratap memohon kepada Allah agar dihidupkan kembali serta mereka berjanji akan berbuat baik dan akan menjadi orang yang beriman.
Yang menjadi pertanyaan adalah : “Apakah di alam kubur bagi mereka yang sudah meninggal dunia itu masih bisa minta ampunan kepada Allah atau adakah semacam remisi, grasi atau bahkan amnesti dari Allah setelah kita berada di alam kubur ???

Ya Orang kafir senantiasa tidak ingat akan akibat kejahatannya, sehingga manakala datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia menyesal dan berkata : Ya Tuhanku, hidupkanlah aku kembali, agar aku dapat beramal saleh dalam perkara yang aku lalaikanTidak…!!! Itu hanya alasan belaka, dibelakang (waroo’a) mereka ada suatu tabir yang menghalangi mereka, sampai hari mereka dibangkitkan  
( AL MU’MINUN 23 : 99-100 ).

Sekiranya kami dapat kembali kedunia, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang beriman.  Sesungguhnya hal ini menjadi keterangan yang nyata, tetapi kebanyakan mereka tidak mau percaya ( ASY-SYU’ARA 26 :102-103 ).

Mari kita perhatikan ayat-ayat dibawah ini :
Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam keadaan buta ( THAHA 20 : 124 )

Mereka menetap di dalamnya, tidak akan diringankan baginya siksaan, dan tidak pula mereka ditunda (siksaannya), kecuali mereka kemudian bertaubat dan berbuat baik, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
( ALI IMRAN 3 : 88 – 89 ).

Dari ayat tersebut ( ALI IMRAN 3 : 88 – 89 ), muncul suatu pertanyaan, apakah di alam akhirat Allah masih memberi kesempatan kepada Ruh atau Nafs untuk bertaubat, sebagai bukti bahwa Dia Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.  Sebagaimana halnya narapidana yang berbuat baik selama di dalam Rumah Penjara, kemudian pemerintah memberikan grasi atau remisi kepadanya.   Sangat masuk di akal bila ayat ini berlaku untuk kehidupan di dunia…

Oleh karena itu Ruh dihidupkan kembali, dilahirkan kembali, reinkarnasi ke alam dunia, diberi kesempatan untuk bertaubat dan berbuat kebaikan… Insya Allah Tuhan akan mengampuni semua dosa bagi setiap manusia yang betaubat, kecuali dosa syirik…

Katakanlah : Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah yang akan mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(AZ-ZUMAR 53).

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, tetapi Dia mengampuni dosa-dosa selain itu terhadap orang-orang yang diridhoi-Nya (AN NISAA 4 : 48).

Mari kita perhatikan ayat berikut dibawah ini :
Setiap yang memiliki nafs (nafsin) akan merasakan kematian dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepada kamu ganjaranmu.  Barang siapa dipindahkan dari api (neraka) dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia memperoleh kemenangan dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan…. (ALI IMRAN 3 : 185).

Bila kita simak Surat ALI IMRAN 3 : 88-89 serta ALI IMRON 3 : 185… mungkin akan menimbulkan banyak pertanyaan… Setelah manusia itu mati, jasadnya dikubur atau dibakar ( di kremasi ), berarti jasadnya akan hancur, musnah…  Ruh manusia karena berasal dari Dzat Allah, dari Dzat Yang Maha Kekal, maka Ruh tidak akan mengalami kerusakkan .  Ruh tidak akan mengalami proses kematian. 

Ruh berasal dari Cahaya Allah… wajar bila Ruh akan kembali kepada Cahaya Allah..  Ruh berasal dari Dzat Yang Maha Suci,  maka Ruh tetap suci, tidak tercemar oleh polusi duniawi, tidak tercemar oleh sampah-sampah kehidupan.  Bila Ruh tetap suci maka yang mendapat siksa itu apanya …???  Apakah Ruhnya atau jasadnya…???

Menurut penelitian Einstain, semua benda yang ada di dunia ini berasal dari Energi Quanta… yang bergabung… Energi Quanta 1 bergabung dengan Energi Quanta 2, Energi Quanta 3 dst… menjadi atom, menjadi molekul akhirnya menjadi manusia… bila benda itu, atau manusia itu mati, jasadnya hancur, musnah kembali menjadi Energi Quanta…yang berupa cahaya yang berasal dari Cahaya Yang Satu.. Energi Quanta yang berasal dari Cahaya akan kembali ke Cahaya semula. Itulah yang disebut Swarga.  Swar artinya Cahaya dan Ga artinya kembali.  Swarga artinya kembali ke Cahaya Semula…

Manusia yang masih hidup ada jasadnya atau jasmaninya ada Ruhnya dan ada nafsunya.  Nafsu manusia terdiri dari : amarah, luwamah, sufiyah dan mutmainah… Ternyata yang dipanggil Allah adalah nafsu mutmainahnya…
Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhan-mu dengan suka cita dan diridhoi-Nya, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-KU  (AL FAJR 89 : 27 : 30).

Apakah yang akan mendapatkan siksa kubur itu nafsu amarah, luwamah dan sufiyahnya…???   Seandainya memang benar amarah, luwamah dan sufiyahnya yang mendapatkan siksa neraka, apakah tanpa jasmani tanpa Ruh bisa merasakan kesakitan…???  Demikian juga mutmainah, tanpa jasmani, tanpa kelamin, tanpa Ruh, apakah bisa merasakan kenikmatan surga…???

Mari kita perhatikan Surat ALI IMRAN 3 : 185 : …
Barang siapa dipindahkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia memperoleh kemenangan dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan….

Ada apa di surga menurut Al Qur’an…???  Hanya ada kesenangan fisik… yang memperdayakan : Air yang mengalir (AL BAQARAH 2 : 25 ),  kasur-kasur yang empuk  ( AL WAQIAH 56 : 34 ),  gadis –gadis montok ( AN NABA  78 : 33 ), bidadari…( AR-RAHMAN 55 : 56-57 ),  minuman air kafur dan wedang jahe (AL INSAN 76 : 5, 17-18 ), Campuran khamr murni dari Tasnim (AL MUTAFFIN 83 : 27) 


Bagi perempuan, bagi ibu-ibu cowo maco dan bidadaranya ngga ada… ibu-ibu hanya menanggung dosanya saja, meledos ngga terasa terus hamil… hehehe..
Pertanyaannya : Apakah ayat-ayat tentang surga-neraka adalah ayat-ayat mutasyabihat ???  Ayat-ayat metapora…???

Bila kita menganggap bahwa neraka merupakan penjara bagi para arwah manusia durjana untuk melaksanakan hukuman dari Allah atas segala perbuatannya didunia, maka sebagai bukti bahwa Allah Maha Pengampun serta Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, adalah masuk akal bila para arwah yang berada dineraka masih diberi
kesempatan untuk bertaubat dan berbuat kebaikan, diberi keringanan hukuman, bahkan kemudian dipindahkan ke surga. Berarti dalam menjalani hukuman di alam akhirat, ada suatu kurun waktu tertentu yang tentu saja berbeda untuk setiap orang.

Hal ini dimungkinkan karena amal jariahnya sendiri, ilmu yang diamalkannya serta do’a dari anak-anaknya yang soleh.  Dengan demikian kata TIDAK !!!   dalam Surat AL MU’MINUN 23 : 100  hanya bersifat sementara saja sampai sebatas waktu yang ditentukan Tuhan… Oleh karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah Maha Pengampun dan Maha Mengabulkan semua do’a.. maka Allah mengabulkan do’a ruh yang ingin dihidupkan kembali ke dunia yang kita sebut reinkarnasi…

Dia-lah yang menciptakan kamu dari unsur tanah, kemudian Dia tentukan batas waktu (ajalan, term) kematian kamu, disamping itu ada pula batas waktu lainnya yang akan ditetapkan kemudian oleh-Nya (ajalum musammaa indahu). Namun begitu kamu masih tetap meragukannya (AL AN’AAM 6 : 2 terjemahan Bachtiar Surin).

Menurut H.E Semedi ayat tersebut harus diterjemahkan sebagai berikut :
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan bagimu suatu masa ( waktu ) dan suatu masa (lagi) ditentukan di sisi-Nya, kemudian kamu ragukan

Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, berarti dari unsur kimiawi yang terdapat dalam tanah. Kemudian Dia menetapkan bagimu suatu masa, yaitu suatu masa untuk hidup di dunia dan berakhir dengan kematian. Dan suatu masa (yang lain) ditentukan di sisi-NYA adalah di alam akhirat yang berakhir dengan dilahirkannya kembali kamu ke dunia. Kemudian (namun) masih kamu ragukan, menjelaskan keraguan bahwa tinggal hidup di alam akhirat itu selama masa waktu tertentu, dimana masa waktu tersebut berbeda-beda bagi setiap orang, demikian menurut H.E Semedi.  Ukuran waktu di dunia dan ukuran waktu di akhirat tidak sama, dimana 1 hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia.

Dan mereka meminta kepadamu supaya siksaan itu disegerakan, namun Tuhan tidak akan menyalahi janji-Nya. Sebenarnya satu hari di sisi Tuhan-mu, sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu (AL HAJJ 22 : 47).

Perbedaan waktu tersebut mungkin dalam pengertian yang sebenarnya (muhkamaat), sehingga bila reinkarnasi terjadi setelah kurun waktu ribuan tahun maka generasi keluarga yang ber-reinkarnasi tersebut mungkin sudah musnah, sudah tidak ada lagi di dunia.  Dengan demikian bila kita dilahirkan kembali baik di tempat asal yang sama ataupun di daerah lain maka hasilnya tetap akan menjadi kaum yang lain yang sama sekali berbeda dengan generasi yang sebelumnya.  

Oleh karena itu masalah reinkarnasi inipun menjadi sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Kemungkinan lain dari perbedaan waktu tersebut menurut H.E Semedi adalah bukan dalam arti yang sebenarnya (mutasyabihaat). Perbedaan waktu tersebut merupakan ungkapan perasaan subjektif dari seseorang yang sedang menjalani hukuman, misalnya bila kita berdiri diatas bara api yang berkobar-kobar, maka satu detikpun akan dirasakan sebagai penderitaan yang berkepanjangan …

Sebaliknya bila kita sedang berada dalam kesenangan, maka kesenangan itu akan terasa berlalu dengan sangat singkat sekali.  Oleh karena Tuhan adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka Tuhan tidak akan membiarkan hamba-hambanya  menderita  secara berkepanjangan…

Ketika di dalam neraka, para arwah bertaubat memohon ampun dan belas kasihan Allah agar mereka bisa dikembalikan ke dunia. Bila mereka diberi kesempatan dikembalikan ke dunia mereka berjanji akan berbuat kebaikan. Namun jangan lupa, bahwa di alam arwah mereka telah diambil kesaksiannya bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Kemudian setiap akan lahir ke dunia Ruh manusia akan senantiasa membawa amanah tugas di dunia atau agama dan jangan lupa juga bahwa hidup di dunia ada nafsu yang bisa menyesatkan mereka.

Seandainya mereka dibangkitkan kembali ke dunia, mungkin Tuhan akan membangkitkan mereka di tempat lain, jauh dari sanak keluarganya semula di suatu negeri di seberang lautan atau dijadikan mahluk lain yang sama sekali bukan sebagai manusia. Bukankah Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya… !!!

Firman Allah :
Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi Maha Pemurah, jika Dia menghendaki, Dia dapat memusnahkan kamu dan mengganti kamu dengan siapa yang Dia kehendaki sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan yang lain
( AL AN’AAM 6 : 133 ).

Oleh karena itu, sesungguhnya jasmani juga merupakan penjara bagi ruhani. Kematian justru merupakan Rahmat Allah bagi Ruhani yang suci, mereka menerimanya dengan rasa suka cita dan wajah berseri, karena mereka akan kembali ke Rahmat Allah.  

Pada hari itu wajah mereka ( yang beriman ) berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya.  Wajah-wajah ( orang kafir ) muram,  karena akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang dasyat ( AL QIYAAMAH 75 : 22-23-24-25 )

Ruhani yang suci ini tidak ingin dikembalikan lagi ke dunia untuk menjadi bayi lagi, menjadi bodoh lagi, merangkak lagi dari nol dan harus menjalani bermacam-macam ujian lagi dst … Kecuali bila Allah menghendaki lain.
Berarti setiap ruhani harus melaksanakan ujian tahap demi tahap agar bisa kembali kepada Allah. Ujian tersebut hanya dilakukan dengan cara melahirkannya kembali ke dunia sesuai dengan keinginan dari Ruh itu sendiri.

Sekiranya kami dapat kembali kedunia, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang beriman.  Sesungguhnya hal ini menjadi keterangan yang nyata, tetapi kebanyakan mereka tidak mau percaya ( ASY-SYU’ARA 26 :102-103 ).

Bila demikian masalah reinkarnasi, dibangkitkan kembali ke dunia seyogianya ditujukan bagi mereka yang masih mempunyai utang-piutang karma atau bagi mereka yang imannya masih lemah. Setelah utang-piutangnya lunas, atau bagi mereka yang keimanannya sudah sangat kuat, maka ruh sucinya akan kembali ke pangkuan Ilahi Robi, berkumpul bersama golongan hamba-hamba Allah yang beriman lainnya serta mendapat ucapan selamat dan keridoan dari Allah.

Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Dia hidupkan, lalu Dia matikan, lalu Dia hidupkan kamu kembali, kemudian kepada-Nya kamu akan kembali  ( AL BAQARAH 2 : 28 ).

Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhan-mu dengan suka cita dan diridhoi-Nya, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-KU  ( AL FAJR 89 : 27 : 30 ).

Surga Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang saleh di antara orang tua mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka  ( AR RA’D 13 : 23 ).

Salamun qaulam-mir-robbir-rohiim. Salam sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang  ( YAASSIIN 36 : 58 ).


AYAT-AYAT MENGENAI REINKARNASI :

Reinkarnasi berasal dari kata latin re-in-carnis.  Re artinya kembali atau pengulangan. In artinya di dalam, Carnis artinya daging.  Jadi reinkarnasi artinya kembali menjadi daging, menjelma menjadi daging, dilahirkan kembali menjadi mahluk yang berdaging.
Pada umumnya hanya umat Budha, Hindu dan Kong Fu Cu yang percaya akan adanya reinkarnasi ini. Sedangkan bagi umat Islam mungkin hanya sebagian kecil saja yang percaya akan adanya reinkarnasi berdasarkan ajaran Al Qur’an.  

Mereka yang sebagian kecil ini tidak ragu-ragu akan kebenaran Al Qur’an.  Mereka yakin bahwa Al Qur’an mencakup semua ajaran agama di dunia serta merupakan penyempurnaan dari semua ajaran-ajaran agama sebelumnya. Mereka yakin bahwa Al Qur’an merupakan petunjuk yang sangat universal. 

Mereka yakin bahwa yang disebut Islam itu adalah Fitrah dan Fitrah Allah tidak pernah berubah yaitu  : kesucian, kedamaian, keselamatan, kasih-sayang, sabar, ikhlas serta berserah diri kepada Allah melalui keimanan dan ketaqwaan.  Mereka yakin itulah Fitrah Allah yang sudah terprogram di dalam hati masing-masing.  Mereka Yakin itulah Islam yang diridhoi Allah.  Itulah Islam Universal.  Itulah Islam yang dianut semua umat di dunia…


BAGI MEREKA YANG MEYAKINI REINKARNASI

Ayat-ayat Al Qur’an mengenai reinkarnasi yang penulis garis bawahi diantaranya :
Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkannu kembali, selanjutnya kepada-Nya lah kamu dikembalikan   ( AL BAQARAH 2 : 28 ).
Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur
( AL BAQARAH 2 : 56 ).

Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-nya, hendaklah ia berbuat kebaikan dan jangan mempersekutukan Tuhan-nya dengan apapun
( AL KAHFI 18 : 110 ).

Barang siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan kehidupan yang baik dan Kami akan memberinya pahala sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan
( AN NAHL 16 : 97 )
Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi dan tidak lelah dan tidak merasa payah menciptakannya, berkuasa menghidupkan orang-orang mati…??? Ya sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
 ( AL AHQAAF 46 : 33 ).
Darinya ( tanah ) Kami ciptakan kamu, kepadanya ( tanah ) Kami kembalikan kamu dan  darinya ( tanah ) kami keluarkan kamu untuk kedua kalinya  ( THAHA 20 : 55 ).

Siapakah yang menghidupkan kembali tulang belulang yang telah hancur luluh itu… ???  Katakanlah : yang menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali dan Dia ( Allah ) Maha Mengetahui segala makhluk  ( YAASIN 36 : 78-79 ).

Kami menentukan kematian di antara kamu dan Kami berkuasa merubah rupa kamu dan menciptakan ( kembali ) dalam ( bentuk ) yang tidak kamu ketahui 
( AL WAAQI’AH 56 : 60-61 ).

Hai manusia, apa yang memeperdayakan kamu terhadap Tuhan-mu Yang Maha Pemurah, yang menciptakan kamu, lalu membentuk dan menyempurnakan kamu dalam bentuk yang dikehendaki-Nya Dia membentuk tubuhmu 
( AL INFITHAAR 82 : 6-8 ).

Lalu Kami berfirman kepada mereka  : JADILAH KAMU KERA !!!
( AL BAQARAH 2 : 65 ).
Tatkala mereka melanggar apa yang dilarang baginya, kepadanya : JADILAH KAMU KERA YANG DIJAUHI DAN DI BENCI ( AL-A’RAF 7 : 166 ).
… Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ( ada ) yang dijadikan kera dan babi … ( AL MA’IDAH 5 : 60 )


BAGI MEREKA YANG MERAGUKAN REINKARNASI
Menurut H.E Semedi, bagi mereka yang ragu, bagi mereka yang ingkar, mereka akan senantiasa mempertanyakan sungguh benar atau tidaknya masalah reinkarnasi ini.. Maka perhatikanlah beberapa ayat Al Qur’an dibawah ini :

Jika kamu heran, maka yang mengherankan adalah ucapan mereka : Bila kami telah menjadi debu, apakah kami sesungguhnya akan menjadi ciptaan baru…??? Begitulah orang-orang yang mengingkari Tuhannya, orang-orang demikian dibelenggu lehernya, orang-orang demikian adalah (akan menjadi) penghuni neraka, mereka akan tinggal di dalamnya ( AR RA’AD 13 : 5 ).

Dan mereka berkata : Bila kami hilang dalam tanah bagaimana kami dapat diciptakan kembali… ???  Tidak…!!!  Mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhan mereka  ( AS SAJADAH 32 : 10 ).

Demikianlah ganjaran bagi mereka karena mereka mengingkari tanda-Kami dan berkata : Bila kami telah menjadi tulang-belulang dan debu bertebaran, apakah kami sungguh akan dibangkitkan kembali sebagai ciptaan yang baru
( AL ISRAA 17 : 98 ).

Orang-orang yang ingkar berkata : Bila kami telah menjadi debu seperti nenek moyangkami, apakah kami akan dihidupkan kembali.  Sejak dahulu kami telah diberi ancaman dengan ini ( hari kebangkitan-reinkarnasi ) kami dan nenek moyang kami.  Sebenarnya ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu ( AN NAML 27 : 67-68 ).  
Bagi orang kafir Reinkarnasi hanya dianggap dongeng…

Orang-orang yang ingkar berkata : Maukah kami tunjukkan kepadamu seorang laki-laki yang mengabarkan kepadamu bila badanmu telah cerai-berai sama sekali, kamu akan diciptakan kembali  ( SABA 34 : 7 ).

Dan manusia berkata : Betulkah bahwa apabila aku telah mati, aku akan dihidupkan kembali…???  Tidaklah manusia itu ingat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, ketika ia tidak ada sama sekali  ( MARYAM 19 : 66-67 ).

Celakalah manusia, alangkah ingkarnya… Dari apa Dia ( Tuhan ) menciptakannya??? Dari setetes mani Dia menciptakannya dan membentuknya.  Lalu dia memudahkan jalannya, kemudian mematikan dan menguburnya, kemudian bila dikehendaki-Nya Dia menghidupkannya kembali  (‘ABASA 80 : 17-22).

Ia menciptakannya dalam ayat tersebut akan sama artinya dengan Ia menjadikan, dilahirkan kembali atau menghidupkan kembali di alam dunia nyata, bukan di alam ghoib akhirat, karena di dalam ayat tersebut tidak ada kata-kata akhirat.

Al Qur’an mengajak semua umat yang membacanya agar terus berfikir dan berfikir. Dengan banyaknya Surat-surat yang mengandung ayat-ayat tentang penciptaan  kembali, kebangkitan kembali, seolah-olah Tuhan memang menghendaki agar kita memikirkan hal tersebut yaitu reinkarnasi dan tidak mengingkarinya.

Bagi mereka yang ragu-ragu, Al Qur’an kemudian menegaskan :

Hai manusia…jika kamu ragu-ragu tentang kebangkitan, bahwa Kami ciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari suatu gumpalan daging yang berbentuk dan tidak berbentuk, agar kami dapat menjelaskan kepada kamu dan Kami tempatkan yang kami kehendaki di dalam rahim untuk suatu masa tertentu dan kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi dan kamu menjadi dewasa  ( AL HAJJ 22 : 5 )

Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam keadaan buta  ( THAHA 20 : 124 )

Setelah sempurna kejadiannya di dalam rahim, kemudian Ruh dihembuskan. Bila Tuhan menghendaki maka bisa saja Tuhan menghembuskan Ruh tersebut ke dalam rahim hewan yang sedang hamil, sehingga ketika dilahirkan, Ruh tersebut berada dalam tubuh hewan.

Barang siapa dipimpin Allah, ia dipimpin benar.  Barang siapa disesatkan-Nya, bagi mereka tidak kau dapatkan teman-teman pelindung selain Dia (Allah) dan Kami kumpulkan mereka pada hari kebangkitan di atas mukanya dalam keadaan buta, bisu dan tuli.  Tempat kediaman mereka adalah neraka; tiap kali apinya padam, kami besarkan nyalanya  ( AL ISRAA 17 : 97 ).

Demikian ganjaran bagi mereka, karena mereka mengingkari tanda-tanda Kami dan berkata : “Bila kami telah menjadi tulang belulang dan debu bertebaran, apakah kami sungguh akan dibangkitkan kembali sebagai ciptaan yang baru??  (  ISRAA 17 : 98 ).

Mereka yang disesatkan Allah maka tiada lagi pelindung baginya. Mereka buta di dunia dan buta pula di akhiratnya. Tidak ada sedikitpun cahaya yang akan membimbing mereka, karena mereka mengingkari tanda-tanda Allah. Mereka tidak percaya bahwa mereka akan dilahirkan kembali ke dunia nyata. Kemudian untuk menyadarkan mereka Allah berfirman :

Tidak-kah mereka lihat bahwa Allah menciptakan langit dan bumi berkuasa menciptakan yang sama dengan mereka dan Allah telah menetapkan suatu masa ( di akhirat ) bagi mereka yang tidak diragukan lagi ??? Tetapi orang-orang durjana enggan menerima kecuali dengan ingkar  ( AL ISRAA 17 : 99 ).
Tidak diragukan lagi artinya pasti terjadi. Allah tidak akan mengingkari janji-NYA.

Di alam kubur arwah orang-orang kafir menyesali perbuatannya tatkala dia hidup di dunia. Setelah kematiannya Ruh mereka bisa melihat dan mendengar sesuatu yang terjadi di alam kubur :
Sesungguhnya kamu telah lalai, maka mulai hari ini Aku buka tabir yang menutupimu, maka pandangan matamu menjadi tajam  ( AL QAF 50 : 22 ).

Kemudian Ruh mereka meratap memohon kepada Allah agar dihidupkan kembali serta mereka berjanji akan berbuat baik dan akan menjadi orang yang beriman.
Yang menjadi pertanyaan adalah : “Apakah di alam kubur bagi mereka yang sudah meninggal dunia itu masih bisa minta ampunan kepada Allah atau adakah semacam remisi, grasi atau bahkan amnesti dari Allah setelah kita berada di alam kubur ???

Ya Orang kafir senantiasa tidak ingat akan akibat kejahatannya, sehingga manakala datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia menyesal dan berkata : Ya Tuhanku, hidupkanlah aku kembali, agar aku dapat beramal saleh dalam perkara yang aku lalaikan… Tidak…!!! Itu hanya alasan belaka, dibelakang (waroo’a) mereka ada suatu tabir yang menghalangi mereka, sampai hari mereka dibangkitkan ( AL MU’MINUN 23 : 99-100 ).

Sekiranya kami dapat kembali kedunia, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang beriman.  Sesungguhnya hal ini menjadi keterangan yang nyata, tetapi kebanyakan mereka tidak mau percaya  ( ASY-SYU’ARA 26 :102-103 ).



REINKARNASI BAGAIKAN SIKLUS SIANG DAN MALAM

Menurut H.E Semedi siklus kehidupan dan kematian hampir sama seperti siklus adanya siang dan malam yang terus menerus, berulang-ulang, berlangsung secara berkesinambungan.

Kau masukkan malam ke dalam siang dan Kau masukkan siang ke dalam malam.  Kau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Kau keluarkan yang mati dari yang hidup.  Kau beri rizki kepada siapa yang Kau kehendaki tanpa batas
( ALI IMRAN 3 : 27 ).

Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Ia mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Ia menghidupkan kembali bumi setelah kematiannya, seperti itulah kamu akan di keluarkan  ( AR RUUM 30 : 19 ).

Katakanlah : Siapa yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan..???  Mereka akan berkata Allah.  Maka katakanlah : Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada Allah)…???
( YUNUS 10 : 31 ).

Dalam Surat Ali Imran 3 : 27 telah dijelaskan bahwa proses pergantian siang dan malam bukan terjadi hanya 1 kali saja, akan tetapi terjadi terus-menerus selama bumi beredar mengelilingi matahari dan berputar pada porosnya. Demikian juga mengenai siklus kehidupan dan kematian yang berulang-ulang dan terus menerus dinyatakan dalam kalimat : Kau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Kau keluarkan yang mati dari yang hidup, merupakan suatu analogi yang seolah-olah Allah memang menghendaki agar umat manusia senantiasa memperhatikan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini. Apa yang telah diciptakan Allah, maka Allah akan senantiasa mengulanginya. Analogi tersebut diperkuat melalui Surat Ar Ruum 30 : 19.
Malam—siang—malam—siang dst…
Mati—hidup—mati—hidup—mati..dst
Proses pengulangan siklus kehidupan di dunia setelah kehidupan di akhirat, bisa kita perhatikan melalui ayat-ayat tersebut dibawah ini :

Tidak-kah manusia itu ingat bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakan dahulu ketika ia tidak ada sama sekali  ( MARYAM 19 : 67 ).

Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan semula, begitulah Kami akan mengulanginya… ( AL ANBIYAA 21 : 104 ).
Dia-lah yang menghidupkan-mu, kemudian Dia mematikan-mu, lalu menghidupkan-mu (lagi).  Sesungguhnya manusia tidak tahu berterima kasih  ( AL HAJJ 22 : 66 ).

Allah-lah yang menciptakan-mu, lalu memberi-mu rizki, kemudian mematikan-mu, kemudian menghidupkan-mu lagi… ( AR RUUM 30 : 40 ).

Bagaimana kamu tidak beriman kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkan-mu, kemudian Dia mematikan-mu, kemudian Dia menghidupkan-mu (lagi), kemudian kepada-Nya kamu akan kembali  ( AL BAQARAH 2 : 28 ).

Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-nya, hendaklah ia berbuat kebaikan dan jangan mempersekutukan Tuhan-nya dengan apapun
( AL KAHFI 18 : 110 ).
Hanya kepada-Nya lah kamu semuanya akan kembali, sebagai janji yang benar dari Allah.  Sesungguhnya Allah yang memulai penciptaan, kemudian mmengulanginya agar Dia dapat memberikan pahala kepada mereka yang beriman dan melakukan kebaikan secara adil dan untuk orang-orang yang ingkar disediakan minuman yang mendidih dan azab yang pedih karena keingkaran mereka  ( YUNUS 10 : 4 ).


HARI KEBANGKITAN YANG INDAH, CERIA DAN DAMAI

Menurut H.E Semedi, kelahiran kembali ke alam nyata senantiasa dinyatakan di dalam Al Qur’an dengan perkataan “menghidupkan kembali”, “menciptakan kembali”, sedangkan kebangkitan Ruh di alam ghaib, pada umumnya dinyatakan dengan kata “membangkitkan”. Saat kebangkitan Ruh di alam akhirat itulah yang disebut dalam bahasa Arab qiyaamatu.

Qoyama, qoyum arti harfiahnya adalah berdiri… Jadi, hari qiyamat berarti hari kebangkitan, bukan hari kehancuran total sebagai akhir zaman seperti yang selama ini kita tafsirkan. Demikian juga kata ajal (ajalum musammaa) dalam bahasa Arab yang seharusnya ditafsirkan sebagai kurun waktu tertentu (term), sering ditafsirkan sebagai mati atau kematian…
Dalam masalah qiyaamat ini H.E Semedi menganjurkan agar kita menghayati Surat AL QIYAAMAH, dimana isi dari ayat-ayatnya pun ternyata tidak menyinggung masalah kehancuran total sebagaimana yang kita bayangkan selama ini.

Surat Al Qiyaamah menceritakan keraguan orang-orang kafir atau orang-orang fasik akan hari kebangkitan dan rasa takut mereka saat menghadapai sakaratul maut. Pada saat menjelang maut itu Allah memutar ulang rekaman perjalanan hidupnya dan akhirnya dia sendiri yang menjadi saksi atas dirinya sendiri.
Hal ini berbeda keadaannya bagi orang-orang mukmin, wajah mereka pada saat itu berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya, mereka mendapat rahmat Allah.

Beberapa cuplikan ayat-ayat dari Surat Al Qiyaamah :
Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan ( kembali ) tulang- belulangnya . Bukan demikian, sesungguhnya Kami berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya dengan sempurna ( AL QIYAAMAH 75 : 3-4 )
Ia bertanya : Bilakah hari kiamat itu ?? ( AL QIYAAMAH 75 : 6 )
Pada hari itu diberitahukan kepada manusia apa-apa yang telah dikerjakannya dan apa-apa yang dilalaikannya.  Di dalam diri manusia ada Yang Maha Melihat
( AL QIYAAMAH 75 13-14 )
Pada hari itu wajah mereka ( yang beriman ) berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya.  Wajah-wajah ( orang kafir ) muram,  karena akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang dasyat ( AL QIYAAMAH 75 : 22-23-24-25 )
Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan ( kematian )
( AL QIYAAMAH 75 : 28 )
Kepada Tuhan-mu lah pada hari itu kamu digiring ( AL QIYAAMAH 75 : 30 )
Apakah manusia mengira bahwa dia akan dibiarkan begitu saja ??? 
( AL QIYAAMAH 75 : 36 )
Bukankah ( Allah ) berkuasa menghidupkan orang mati ??
( AL QIYAAMAH 75 : 40 )
H.E Semedi mengajak kita untuk berfikir dan merenungkan kembali mengenai makna hari kebangkitan (qiyaamah) yang selama ini kita anggap sebagai hari kehancuran total atau hari akhir zaman melalui ayat yang lain :

Dan Allah, Dia-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati, lalu Kami hidupkan bumi yang telah mati dengan hujan itu.  Demikianlah kebangkitan itu  ( FAATHIR 35 : 9 ).
Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Ia mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Ia menghidupkan kembali bumi setelah kematiannya, seperti itulah kamu akan di keluarkan   ( AR RUUM 30 : 19 ).

Dari Surat Faathir 35 : 9 dan Surat Ar Ruum 30 : 19 tersebut bisa kita bayangkan bahwa hari kebangkitan adalah suatu musim semi yang indah penuh keceriaan dan kedamaian. Hari kebangkitan sama sekali tidak menggambarkan sesuatu yang sangat mengerikan, tidak menggambarkan suatu kehancuran total seperti dongeng yang selama ini pernah kita dengar sebelumnya… Karena Qiyam artinya bangkit…
Dengan demikian kita bisa memahami bila H.E Semedi berpendapat bahwa Ruh akan dibangkitkan dan dilahirkan kembali setelah dalam kurun waktu tertentu di alam kubur, tanpa harus menunggu sampai hari akhir zaman yang selama ini kita sebut sebagai hari qiyamat… Seharusnya hari qiyamat itu kita terjemahkan sebagai hari kebangkitan, bukan hari kehancuran. Kurun waktu tertentu itu lamanya tergantung kepada amal perbuatannya serta kadar keimanannya masing-masing.


REINKARNASI SEBAGAI BUKTI ALLAH MAHA ADIL

Kepada-Nya lah kamu semuanya akan kembali.  Janji Allah yang benar, Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya supaya Dia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan beramal saleh secara adil.  Sedangkan bagi mereka yang kafir (disediakan) minuman air yang mendidih dan azab yang pedih karena kekafirannya  ( YUNUS 10 : 4 ).

Barang siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan kehidupan yang baik dan kami akan memberinya pahala (sebagai balasan) sesuai dengan  apa yang telah mereka lakukan  ( AN NAHL 16 : 97 )

Kami akan memasang timbangan yang adil untuk hari kebangkitan, sehingga tak ada orang yang rugi sedikitpun, biarpun amalan itu hanya seberat biji sawi, Kami akan memperlihatkannya dan Kami cukup sebagai penghisab. ( AL ANBIYAA 21 : 47 ).


BENCANA ALAM DAN KEMATIAN MASAL

H.E Semedi juga mengulas mengenai tentang bencana alam dan kematian masal dalam Surat Al Haaqqah 69 : 13-19 serta Surat Az Zalzalah 99 : 1 – 6 sebagai berikut :
Dan apabila sangkala berbunyi sekali tiupan dan bumi beserta gunung-gunung diangkat dan dihancurkan dengan sekali benturan, maka pada hari itu terjadilah peristiwa kiamat dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah dan para malaikat akan berada di setiap penjuru langit.  Pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy Tuhan-mu di atas mereka.  Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhan-mu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya kedalam tangan kanannya, ia akan berkata : Ambilah, baca kitabku  (AL HAAQQAH 69 : 13 – 19).

Bilamana bumi digoncangkan dengan gempa buminya dan bumi mengeluarkan beban-bebannya (yang dikandungnya) dan manusia bertanya : Mengapa bumi ini (jadi begini)...??? Pada hari itu bumi akan menceriterakan kisahnya.  Karena sesungguhnya Tuhan-mu telah memerintahkan kepadanya.  Pada hari itu umat manusia akan keluar bergolongan-golongan untuk diperlihatkan perbuatan-perbuatan mereka  (AZ ZALZALAH 99 : 1-6).

Menurut H.E Semedi bila ayat-ayat dari kedua Surat di atas ditafsirkan secara harfiah, maka setiap orang pasti akan berfikir bahwa orang-orang mati harus menunggu sampai terjadinya kehancuran total pada akhir zaman sebelum mereka dibangkitkan kembali dan dihisab amal perbuatannya.

Ayat-ayat dari kedua Surat tersebut mengungkapkan dan menggambarkan suatu tragedi, suatu peristiwa yang dahsyat, suatu dramatisasi agar kita menghayati adanya peristiwa besar yang terjadi baik pada seseorang maupun pada sekelompok atau suatu umat yang mengakibatkan kematian ataupun kehancuran umat tersebut secara masal. Misalnya gempa bumi, letusan gunung berapi atau bencana alam lainnya seperti dalam riwayat kota Sodom dan Gomorah.

Pada peristiwa tersebut terjadi kematian secara serempak, kemudian mereka akan dihisab dan dibangkitkan kembali sesuai dengan kadar keimanannya masing-masing.  Bagi mereka yang soleh tidak akan gentar, tidak ada keraguan untuk memperlihatkan buku catatan amalnya kepada siapapun juga … Mereka ini yakin bahwa Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.   Mereka yakin bahwa Allah tidak akan mengingkari janjinya.


SANGGAHAN REINKARNASI
DARI PIHAK YANG BERWENANG

Seperti kita ketahui bahwa selama ini sebagian umat Islam tidak mempercayai adanya reinkarnasi.  Dalam hal ini Pemerintah c.q Departemen Agama memberikan sanggahan-sanggahannya berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an, terutama ayat-ayat yang menunjukkan adanya siksaan neraka jahanam serta ganjaran surga yang kekal abadi. Berarti setiap manusia yang sudah mati akan tetap tinggal di alam akhirat untuk selama-lamanya.
Menurut H.E Semedi bila kita hanya berpegang pada ayat-ayat tersebut saja tanpa melihat dan mempelajari ayat-ayat lainnya serta keterkaitannya satu sama lain atau tanpa melihat kandungan Al Qur’an secara keseluruhan, tanpa melihat Kemuliaan dan Keagungan Tuhan, tanpa melihat sifat Rahman-Rahim Tuhan, tanpa melihat bahwa Allah Maha Pengampun, terlebih lagi masalah reinkarnasi ini tidak bisa dibuktikan secara nyata, maka bisa dipastikan bahwa kita semua akan menolak adanya masalah reinkarnasi.

Beberapa ayat yang diajukan Pihak resmi antara lain adalah :

Surat AL MU'MINUUN 23 : 99 – 100
“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : “Ya, Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia. Agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak !!! Sesungguhnya itu adalah perkataan yang  diucapkannya saja. Dan di belakang (waraa) mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.

Surat AL FURQON 25 : 69
Akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kebangkitan dan dia akan kekal di dalamnya, dalam keadaan terhina.”
Surat YUNUS 10 : 27 dan 52
“Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang perlindungpun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim itu : “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal, kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.”

Surat AS-SAJADAH 32 : 14
“Maka. Rasakanlah olehmu (siksaan) disebabkan kamu lupa akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakanmu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang kamu kerjakan.”

Surat MUHAMMAD 47 : 15
Gambaran (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring dari Tuhannya, (apakah) sama dengan gambaran orang-orang yang kekal dalam neraka dan diberi minum air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya.
Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu) neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan atas keingkarannya terhadap tanda-tanda (ayat-ayat) kami.

Surat AT-TAUBAH 9 : 17 dan 63
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang hapus semua amal mereka, dan mereka kekal di dalam neraka.

Surat AL HASYR 59 : 17
Maka kesudahannya kedua golongan itu, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan (bagi) orang-orang yang zalim.

Surat AL BAQARAH 2 : 25, 29, 81-82, 163, 217, 257 dan 275
Dan sampaikanlah berita gembira bagi mereka yang beriman dan berbuat kebaikan, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang disucikan dan mereka kekal di dalamnya.

Surat ALI IMRAN 3 : 15, 77, 107, 116, 136 dan 198
Surat AL MAIDAH 5 : 80, Surat Al A’Raaf 7 : 36 dan 45
Dan banyak lagi ayat-ayat yang sejenis yang menunjukkan adanya siksa neraka dan ganjaran surga yang kekal di dalamnya. Oleh karena itu  dalam ringkasan ini tidak perlu semuanya harus dicantumkan, silahkan cari sendiri di dalam Al Qur’an.


SANGGAHAN DARI MEREKA YANG RAGU

Menurut H.E Semedi, sanggahan dari mereka yang tidak percaya akan adanya reinkarnasi adalah dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut :
“Mengapa di dalam Al Qur’an tidak terdapat kata-kata reinkarnasi dan tidak ada sebuah Hadits pun yang membahas tentang reinkarnasi???”

Memang benar istilah reinkarnasi tidak terdapat di dalam Al Qur’an. Menurut Semedi begitulah bahasa Al Qur’an yang penuh dengan perumpamaan-perumpamaan bagi mereka yang mau berfikir. Apakah engkau tidak mengetahui ??? Apakah kita harus menolak istilah zaman sekarang yang secara kebetulan tidak tercantum di dalam Al Qur’an ??? Misalnya : Istilah “listrik”, “reaktor nuklir”, “radio”, “televisi”, “galaksi”, “fisika”, “atom”, “psikiatri”, “hipnotis” dsb.

Dalam hal ini penulis ingin menambahkan bahwa istilah “keluarga berencana” pun tidak tercantum di dalam Al Qur’an, yang tercantum di dalam Al Qur’an hanya perintah menyusukan bayi selama 2 tahun ( AL BAQARAH 2 : 233 ) dan perintah bahwa kita hendaknya jangan sampai mewariskan (meninggalkan) keturunan yang lemah (ANNISAA 4 : 9). 

Lemah dalam arti kata yang luas … adalah lemah jasmaninya, ruhaninya, mentalnya serta lemah keadaan sosial ekonominya … Bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang atau suatu kaum kecuali orang atau kaum tersebut berusaha sendiri untuk mengadakan perubahan  (AR-RA’AD 13 : 11).  

Di dalam Al Qur’an memang tidak ada kata-kata reinkarnasi, yang ada adalah kata-kata : dihidupkan kembali, diciptakan kembali, dikeluarkan lagi, dikeluarkan untuk kedua kalinya serta kata-kata lain yang senada …
Mengenai Hadits, secara terus terang Semedi mengatakan bahwa beliau kurang menguasai masalah Hadits. Bagi Semedi segala ilmu dan semua ajaran telah tercantum di dalam Al Qur’an dengan sempurna. Walaupun demikian beliau memberikan penjelasan mengenai Hadits Rosulullah yang sering di ulang-ulang untuk memperingatkan para sahabatnya :
Janganlah kamu tuliskan ucapan-ucapanku !!! Siapa yang menuliskan ucapanku selain Al Qur’an, hendaklah menghapuskannya; dan kamu boleh meriwayatkan perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta terhadapku, maka tempatnya adalah neraka.

Dan apa yang diberikan Rosul kepada-mu, terimalah.   Dan apa yang dilarang
Rosul, tinggalkanlah… ( AL HASYR 59 : 7 ).
Hai orang-orang yang beriman… taatilah Allah dan taatilah Rosul (Nya) dan ulil amri diantara kamu.  Kemudian bila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rosul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.  Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya  (AN NISAA 4 : 59).

Menurut Semedi, mungkin pada saat itu Rosulullah sudah merasa khawatir, bila segala ucapan-ucapan beliau dibukukan, maka pada suatu ketika akan dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya :
  1. Kumpulan catatan tersebut bisa menjadi beban yang memberatkan bagi umatnya.
  2. Bisa menimbulkan perselisihan diantara umatnya dalam hal penilaian antara yang sahih dan yang tidak sahih.
  3. Akan menimbulkan mahzab-mahzab yang masing-masing berpegang pada ucapan Rasul yang mereka jadikan bahan bertentangan atau karena perbedaan persepsi mereka karena Rasul mengatakannya dalam situasi yang berbeda.
  4. Kemungkinan salah dengar, salah persepsi atau dibelokkan artinya baik secara disengaja maupun tanpa disengaja.
  5. Golongan yang membenci Islam akan dengan sengaja menyusupkan  ajaran-ajaran palsu.
  6. Serta hal-hal lain yang akan bisa merusak citra Islam.

Ternyata 200 tahun lebih setelah Rasulullah wafat dibentuk panitia untuk menghimpun dan membukukan Hadits-hadits Rasulullah. Menurut Semedi, mula-mula terkumpul lebih dari 600.000 “calon Hadits”, disaring menjadi 20.000 dan disaring lagi untuk dibukukan menjadi hanya tinggal beberapa ribu saja.

Melihat kurun waktu 200 tahun lebih yang sudah terlalu lama, serta jumlah “calon hadits” yang begitu banyak, maka bisa kita bayangkan betapa sulitnya pekerjaan yang dilakukan panitia tersebut. Mungkin terjadi perdebatan panjang bahkan perselisihan untuk menentukan mana yang sahih dan mana yang tidak. Wajar bila kemudian timbul golongan-golongan atau mahzab-mahzab.  Tidak aneh bila kemudian muncul golongan-golongan yang lebih mengutakamakan Hadits dari pada Al Qur’an.  

Kurun waktu 200 tahun lebih berarti sudah 2 generasi. Apakah masih ada saksi hidup ??? Apakah pada saat itu sudah ada sistim penyimpanan arsip yang baik ??? Apakah pengumpulan calon hadits itu dihimpun dari mulut ke mulut melalui wawancara ??? Apakah mereka yang diwawancarai tersebut mempunyai daya ingat yang kuat ??? Apakah diantara panitia tersebut tidak ada kelompok kepentingan ??? Mengingat mereka adalah bukan Rosul dan bukan pula para sahabat Rasul, mereka adalah generasi baru setelah Rasul. Siapa yang bisa menjamin bahwa di dalam Hadits-hadits yang disingkirkan itu tidak terdapat ajaran reinkarnasi ???

Mengingat pada saat itu banyak Kaum Nasrani yang bermukim di zajirah Arab, dimana Kaum Nasrani pun setelah mengadakan muktamar gereja kristen di Konstantinopel pada tahun 553 Masehi, yaitu kira-kira 50 tahun sebelum munculnya Agama Islam telah menetapkan untuk membuang ayat-ayat mengenai reinkarnasi dari kitab Injil. Apakah anggota panitia penyusun Hadits pada waktu itu tidak terpengaruh Kaum Nasrani yang telah membuang ajaran reinkarnasi tersebut ???

Sesungguhnya Al Qur’an telah meramalkan bahwa suatu saat nanti akan ada kelompok kepentingan yang lebih mengutamakan Hadits-hadits yang menurut mereka sahih daripada ajaran Al Qur’an.

Hal ini sesuai dengan Firman Allah :
Ya Tuhan-ku… Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhknan  ( AL FURQAAN 25 : 30 ).

Telah kami jelaskan kepada manusia dalam Al Qur’an ini segala pemisalan, tetapi manusia dalam banyak hal suka membantah   ( AL KAHFI 18 : 54 ).


Menurut Al Khathib justru hadits-hadits Rosulullah itu dibukukan karena mulai tampak adanya gejala-gejala pemalsuan hadits yang muncul di wilayah sebelah timur, pada saat pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khulafa ar-Rasyidin yang ke-lima. Umar bin Abdul Aziz memerintahkan Ibnu Shihab az-Zuhri untuk menghimpun sunah-sunah Rosulullah dan membukukannya menjadi beberapa eksemplar. Selanjutnya khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirimkan satu buku kepada setiap pejabat di wilayah-wilayah kekuasaan Islam.  
Hal ini terjadi pada awal tahun 100 H.  yang dianggap sebagai awal pembukuan dari hadits-hadits Rosulullah.  Himpunan Hadits yang dibukukan itu berasal dari catatan para sahabat pada zaman Rosulullah termasuk catatan dari Siti Aisyah setelah melalui seleksi yang ketat.  Catatan para sahabat maupun Siti Aisyah tidaklah berupa buku, namun berupa tulisan pada lembaran kulit, daun, tulang dan apa saja yang bisa ditulisi.

Setelah penulisan dipelopori oleh khalifah maka muncul keberanian dari para tokoh ulama terkenal lainnya yang menyusun buku tentang hadits Rosulullah, antara lain Imam Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hambal ( 164 - 214 H ) dan Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhori ( 194 - 256 H ) dan lain-lainnya.

Sesungguhnya penulisan hadits-hadits Rosulullah ini telah dilakukan sejak dini. Shahifah adalah catatan hadits yang berasal langsung dari Rosulullah sendiri yang memerintahkan untuk menuliskannya.  Perintah tersebut diberikan kepada Abdulah bin Amr (7 SH-65 H).  Tulisan tersebut diberi nama oleh penulisnya Ash-Shahifah Ash-shadiqah.  Tulisan-tulisan Ibnu Abbas (3 SH-68 H).  Shahifah Jabar bin Abdillah al-Anshari (16 SH-78 H).  Shahifah milik Hamam bin Munabbih (40 - 131H).  Catatan Hamam ini berasal dari Abu Hurairah, sebelum Abu Hurairah meninggal pada tahun 59 H.  Berarti dokumen tersebut  ditulis sebelum tahun 59 H.

Kaum orientalis berpendapat bahwa hadits-hadits Rosulullah mulai ditulis pada awal tahun 200 H dengan maksud untuk mengecoh orang Islam agar tidak mempercayai hadits. Kaum orientalis berpendapat bahwa hadits-hadits tersebut adalah tulisan atau pendapat para ulama biasa bukan dari Rasulullah S.A.W.
(Al-Khatib : Hadits Nabi sebelum dibukukan).

Meskipun Semedi tidak menguasai masalah hadits, dia mengajukan sebuah Hadits yang dapat dipergunakan untuk memperkuat kebenaran reinkarnasi :

Do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. : “Ya Tuhan !!! Bangunkanlah bagiku agamaku yang menjadi pegangan segala urusanku; bangunkanlah duniaku yang menjadi tempat (pencaharian) penghidupanku; bangunkanlah akhiratku yang menjadi tempat pulang bagiku; jadikanlah hidupku menjadi tambahan kekuatanku untuk segala amal kebaikan; dan jadikanlah kematianku untuk beristirahat dari segala kejahatan.
( Riwayat Muslim dari Abi Hurairah ).

 “Jadikanlah kematianku untuk beristirahat dari segala kejahatan.” Mengapa pada kalimat tersebut Rosulullah s.a.w. mempergunakan istilah kematian untuk beristirahat, tidak untuk berhenti dari kejahatan ???

Bagi mereka yang percaya akan adanya reinkarnasi maka kematian itu pada hakekatnya hanyalah selingan di antara dua kehidupan fisik dunia. Demikian juga sebaliknya, kehidupan fisik pun merupakan selingan dari antara dua kematian atau kehidupanan akhirat. Kita semua menyadari bahwa selama hidup di dunia tentu akan digoda oleh kebutuhan fisik dan nafsu yang bisa menjerumuskan diri ke dalam tindak kejahatan. Setelah kematiannya bagi ruh para durjana tidak akan bisa langsung berada di sisi Allah.  

Dunia fisik merupakan tempat ujian bagi setiap ruh untuk meningkatkan kualitas kesucian spiritualnya secara tahap demi tahap, sampai bisa mencapai tingkat ihsan dan insan kamil sehingga mereka tidak usah mengalami reinkarnasi secara terus menerus.  Mereka bisa tetap hidup kekal disisi Tuhannya dan mendapat rejeki, kecuali bila Tuhan menghendaki lain.  Itulah perjalanan sufistik yang mau tidak mau harus kita tempuh.
  
Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat  ( AL INSYQAAQ 84 : 19 )
Dan Kami telah tunjukkan kepadanya dua jalan, maka tidak-kah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.  Tahukah kamu jalan yang mendaki lagi sukar itu…??? (AL BALAD 90 : 10 – 12).
Cahaya diatas Cahaya, Allah akan membimbing dengan Cahayanya kepada yang Dia kehendaki ( AN NUUR 24 : 35 )


Adapun orang-orang yang berbahagia, mereka itu di dalam surga, tinggal di dalamnya selama terbentang langit dan bumi, kecuali Tuhan-mu menghendaki lain sebagai karunia yang tiada putus-putusnya  ( HUUD 11 : 108 ).

Pada dasarnya setiap Ruh senantiasa ingin hidup kekal di sisi Allah termasuk ruh para durjana sekalipun. Setelah kematiannya Ruh mereka bisa melihat dan mendengar sendiri tentang alam kubur :

Sesungguhnya kamu telah lalai, maka mulai hari ini Aku buka tabir yang menutupimu, maka pandangan matamu menjadi tajam  ( AL QAF 50 : 22 ).

Oleh karena itu, kemudian mereka (para ruh) memohon kepada Allah :
Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan memdengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal sholeh, sesungguhnya sekarang kami yakin
( AS SAJDDAH 32 : 12 ).

Seandainya kami dapat kembali ke dunia, niscaya kami akan menjadi orang-orang yang beriman ( ASY-SYU’ARA 26 : 102 ).


Sebagai bukti bahwa Allah Maha Mengabulkan semua do’a, Maha Pengasih lagi Penyayang, maka Allah pun berkenan untuk menghidupkan mereka kembali ke dunia nyata dengan syarat bahwa mereka bersaksi dan harus membawa amanah, tugas di dunia, agama atau amanah apapun dari Allah.  Di alam dunia, Allah pun akan menguji mereka dengan nafsu … Oleh karena itu, jangan merasa dirimu suci, tapi berusahalah hidup sebaik mungkin sesuai ajaran Al Qur’an dan Sunah Rasul …

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih…??? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dia kehendaki ….( AN- NISA 4 : 49 )
Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki .. ( AN-NUUR 24 : 21 )


Karena itu janganlah kamu menganggap dirimu suci !!!  Dia Maha Mengetahui siapa yang taqwa ( AN-NAJM 53 : 32 )


Hai orang-orang yang beriman janganlah ada diantara kamu yang memperolok-olokkan orang lain, karena mungkin mereka lebih baik  dari kamu …
Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau berburuk sangka , sesungguhnya berburuk sangka adalah dosa dan janganlah mencari-cari aib orang lain dan jangan pula sebagian dari kamu mencela dan membusuk-busukkan orang lain
( AL HUJURAT 49 : 11-12 )

Sanggahan lainnya adalah :
  1. Jika benar terjadi reinkarnasi, mengapa kita tidak ingat lagi kepada kejadian-kejadian pada kehidupan kita yang lalu ??”
  2. Mengapa menurut data statistik ternyata jumlah penduduk di dunia senantiasa meningkat ??” Dengan adanya reinkarnasi, seharusnya jumlah penduduk di dunia tidak akan bertambah banyak, karena Ruhnya juga tidak bertambah banyak.
Bila kita tidak bisa mengingat kejadian-kejadian pada kehidupan kita yang lalu, secara logika adalah wajar, karena ingatan kita tersimpan di dalam otak jasmani kita yang telah dikubur dan telah hancur menjadi tanah. Apakah ruhani bisa berfikir ??? Sebagaimana halnya dengan malaikat, apakah malaikat bisa berfikir ??? Apakah malaikat mempunyai nafsu, apakah malaikat mempunyai jenis kelamin ???

Penulis sendiri berpendapat bahwa Ruhani yang menggerakkan otak untuk berfikir dan mengingat sesuatu. Jadi, yang berfikir adalah otak. Otak tidak bisa mengingat sesuatu tanpa disertai adanya Ruhani, demikian juga Ruhani bila ingin menyatakan sesuatu harus melalui otak, kemudian otak akan menggerakkan tubuh.  
Bila Ruhani memasuki bayi dan dilahirkan kembali ke dunia, adalah wajar bila harus belajar lagi dari awal. Bila kita bisa mengingat peristiwa-peristiwa dikehidupan sebelumnya, maka kita bisa terbelenggu masa lalu, ini bisa menyebabkan kita stres berat… Allah Maha Mengetahui segala sesuatu… Allah tidak pernah membuat umatnya susah…

Semedi memberikan penjelasannya sesuai dengan Firman Allah :

Hai manusia… Jika kamu ragu-ragu tentang hari kebangkitan, maka sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari tanah, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan tidak sempurna kejadiannya, agar Kami dapat menjelaskan kepadamu dan Kami tempatkan yang Kami kehendaki di dalam rahim untuk suatu masa tertentu dan kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi dan kamu menjadi dewasa dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan diantara kamu ada yang dikembalikan ke tingkat hidup yang paling rendah setelah tadinya berpengetahuan  
 (SURAT AL HAJJ 22 : 5).


Menurut Semedi, bila pengertian “dikembalikan ke tingkat hidup yang paling rendah” ditafsirkan sebagai “dimasukkan ke dalam neraka”, “dijadikan kafir” atau “dijadikan pikun”, maka tafsiran-tafsiran tersebut menjadi tidak sesuai dengan kata-kata selanjutnya yaitu : “sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan”. Mengapa tidak sesuai ??? Mengenai tafsiran “dimasukkan ke dalam neraka”, menurut pendapat penulis juga terasa kurang pas, karena pada ayat tersebut tidak sedang membahas tentang masalah neraka.

Memang mengenai masalah usia tua dan kepikunan ada kaitannya, namun dalam hal ini, baik yang kafir maupun yang pikun walaupun pengetahuannya sudah menjadi berkurang, akan tetapi mereka masih mengetahui apa-apa, sehingga menurut pendapat Semedi mengenai penafsiran “dijadikan kafir” dan “dijadikan pikun” pada ayat tersebut, menjadi tidak seluruhnya benar.

Oleh karena itu, Semedi berpendapat bahwa kata-kata : “dikembalikan ketingkat hidup yang paling rendah, sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya berpengetahuan” lebih cocok bila diartikan sebagai : “dilahirkan kembali ke dunia sebagai bayi”. Dalam hal ini bayi yang baru dilahirkan dan tidak mengetahui apa-apa merupakan tingkatan hidup yang paling rendah dari siklus kehidupan manusia. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya bayi tersebut bisa melihat, bisa mendengar, bisa berbicara, menjadi seorang anak, menjadi remaja, berpengetahuan, berperasaan, berwawasan, menjadi dewasa dst…

Menurut Semedi hal ini didukung oleh firman Allah :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia (Allah) memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur  (SURAT AN NAHL 16 : 78).



Menurut penulis, di dalam kata-kata : “diantara kamu ada yang dikembalikan ketingkat  kehidupan  yang  paling  rendah” tersebut, bisa  berarti : “dilahirkan  kembali  ke dunia  dalam  kondisi  yang  memprihatinkan , baik  dari  segi  fisik  maupun  dari  segi  sosial  ekonominya  dan  penafsiran  yang  sangat ekstrem  adalah  “dilahirkan  kembali  kedunia  sebagai  hewan”.  Dalam  hal  ini  tidak ada  sesuatu  yang  tidak  mungkin  bagi  Allah.  Allah  Maha  Kuasa  atas  segalanya.

Mengenai  jumlah  penduduk  di  dunia  yang  setiap  tahun  selalu  meningkat, dimana  dengan  adanya  reinkarnasi  seharusnya  jumlah tersebut  tetap  tidak  meningkat ,  Sumedi  memberikan  penjelasan  berdasarkan  Al Qur’an  sebagai  berikut :
1.       Bumi  pada  zaman  dahulu  kala , ratusan  tahun  yang  lalu, pernah berpenghuni  jauh  lebih  besar  dari  jumlah  penduduk  bumi  pada  masa  kini .
2.       Peradaban  ilmu  dan  teknologi  penduduk  bumi  jaman  dahulu  kala  sudah  lebih  canggih  dari  ilmu  dan  teknologi  masa  kini.
3.       Kecanggihan  ilmu  dan  teknologinya ,  menyebabkan  mereka  lupa  diri,  mereka  menjadi  sombong ,  musrik dan  kutur.  Karena  terhijab  oleh  kecanggihan  ilmu  dan  teknologinya , mereka  melupakan  Tuhan-nya.   Kemudian  mereka  menyalahgunakan  ilmu  dan  teknologi  yang  dimilikinya ,  sehingga  menimbulkan  bencana  yang  sangat  dahsyat  dan  akhirnya  mereka  menjadi  musnah karena  ulah  mereka  sendiri.
4.       Mereka yang selamat adalah manusia-manusia pilihan Allah.
5.       Belum semua Ruh yang mati dihidupkan kembali, oleh karena itu penduduk bumi masih terus akan meningkat.

Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang telah kami binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya, maka lihatlah itu tempat kediaman sesudah mereka tidak didiami lagi, kecuali hanya sebagian kecil dan Kami adalah pewarisnya 
(AL QASHASH 28 : 58)

Surat Al qashash 28 : 58 ini memberikan kepada kita bahwa banyak negeri yang semula subur makmur, kerta raharja, gemah ripah loh jinawi namun penduduknya hanya bersenang-senang saja tanpa mensyukuri nikmat Allah artinya tidak peduli kepada masalah kelestarian alam serta lingkungan hidup, maka akibat kerusakan yang mereka timbulkan, mereka sendiri pun akhirnya ikut binasa.

Data-data sejarahnya juga ikut musnah. Hanya sebagian kecil saja yang tersisa baik alamnya maupun penghuninya. Oleh karena itu, penyebaran penduduk di dunia menjadi tidak merata. Di daerah yang subur penduduknya bisa sangat padat. Di daerah gersang penduduknya sangat jarang atau bahkan tidak ada sama sekali.

Daerah yang semula suburpun bisa rusak berat karena ulah manusia yang serakah, karena ulah manusia yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan kepentingan orang lain, tanpa memperhatikan kelestarian alam dan lingkungan hidup. Berapa banyak hutan tropis yang rusak ???  Konon kabarnya lembah  Mekahpun pada awalnya adalah daerah yang subur.

Legenda Benua Atlantis yang hilang mengisahkan kecanggihan ilmu dan teknologi penduduknya yang lebih canggih dari keadaan penduduk bumi masa kini. Edgar Cayce seorang para normal dari Amerika, pada masa hidupnya sempat menghipnotis dirinya sendiri dan menceritakan kisah kecanggihan ilmu dan teknologi penduduk Benua Atlantis tersebut. Kisah banjir besar di dalam Al Quran adalah kisah Nabi Nuh.

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukkannya di muka bumi dengan keteguhan yang belum pernah kami berikan kepadamu  (AL AN’AAM 6 : 6).

Berapa banyak umat yang telah kami binasakan sebelum mereka, sedangkan mereka lebih baik perlengkapannya dan lebih canggih dipandang mata (MARYAM 19 : 74).

Apakah mereka tidak bepergian di muka bumi dan memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka???  Mereka itu (orang-orang sebelumnya) lebih banyak dari pada mereka (yang sekarang) dan lebih hebat kekuatannya dan bekas-bekas peninggalannya di muka bumi, tetapi apa yang biasa mereka usahakan tidak dapat menolong mereka ( AL MU’MIN 40 : 82 ).

Maka ketika datang Rosul-rosul kepada mereka membawa bukti-bukti, mereka bersombong dengan pengetahuan yang mereka miliki, maka mereka ditimpa azab karena apa yang biasa mereka perolok-olokan itu ( AL MU’MIN 40 : 83 ).

Bahasa Al Qur’an menurut Semedi memang sesuai dengan zamannya, tidak ada istilah bom atom, bom nuklir, bom hidrogen atau senjata sinar laser dan sebagainya, bencana alam yang disebabkan oleh ledakan yang dahsyat hanya diumpamakan dengan ledakan seperti petir atau sebagai sapuan angin yang menghancur luluhkan segala sesuatu menjadi serbuk. Itulah bahasa Al Qur’an.
Bagi mereka yang mau berfikir : Apakah memang ada petir yang bisa membinasakan dan memusnahkan satu kaum ??? Apakah ada badai topan yang bisa menghancurkan segala sesuatu sampai menjadi serbuk ??? Bandingkan dengan kerusakan yang disebabkan oleh bom atom atau bom napalm  dan sejenisnya pada masa kini.
Jika berpaling, katakanlah : Aku telah memperingatkan kamu tentang petir, seperti petir (yang menimpa) kaum ‘Aad dan Tsamud ( FUSHSHILAT 41 : 13 ).

Dan juga pada ‘Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan sesuatu yang dilandanya melainkan menjadikannya seperti bubuk.  Dan pada Tsamud, ketika dikatakankepada mereka : Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu… Tetapi mereka durhaka terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir, sedang mereka melihatnya   (AZZARIYAAT 51 : 41-44)

Bagi mereka yang ragu juga mengatakan bahwa : “Reinkarnasi tidak terdapat dalam ajaran Islam”. Menurut Semedi memang benar demikian bila yang dimaksud dengan Islam adalah para penganutnya. Para penganut Islam dalam hal ini kebanyakan para ulama belum pernah mengajarkan paham tersebut. Hal ini mungkin sejak awal mereka sudah apriori terhadap masalah ini, sehingga sampai kapanpun akan terjadi perbedaan persepsi. Perbedaan persepsi ini bisa disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan serta keterbatasan akal pikiran kita sehingga kita kurang bisa memahami makna ayat-ayat Al Qur’an yang bersangkutan dengan masalah reinkarnasi.

Masalah reinkaransi ini adalah masalah Ruh. Masalah Ruh adalah masalah keghoiban dan kerahasiaan Allah, sehingga sulit untuk bisa dibuktikan secara nyata. Oleh karena itu, sulit untuk diyakini oleh kebanyakan orang awam, kecuali bagi para ulama kasyaf yang sudah bisa melihat alam ghoib dan alam kubur.
Demikian menurut pendapat penulis.

Maka sekiranya engkau berselisih pendapat, ikutilah golongan mayoritas yang berpijak kepada kebenaran dan terdiri dari ahlinya  ( Hadits ).
Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri, meskipun orang lain telah memberimu fatwa.  Yang terbaik adalah yang menentramkan Ruhani. ( Hadits )

Al Qur’an pun mengajarkan kepada kita bahwa bila kita tidak mengetahui maka kita harus bertanya kepada Ahli Ilmu. Namun ahli ilmu tersebut menurut Semedi harus yang berpijak pada azas kebenaran, misalnya dalam mentafsirkan ayat-ayat Al Qur’an juga harus benar, sesuai dengan artinya yang murni dan konsisten.

Semedi memberikan contoh sebagai berikut :
  1. Kata “mati” dalam Al Baqarah 2 : 28 :
“Bagaimana kamu tidak beriman kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Ia hidupkan kamu, kemudian Ia mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu ( lagi ), kemudian kepadanya kamu dikembalikan.
Semedi menghendaki agar kata “mati” tersebut jangan ditafsirkan sebagai tidak atau belum ada, sebagai “segumpal darah” atau pun sebagai “ketika di dalam rahim”.
Mati harus tetap ditafsirkan mati, yaitu keadaan setelah selesai siklus kehidupan dan sekarang berada di alam kubur.

  1. Kata Arab “ajalu” dalam Al An’aam 6 : 2 yang sebenarnya berarti “masa” atau “waktu” hendaknya jangan diterjemahkan sebagai “kematian”, karena tanpa disadari akan menghapuskan ajaran Allah yang menyatakan bahwa selain ada kurun waktu tertentu di dunia, ada pula kurun waktu tertentu di alam kubur atau di akhirat.
  1. Kata Arab qiyaamatu artinya yang murni adalah “kebangkitan”, yaitu kebangkitan Ruh Orang mati di akhirat atau di alam kubur setelah kematiannya, jangan ditafsirkan sebagai “akhir zaman”, “kebangkitan pada akhir zaman” atau “kehancuran total dunia pada akhir zaman”
  1. Kata-kata “diciptakan kembali”, “dihidupkan kembali”, dan “dikeluarkan” di dalam beberapa ayat Al Qur’an telah ditafsirkan secara tidak konsisten. Semula ditafsirkan sebagai “dilahirkan kembali ke dunia”, akan tetapi kemudian setelah kata-kata itu mendapat tambahan kata “lagi” atau “kembali” maka selanjutnya tafsirannya dirubah menjadi “dihidupkan kembali di akhirat”. Bila konsisten seharusnya tetap ditafsirkan sebagai semula, yaitu “dilahirkan kembali ke dunia”. 
Akhirnya menurut pendapat penulis, karena masalah reinkarnasi ini menyangkut masalah Ruh yang menjadi rahasia Allah, maka bila kita sulit untuk mendapatkan Ahli Ilmu yang berpegang pada kebenaran atau kita sulit mencari Ulama kasyaf yang sudah bisa melihat alam kubur, sebaiknya kita  hayati Hadits Rosulullah yang mengatakan bahwa setelah minta fatwa kepada orang lain, maka mintalah fatwa kepada hatimu sendiri dan yang terbaik adalah yang menentramkan ruhani kita masing-masing.

Reinkarnasi ini bukan tujuan akhir dari ajaran Islam, karena reinkarnasi adalah kembali ke alam dunia, sedangkan tujuan akhir dari ajaran Islam adalah kembali kepada Allah. Oleh karena itu mengenai masalah reinkarnasi hendaknya tidak perlu untuk diperdebatkan. 

Bagi penulis sendiri yang penting adalah bukan masalah reinkarnasinya, akan tetapi yang penting adalah usaha kita untuk mencapai tingkatan Ihsan dan Insan Kamil melalui perjalanan tasawuf, sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunah Rosul … agar kita bisa kembali kepada Allah dan tetap berada di sisi Allah … Kecuali bila Allah menghendaki lain…

Ingat Surat AL ASR 103 :1-3… Sesungguhnya jadi manusia itu selalu rugi…
Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau katakan mati. Tidak..!!!  mereka tetap hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rizki  ( ALI IMARAN 3 : 169 )  
Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah dia yang paling takwa diantara kalian 
 ( AL HUJURAT 49 : 13 )


PENELITIAN TENTANG REINKARNASI

Masalah reinkarnasi tidak terlepas dari masalah Ruh. Masalah Ruh adalah masalah keghoiban Allah dan juga merupakan rahasia Allah. Oleh karena itu sungguh sulit bila harus dibuktikan secara nyata. Masalah keyakinan seseorang terhadap masalah ini, tentu saja tidak bisa dipaksakan. Tidak ada paksaan dalam ajaran Islam. Demikian juga masalah komunikasi dengan Ruh.

Bagaimana menurut ajaran Al Qur’an…???
Sekalipun Kami turunkan malaikat dari langit kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu kehadapan mereka, mereka tidak akan percaya, kecuali bila Allah menghendaki tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui  ( AL AN’AAM 6 : 111 ).


Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau katakan mati. Tidak..!!!  mereka tetap hidup, hanya engkau tidak menyadarinya   ( AL BAQARAH 2 : 154 ).

Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau katakan mati. Tidak..!!!  mereka tetap hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rizki  ( ALI IMARAN 3 : 169 ).

Karena Ruh-Ruh tersebut tidak mati, maka walaupun jasadnya sudah mati dan sudah dikuburkan, Ruh mereka yang sudah meninggal itu, mengetahui siapa yang berziarah dan memberi salam kepadanya. Ruh mereka yang sudah mati dapat saling bertemu,berkumpul kembali bersama golongannya masing-masing yang seiman. Bahkan Ruh orang yang sudah mati bisa bertemu dengan Ruh  kita yang masih hidup, pada saat kita yang masih hidup dalam keadaan tertidur
(Surat Az Zumar 39 : 42). (al Jauzy Q : Masalah Ruh).

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan diridhoi-Nya,  masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku  ( AL FAJR 27 : 30 ).


Allah-lah yang mengambil jiwa manusia ketika wafat dan ketika tidurnya sebelum wafat, lalu ditahan-Nya jiwa itu (yang telah wfat) serta dilepaskan-Nya kembali jiwa yang lain (yang belum wafat) sampai batas waktu yang ditentukan.  Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir  ( AZ ZUMAR 39 : 42 ).


Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku, melainkan Allah menyampaikan kepada ruh-ku, sehingga akupun membalas salamnya ( Hadits Rosulullah ).

Seorang muslim yang lewat pada kuburan saudaranya yang dikenal dikala hidupnya di dunia, kemudian memberi salam kepadanya, maka Allah menyampaikan salam itu kepadanya sehingga ruhnya membalas salam itu ( Hadits Rosulullah ).


Dari kedua Hadits tersebut bisa kita pastikan bahwa Ruh bisa diajak untuk berkomunikasi, berarti Ruh masih bisa berfikir dan berbicara namun Ruh tersebut tidak bisa mengekspresikan karena dia sudah tidak memiliki sarana jasmani…
Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui … Demikian menurut Al Qur’an …

Masalah Ruh adalah urusan Allah, manusia hanya diberi pengetahuan sedikit saja mengenai masalah ruh ini. Walaupun demikian fenomena ruh ini sudah sejak lama menjadi perhatian para ilmuwan di negara barat, khususnya para ahli psikologi dan para ahli psikiatri yang melakukan penelitian melalui proses hipnotisme.

Para ilmuwan yang bukan dokter tentu saja melakukan beberapa penelitian tentang ruh ini berdasarkan keilmuannya masing-masing. Ada penelitian melalui mediator yang bisa berdialog dengan para ruh orang mati, teknik foto yang dikembangkan oleh Kirlian dari Rusia, deteksi melalui sinar infra merah sampai ke alat-alat elektronik canggih lainnya, seperti yang sering ditayangkan melalui TV.

Sampai sejauh ini agaknya penelitian mereka masih belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Penelitian mereka hanya sebatas pada fenomena saja, sedangkan substansi ruh sampai saat ini tidak bisa diketahui. Namun demikian agaknya mereka, para peneliti tersebut mulai percaya bahwa ada kehidupan atau alam lain setelah kematian jasmani. Mereka juga mulai percaya bahwa Ruh yang hidup di dunia sekarang ini, pernah mengalami beberapa kali kehidupan di dunia ini sebelumnya.

Penelitian reinkarnasi ruh melalui hipnotisme berawal dari ketidaksengajaan pada saat penelitian terhadap orang-orang yang mempunyai masalah kejiwaan. Dengan pengaruh hipnotis penderita tersebut diperintahkan untuk mengenang masa lalunya agar terungkap latar belakang penderitaannya. Pada suatu ketika karena pengaruh tenaga hipnotis yang begitu kuat, sampai kebablasan ke masa lalu yang jauh sebelum orang tersebut dilahirkan melalui jasad yang sekarang ini. Peristiwa ini merupakan titik tolak penelitian reinkarnasi Ruh melalui tata cara hipnotisme.

Kalnel Ruka adalah orang yang pertama kali yang berhasil mengembalikan keadaan jiwa seseorang ke masa lalunya, sampai melewati batas kehidupan yang sekarang sehingga mencapai alam yang gelap dan sunyi serta penuh rahasia, sebelum kelahiran kembali ke dunia nyata. Penelitian pun berlanjut, sehingga akhirnya Ruka menyimpulkan bahwa ada kehidupan ruh sebelum alam ini, bahwa ruh manusia pernah mengalami beberapa kali kehidupan melalui jasad yang berbeda-beda dan meninggal berkali-kali, sampai akhirnya mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebebasan (Abthahiy H : Rahasia Alam Arwah).

Michael Newton, ahli hipnoterapi, selama 10 tahun melakukan studi kasus perjalanan ruh pada penderita-penderita yang dihipnotisnya.  Newton pun menyimpulkan bahwa saat kematian, Ruh merasa bahagia karena terbebas dari beban.   ruh menjelaskan bahwa dirinya berupa cahaya yang dijemput oleh cahaya dan menuju kepada Cahaya Yang Sangat Kuat.
Menurut Newton semua Ruh memiliki status ilahi yang sama, karena berasal dari essensi ilahi yang sama, yaitu dari Ruh Yang Maha Tinggi.   Ruh ada yang muda ada yang tua dan yang lebih tua lagi jarang ber-reinkarnasi, bahkan tidak ber-reinkarnasi lagi bila sudah mencapai kematangan yang sempurna. Tanpa disadari hasil penelitian Newton ini membuktikan kebenaran ayat-ayat Al Qur’an….

Cahaya di atas Cahaya, Tuhan akan membimbing dengan Cahaya-Nya kepada Cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki ( AN NUUR 24 : 35 )

Sesungguhnya kamu melalui tingkat demi tingkat ( AL INSYIQAAQ 84 :19 )

Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, menghidupkanmu kembali, selanjutnya kepada-Nya kamu dikembalikan ( AL BAQARAH 2: 28 )

Sekarang ini selain melalui hipnoterapi, penderita dibimbing bermeditasi untuk memasuki periode kehidupan masa lalu saat trauma kejiwaan itu terjadi… 
Penulis pernah mengikuti sesi meditasi ke masa lalu bersama beberapa teman diantaranya ada sejawat dokter Spesialis Penyakit Dalam, teman se-asrama sewaktu masih menjadi mahasiswa di FKUI. 

Sejawat ini ternyata dikehidupan yang lalunya adalah seorang pendeta yang menjalankan misinya disuatu tempat kemudian digantung oleh penduduk pribumi, sehingga dikehidupan yang sekarang bila dia berjalan kepalanya miring, seperti sedang main biola.  Saat masih jadi mahasiswa di FKUI dia pernah memeriksakan dirinya ke Bagian Neurologi.  Dia diperiksa dengan alat-alat canggih, ternyata normal.   Alhamdulillah setelah mengikuti sesi meditasi ini dia sembuh, bila berjalan leher dan kepalanya tegak…
Subhanallah … Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Demikian juga penelitian melalui mediator yang bisa berkomunikasi dengan Ruh. Ruh yang dipanggil diperintahkan untuk menceritakan masa lalunya, mulai dari nama, alamat sebelum dia meninggal dunia, pekerjaan dan kegiatan selagi dia hidup di dunia. Dari penelitian tersebut, para Ruh ada yang tetap angkuh dan tetap tidak menyadari kenapa dia sekarang berada dalam penderitaan tanpa akhir, ada Ruh yang mengeluhkan penderitaannya di alam kubur dan mohon pertolongan agar dia bisa dikirimi do’a serta ada pula Ruh yang setelah kematiannya dia merasa terbebas dari rasa sakit dan penderitaannya tatkala hidup di dunia, dia merasa senang.

Menurut salah seorang sesepuh, bagi mereka yang bernegosiasi (bekerja sama) dengan makhluk halus jin, siluman atau yang disebut hodam dan sebangsanya, bila mereka mati bahkan sebelum saat kematian mereka, Ruh mereka diambil dan dijadikan budak oleh makhluk halus sesembahan mereka, untuk selama-lamanya. Mereka tidak bisa masuk surga, bahkan nerakapun tidak mau menerima mereka. Mereka tidak akan bisa mendapatkan ampunan dari Allah karena mereka telah melakukan dosa syirik. Oleh karena itu, ilmu tersebut tidak boleh dipelajari oleh para murid beliau. Semulia-mulianya ilmu adalah ilmu mengenal Allah.

Menurut penulis, kelemahan penelitian Ruh baik melalui hipnotisme maupun melalui cara mediator berkomunikasi dengan Ruh adalah kita tidak mengetahui keaslian Ruh tersebut. Apakah Ruh yang datang berkomunikasi itu Ruh asli ataukah jin yang berpura-pura jadi Ruh. Oleh karena itu, walau bagaimanapun masalah Reinkarnasi sangat sulit untuk dibuktikan secara nyata.

Walaupun demikian terlepas dari percaya atau tidak terhadap Reinkarnasi, secara pribadi penulis mengagumi dan meyakini betapa luasnya, betapa universalnya ajaran Al Qur’an, begitu luas cakupannya, hingga mencapai masalah reinkarnasi. Betapa sempurnanya ajaran Islam karena tidak terpaku pada masalah reinkarnasi. Akhir dari ajaran Islam adalah kembali kepada Allah, bukan reinkarnasi yang kembali ke alam dunia.  Maha Benar Allah dengan segala Firman-Nya.  Agar tidak dikembalikan lagi ke alam dunia maka kita harus ingat Surat Al Asr 103 : 1-3…

Seandainya kita percaya akan adanya reinkarnasi, hendaknya jangan tanggung-tanggung, harus percaya juga bahwa bila Allah menghendaki, maka manusia bisa dilahirkan kembali ketingkat kehidupan yang lebih rendah. Dia bisa dilahirkan kembali ke dunia sebagai hewan.

Reinkarnasi agaknya hanya bagi mereka yang tingkat keimanannya masih tipis.  Bagi mereka yang sudah mencapai derajat ihsan dan insan kamil, maka Allah-lah seindah-indahnya tempat untuk kembali, mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya serta mendapat rezeki (perhatikan Surat ALI IMRAN 3 : 14 dan 169). Kecuali bila Allah menghendaki lain (HUUD : 11 : 108).

Dengan demikian wajarlah bila para sesepuh kita yang ahli tasawuf tidak menghendaki dirinya untuk hidup kembali ke dunia nyata. Karena dunia yang penuh fatamorgana ini merupakan penjara dan siksaan bagi ruhaninya, sedangkan kematian adalah bahwa dirinya kembali ke Rahmat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Menurut para sesepuh, tugas para wali Allah adalah menjaga kelestarian agama Islam. Yang mengetahui wali Allah hanya para wali Allah itu sendiri. Bila salah seorang wali Allah meninggal dunia, maka akan muncul seorang  wali Allah yang lain, sebagai penggantinya.

Oleh karena itu, menurut penulis, bukan masalah reinkarnasi, akan tetapi yang penting adalah bagaimana usaha kita untuk bisa mencapai derajat Ihsan dan Insan Kamil, sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunah Rosulnya, agar tidak dikembalikan lagi ke alam dunia. Kehidupan yang kekal di sisi Allah itulah yang terbaik, itulah tujuan kita yang harus kita sadari… bukan untuk mencapai surga… karena di surga hanya ada kesenangan fisik… Para pencari sejati tidak mencari Surga, tapi mencari bagaimana caranya untuk bisa mencapai IKHSAN menjadi INSAN KAMIL yang mendapat keridhoan Allah serta ucapan selamat dari Allah..

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan diridhoi-Nya,  masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-KU  ( AL FAJR 89 : 27 : 30 ).

Salamun qaulam-mir-robbir-rohiim. Salam sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang ( YAASSIIN 36 : 58 ).

Oleh karena itu Al Qur’an telah memberikan peringatan agar kita mengakhiri masalah reinkarnasi ini melalui Surat Al Asr 103 : 1-3…
Demi waktu Asar… sesungguhnya manusia itu selalu dalam kerugian… kecuali bagi mereka yang beriman, mereka yang beramal soleh dan berbicara tentang hal-hal yang baik dan mereka yang sabar…

Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau katakan mati. Tidak..!!!  mereka tetap hidup, hanya engkau tidak menyadarinya  ( AL BAQARAH 2 : 154 ).

Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau katakan mati. Tidak..!!!  mereka tetap hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rizki  ( ALI IMARAN 3 : 169 ).


Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah dia yang paling takwa diantara kalian 
 ( AL HUJURAT 49 : 13 )

Dari Allah kembali kepada Allah. Dari Sang Pencipta kembali kepada Sang Pencipta.
Semua ciptaan Allah disebut MAHLUK dan mahluk ciptaan Allah itu ada yang tampak yaitu manusia dan alam semesta, sedangkan Mahluk ciptaan Allah yang tidak tampak diantaranya : malikat, jin, syaeton dan iblis, termasuk surga dan neraka… itu juga mahluk ciptaan Allah yang tidak tampak

SELANJUTNYA TERSERAH KITA MAU KEMBALI KEPADA ALLAH ATAU KEMBALI KEPADA MAHLUK CIPTAAN-NYA YANG DISEBUT SURGA…. 
UNTUK KESENANGAN FISIK DI SURGA … MONGGO… WANI PIRO…???


KESIMPULAN

Adanya ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah reinkarnasi ( kebangkitan kembali ) adalah merupakan bukti bahwa betapa luasnya kandungan Al Qur’an, betapa universalnya ajaran Islam, baik dari pengertian harfiahnya maupun makna hakikinya yang artinya damai, selamat, suci, kasih-sayang, sabar-ikhlas dan berserah diri kepada Allah…bukan berserah diri kepada dunia… Itulah Islam , itulah Fitrah yang sudah terprogram dalam hati nurani kita masing-masing… Oleh karena itu tidak ada perubahan pada fitrah Allah … ( Ar-Rum 30 : 30 )
Adanya pembahasan reinkarnasi di dalam Al Qur’an juga merupakan bukti bahwa Tuhan telah menyempurnakan agama bagi umatnya diseluruh dunia melalui ajaran Islam-Fitrah yang dibawakan oleh Muhammad SAW.

Masalah reinkarnasi ini memang sangat sulit untuk dibuktikan secara nyata, karena menyangkut masalah Ruh yang menjadi rahasia Allah dan masalah adanya perbedaan satuan waktu di dunia dan di akhirat, dimana 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia. (AL HAJJ 22 : 47).

Walaupun masalah reinkarnasi ini tidak bisa dibuktikan secara nyata, kewajiban kita adalah bahwa kita harus percaya akan kebenaran Al Qur’an. Kita juga harus percaya akan hal-hal yang bersifat ghoib ( perhatikan Surat AL BAQARAH 2 : 2-3 ).

Bahwa ber-reinkarnasi itu bisa dibangkitkan kembali ke kehidupan yang lebih baik sebagai suatu kemenangan atau bisa juga dimasukkan ke tingkat kehidupan yang sangat rendah sebagai suatu kekalahan dalam perjuangan melawan hawa nafsu.  

Hal ini  sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya. Dia Maha Kuasa untuk memberi bentuk apapun bagi yang Dia kehendaki, sesuai dengan Kudrat dan Irodat-Nya.  Adanya reinkarnasi justru sebagai bukti bahwa Allah Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pengampun serta Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Perhitungan Allah sangat tepat dan cepat, sehingga setiap pahala dan dosa sebesar jarahpun tak akan terlewatkan. Allah akan mengampuni semua dosa manusia, kecuali dosa syirik. Dosa syirik adalah dosa bagi mereka yang mempersekutukan Allah, yaitu mereka yang bernegosiasi dengan jin, setan, siluman dan sebangsanya. Ruh mereka tidak bisa masuk surga, bahkan neraka pun enggan menerima mereka. Ruh mereka disandera sebagai budak oleh sesembahan mereka. Oleh karena itu, jangan mempelajari ilmu-ilmu yang menjurus seperti itu, semulia-mulianya ilmu adalah ilmu mengenal Allah. 

Reinkarnasi merupakan sarana untuk memperbaiki diri bagi mereka yang keimanannya masih tipis. Berarti manusia yang semasa hidupnya hanya berbuat kejahatan saja, pada reinkarnasi yang berikutnya belum tentu dia tetap menjadi manusia jahat, mungkin dia menjadi manusia yang senantiasa berbuat kebajikan.

Di dunia nyata Ruh tersebut akan ditempa agar memperoleh kesempurnaan bathin tahap demi tahap, sampai mencapai tingkatan Ihsan dan Insan Kamil. Keagamaan seseorang dianggap sempurna bila telah mencapai tahapan Iman, Islam dan Ihsan.  Tingkatan Ihsan ini lah yang hanya bisa dicapai melalui tasawuf. 

Bagi mereka yang sudah mencapai kesempurnaan bathin, sudah mencapai derajat Ihsan dan Insan Kamil, mereka tidak ingin dihidupkan kembali ke dunia karena mereka sadar bahwa jadi manusia itu rugi karena Allah-lah seindah-indahnya tempat untuk kembali… Mereka ingin tetap hidup disisi Allah…

Demi waktu Asar… sesungguhnya manusia itu selalu dalam kerugian… kecuali bagi mereka yang beriman, mereka yang beramal soleh dan berbicara tentang hal-hal yang baik dan mereka yang sabar… ( AL ASR 103 : 1-3 ).

Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-nya, hendaknya ia mengerjakan amal soleh dan tidak mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhan-nya ( AL KAHFI 18 : 110 )

Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-KU ( LUQMAN 31 : 15 )
Inilah jalan yang lurus menuju kepada-Ku ( AL HIJR 15 : 41 )
Jangan ikuti jalan-jalan lain ( AL AN’AM 6 : 153 )

Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir ( AL INSAN 76 : 2-3 )

Tuhan menjadikan manusia berkeinginan, cinta terhadap wanita, putera-puteri, emas-perak, kuda pilihan, ternak, sawah-ladang, semuanya itu hanya secuil kesenangan hidup di dunia saja, namun Allah-lah seindah-indahnya tempat untuk kembali ( ALI IMRON 3 : 14 )

Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan mendapat rezeki ( ALI IMRON 3 : 169 )
Kecuali bila Tuhan-mu menghendaki lain ( HUUD 11 : 108 ) …

Dengan demikian sangatlah jelas dan gamblang bahwa tujuan akhir dari ajaran Islam adalah bukan reinkarnasi, bukan kembali ke alam dunia, akan tetapi tujuan akhirnya adalah kembali kepada Allah semata. Kembali kepada Cahaya Allah itulah yang disebut Swarga.  

Oleh karena itu, bukan masalah reinkarnasinya, yang penting adalah usaha kita untuk bisa mencapai derajat Ikhsan dan Insan Kamil sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunah Rosul.  Insya Allah reinkarnasinya akan berakhir….tidak akan dikembalikan lagi ke alam dunia… NAMUN tetap bersama Allah…

Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah dia yang paling takwa diantara kalian 
 ( AL HUJURAT 49 : 13 )
Sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal ( AL BAQARAH 2 : 197 )

Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah
 ( SHAAD 38 : 26 )
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwaya dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya ( ASY-SYAM 91 : 9-10 )

Reinkarnasi tidak terlalu penting dalam Islam, namun bermanfaat dalam dunia medis melalui hipnoterapi...pada penderita-penderita kejiwaan…

Demikianlah yang bisa penulis simpulkan tentang reinkarnasi. Sesungguhnya penulis tidak mengerti apa-apa, tidak bisa apa-apa serta tidak memiliki apa-apa. Jangankan kepandaian, kebodohan pun bukan milik penulis.  Masalah ada tidaknya reinkarnasi di dalam Al Qur’an terserah diri kita masing-masing…
Tanya aja sama Inul yang bergoyang… So what gitu loh…!!!???
Emangnye gue pikirin… cape deh… enjoy aja lagi… hehehe…

Sekalipun Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu kehadapan mereka, mereka tidak akan percaya … ( AL AN’AAM 6 : 111 )

Kata Rosulullah :
Mintalah fatwa pada hatimu sendiri setelah orang lain memberimu fatwa… setelah orang lain memberimu fatwa… setelah orang lain memberimu fatwa…

Allah memberikan petunjukNya ke hati, bukan ke otak ( AT-TAGABUN 64 : 11 )...
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati ( ALI IMRAN 3 : 13 ). 

Mata hati adalah hati nurani atau hati nuraini, berasal dari kata Nur dan Aini
Nur artinya Cahaya dan Aini artinya Mata…yang melihat...
Di dalamnya ada Cahaya Yang Maha Melihat   ( AL QIYAMAH 75 : 14 )

Kebenaran yang hakiki senantiasa datang dari Allah.
Sebagai insan, penulis mohon maaf bila ada kesalahan dalam penyampaian…


BAHAN BACAAN
  1. ABTHAHIY H : Alam-e Ajib-e Arwah.RAKHMAT M : Rahasia Alam Arwah. Cet. III .  PT lentera Basritama. Jakarta, November 1997
  2. GAZUR-I-ILAHI I. : The Secret Of Ana`l Haqq. HARAHAP B dan JOEBAR A :   Mengungkap Misteri Besar Mansur Al Hallaj : Ana`l Haqq. Ed. I, Cet.I.  PT Raja   Grafindo Persada.  Jakarta, Des. 1995.  
  3. HUDAF : Fenomena Ruh.  Realitas Ilmiah-Qur`aniah.  Yayasan Jalan Terang. Jakarta Timur, 1983.
  4. KHATIB M.A. : As-Sunnah Qoblat-Tadwin.  FAHMI A : Hadits Nabi    Sebelum Dibukukan.  Editor  SHOLIHAT M. Cet. I.  Gema Insani Press.      Jakarta, Juni 1999.
  5. MACKENZIE V. : Reinkarnation : The Spanish Boy Whose Destiny Was To Be  A Tibetan Lama. KISTONO L. : Reinkarnasi.  Misteri Bocah Spanyol Bernama Osel.Cet. II.  PT Utama Grafiti. Jakarta, Juli 1990.
  6. NEWTON M. : Journey Of Soul. Koleksi Studi Kasus Mengenai Kehidupan Selama Jeda Antarkehidupan. PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia. Jakarta, 2006.
  7. QOYYIM AL JAUZY S. : Arruh Li Ibnil Qoyyim.  KAFIE J. : Masalah Ruh. Cet. V.   PT. Bina Ilmu.  Surabaya, 1994.
  8. RADJAK A.H. : Hubungan baik.  Tarakan, Kalimantan Timur, 1998.
  9.  SEMEDI E. : Sebuah Ijtihad. 1984.  Foto copy tanpa nama dan alamat penerbit.