ADAKAH
REINKARNASI
DI DALAM AL QUR’AN
Edisi revisi
18 Februari 2018
Disusun oleh
Dr. H MAMAN SW Sp OG
http:
//www.slideshare.net/drmaman
http
: //www.drmamanspog.blogspot.com
Tuhan
menjadikan manusia berkeinginan,
Cinta terhadap
wanita, putera-puteri,
Emas-perak,
kuda pilihan, ternak, sawah-ladang,
Semuanya itu
hanya secuil kesenangan hidup di dunia saja
Namun Allah-lah seindah-indahnya
tempat untuk kembali
(ALI IMRAN 3 : 14)
Janganlah kamu
mengira orang-orang yang meninggal di jalan Allah itu mati,
Tidak…!!! Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan
mendapat rizki
( ALI IMRAN 3 : 169 )
Allah yang meninggikan langit tanpa
tiang yang tampak olehmu
Kemudian Dia bersemayam di atas
arasy
dan menundukan matahari dan bulan,
masing-masing beredar sesuai waktu
yang telah ditetapkan
Tuhan mengatur segala urusan
dan menjelaskan tanda-tanda
kebesaran-Nya
agar kamu meyakini pertemuan dengan
Tuhan-mu
( AR-RA’D 13 : 2 )
PULANG KAMPUNG
Goresan penaku adalah gelora jiwaku yang
resah gelisah
yang mengalir dari sungai kehidupanku
menuju samudera keabadian
Ku cari bumi pelarian dengan dada yang
senantiasa berdesah
Geram tenggelam kelam dalam keranda
jalang malam jahanam
Akhirnya terhempas tinggal ampas
Hati menjerit merintih ke langit
Menggelepar atas angan-angan yang
panjang
Ku coba mencari Cahaya Yang Hakiki
Meniti gili-gili menyusuri tepian kali
Menapak jejak leluhur
Disini air dan darah ibuku tertumpah
Tanah kelahiran … Lembut menyambut
Mesra membelai mereka yang istirah dan
tetirah
Kerinduanku …
bergayut pada pucuk-pucuk pohon jambu
bersama Yoyo, Edi, Uhi dan Dudung
Di tanah ini ku rasakan kedamaian
Kesadaran ku menggeliat…. Sumerah
pasrah
Aku harus berpacu dengan waktu
Matahari-ku … pasti berlalu
Langit ku telah senja… lembayung
sutera
Ibu Ayu…. Aku pun lelah sudah
Janganlah kau kutuk… bila aku
mengantuk
Di haribaanmu… biarkan tidurku lelap
Tugel rasa… as nyawa putih
Badan rebah…. ruh ngadeg
Purkutut… paksi mabur… kurungan katut
Dzat hilang tanpa kumpulan
Kahanan jati ning ora
Ya Ingsun Badan Kasirnaan…
Nur Haq… Nur Kudrat …Kun Dzat
Mulia Sampurna
Mulih
ke jati… pulang ke asal… pulang ke Rahmatullah
Aku datang… Ya Allah… Aku datang
Cierebon, malam tahun baru 31 Des.
1999
DONGENG PENDAHULUAN
Bismillaahirrahmanirrahiim…
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Robbi atas segala rahmat dan nikmat
serta hidayah-NYA yang telah dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis
berkesempatan untuk menunaikan rukun Islam yang ke lima pada bulan April 1998
(Dzulhijah 1419). Penulis ikut rombongan jemaah haji dari pesantren Yayasan Al
Amanah Cililin Bandung, dibawah bimbingan Bapak Drs K.H. A. Manshur bin K.H.
Makmun. Beliau pernah bermukim di Mekah
selama tujuh tahun…
Pada
saat di Mekah, kami berziarah ke MA’LA, tempat pemakaman umum bagi kaum
Muslimin termasuk para jema’ah yang meninggal di Mekah . Tempatnya datar
seperti lapangan tanpa rumput, hanya ada batu-batu sebesar kepala sebagai tanda
bahwa di bawahnya ada makam. Setiap lubang makam berisi lebih dari satu orang,
bisa sampai 5-6 orang. Lubang makam
dindingnya dibeton, setelah dimakamkan setahun, lubang tersebut digali kembali,
dikosongkan untuk pemakaman berikutnya. Sisa tulang belulangnya entah dibuang kemana. Dengan demikian tempat pemakaman ini dari
sejak dahulu sampai sekarang luasnya tetap, tidak berkurang dan tidak juga
bertambah.
Menurut
keterangan Bapak Drs. K.H. Manshur ada jenazah seorang ulama besar dari
Indonesia yang sangat terkenal yang wafat dan dimakamkan di pemakaman ini,
yaitu Sech K.H. Nawawi al Bantani (dari Banten Jawa Barat). Makam beliau pernah beberapa kali dibongkar
ternyata jasadnya dan kain kafannya masih tetap utuh. Untuk menghormati beliau, maka makamnya tidak
pernah dibongkar lagi.
Sebelum
kembali ke tanah air, kami sempat tinggal di Medinah selama 8 hari. Pada suatu hari di masjid Nabawi Medinah,
sambil menunggu sholat dzuhur, penulis sempat berbincang-bincang dengan sesama
jema’ah yang berasal dari Balikpapan, yaitu Bapak H. Tony Suryaatmaja SE dan
Bapak H. Abd. Radjak dari Tarakan Kalimantan Timur.
H.
Tony S. SE ini menceritakan pengalaman anehnya yang terjadi pada saat di
Masjidil Haram, Mekah. Setelah beliau
selesai mengerjakan putaran ke tujuh thowaf haji, sambil berjalan beliau
berdo’a dan bersyukur, kedua tangan terangkat disertai pandangan mata lurus ke
arah depan. Pada saat itu dia terkejut karena tidak jauh
di hadapannya ada seseorang yang menoleh, melihat dan tersenyum kepadanya.
Orang
tersebut wajahnya sangat mirip sekali dengan wajah mertuanya (Bapak Mertua) yang
sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Mertua
beliau ini semasa hidupnya dikenal sebagai seorang ulama tempat bertanya bagi
masyarakat di sekitarnya bahkan sampai ketempat yang jauh-jauh.
Mertua
ini meninggal dengan cara yang aneh tapi nyata, dimana pada saat jenazahnya
menyentuh tanah, jasadnya langsung hilang, yang tertinggal hanya kain kafannya
saja. H. Tony S. merupakan saksi mata, karena dia sendiri yang mengatur posisi
kepala mertuanya agar menghadap ke kiblat dan mencium tanah. Saksi lainnya yang
turun ke liang lahat adalah anaknya yang laki-laki serta adik mertuanya.
Agar
tidak menimbulkan kesalahpahaman, maka dengan secepatnya dilakukan penutupan
dengan papan seperti biasa dan segera ditimbun dengan tanah. Kejadian tersebut
sangat dirahasiakan oleh mereka bertiga, sampai terjadi peristiwa di Mekah.
Perlu
kita ketahui bahwa mertua H. Tony S ini
berasal dari daerah Martapura – Kalimantan Selatan, dan pernah berguru kepada
Sech al Banjari, mungkin keturunannya. Sech
al Banjari ini dikenal sebagai salah seorang wali Allah yang bermukim di
martapura sampai wafat dan dimakamkannya juga di Martapura, kebetulan penulis
pernah bertugas di sana. Menurut keterangan para sesepuh di Martapura, salah
satu dari keturunan Sech al Banjari ini pasti ada yang menjadi wali.
Dengan
demikian ada 2 versi cara kematian yang sangat kontras yang diperlihatkan atau
yang dikisahkan kepada kami yang
terlibat dalam obrolan pada saat itu. Ulama yang pertama dikisahkan meninggal
dengan jasad dan kain kafannya yang tetap utuh, ulama yang kedua dikisahkan
oleh saksi mata di liang lahat, setelah jenazahnya mencium tanah kemudian
jasadnya menghilang. Kami hanya bisa berucap Allahu Akbar, Maha Suci Engkau,
sesungguhnya kami orang yang dzolim.
Untuk
beberapa saat suasanapun menjadi hening … Apa … Mengapa … dan Bagaimana ilmunya
…??? Mana yang terbaik dari keduanya
…??? Itulah yang menjadi pertanyaan kami…
Semua ilmu adalah milik Allah.
Menurut
Al Ghazali : Semulia-mulianya ilmu adalah ilmu mengenal Allah …
Laa illaaha ilallaah … Laa adalah tiada .. Keakuan kita
musnah, dunia dan sekitarnya juga lenyap, fana … yang ada hanya Allah … Dia
ada. Tiada sesuatu apapun disamping NYA …
Segala sesuatu akan musnah, kecuali wajah-Nya (AL QASHASH 28 : 88).
Kita semua milik Allah, akan kembali kepada Allah (AL BAQARAH 2 : 156).
Janganlah engkau mati kecuali dalam keadaan berserah
diri (ALI IMRAN 3 :
102).
Atas
dasar ayat-ayat tersebut di atas, maka yang disebut kembali kepada Allah itu
seharusnya bagaimana ??? Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah itu yang
bagaimana ??? Manakala kita berserah diri kepada Allah, masih adakah rasa
ke-aku-an dalam diri kita ??? Bukankah rasa keakuan merupakan dosa sirik yang
tersembunyi ?? Apakah hal itu tidak akan merusak keikhlasan dan keimanan kita
??? Masih adakah rasa ke-aku-an di dalam diri kedua ulama yang dikisahkan di
atas ???
Muhammad
Rosulullah S.A.W bersabda :
Mintalah fatwa kepada
hati nuranimu sendiri, meskipun orang lain telah memberimu fatwa, meskipun
orang lain telah memberimu fatwa, meskipun orang lain telah memberimu fatwa …
Yang terbaik adalah yang
menentramkan ruhani … Demikian kata Rosulullah.
Al
Qur’an sendiri mengatakan agar kita senantiasa berpikir, berpikir dan berpikir,
apakah engkau tidak mengetahui. Berarti untuk kedua kasus diatas, mana yang
terbaik silahkan pikirkan sendiri …
Oleh
karena itu, penulis tidak merasa berhak untuk memberikan penilaian kepada kedua ulama tersebut. Walau
bagaimanapun, untuk mencapai tingkatan seperti kedua ulama tersebut tentu bukan
suatu pekerjaan yang mudah. Apakah ada pelajaran khusus yang dimiliki oleh
kedua ulama tersebut ??? Siapa gurunya ??? Kemana mencarinya ??? Seandainya
Allah berkenan memberikan sedikit pengetahuan kepada kita yang awam ini agar
bisa mengetahui mengenai hari H kita. Hal itu sudah merupakan suatu bonus yang
luar biasa bagi kita yang harus kita syukuri sekali … Apalagi kalau kita bisa
seperti kedua ulama tersebut.
Akhirnya
obrolan pun bergeser ke masalah ada tidaknya reinkarnasi dalam ajaran Al
Qur’an. Sebagian besar dari umat Islam agaknya tidak mempercayai adanya
reinkarnasi ini. Akan tetapi bagi mereka yang beragama Hindu, Budha atau
mungkin juga ajaran Kong Hu Cu, justru sebaliknya, mereka percaya akan adanya
reinkarnasi dalam siklus kehidupan berikutnya.
Mungkin
kita pernah membaca mengenai kematian Dalai Lama yang bernama Lama THUBTEN
YESHE, kemudian muncul kembali ber-reinkarnasi pada seorang anak laki-laki yang
bernama OSEL di negara Spanyol. Konon kabarnya, kedua orang tua si anak
tersebut adalah penganut agama Dalai Lama Tibet. Silahkan baca buku Mackenzie
tentang reinkarnasi.
Ada
suatu kisah populer yang pernah terjadi di dalam lingkungan keluarga penulis.
Kisah itu pun pernah disampaikan oleh ayahanda almarhum kepada penulis setelah
penulis dewasa. Kisah itu terjadi pada
saat acara khitanan kakak penulis yang bernama Yahya Zakaria Wiriaatmadja
(almarhum).
Sebagai
tradisi khitanan di daerah kami di Jawa Barat, pada umumnya hewan yang
disembelih saat mengkhitan anak laki-laki adalah seekor ayam jantan yang
disebut sebagai “bela”. Namun untuk
perjamuan tersebut, ayahanda almarhum telah mempersiapkan juga seekor sapi
jantan yang besar, berwarna coklat kehitam-hitaman, benar-benar gagah, mirip
seekor banteng.
Pada
saat direbahkan akan disembelih, sapi jantan tersebut meronta-ronta, mengamuk
walaupun akhirnya dia menyerah juga. Kemudian
keajaiban pun terjadi, ternyata sapi itu kebal. Golok jagal yang dipakai untuk menyembelih
lehernya, ternyata tidak bisa melukai sapi tersebut, goloknya seperti tumpul. Akhirnya sang jagal pun menghadap dan
melaporkan kejadian aneh bin ajaib tersebut, sambil menyerahkan goloknya kepada
ayahanda almarhum.
Atas
kejadian itu sesungguhnya ayahanda pun agak terkejut, beliaupun teringat akan
sesuatu yang kemudian beliau rahasiakan kepada siapapun termasuk kepada jagal
tersebut. Golok pun diterima dan dibawa
ayahanda masuk ke dalam kamar, kemudian beliau berdo’a memohon keridhoan Allah.
Setelah selesai berdoa golok tersebut
diserahkan kembali kepada jagal yang akan mengerjakan penyembelihan …
Sang
sapi pun ternyata tidak meronta-ronta lagi, terkesan pasrah dan mengeluarkan
air mata, sehingga orang-orang yang menyaksikan pun merasa aneh, bahkan ada
yang berkata : Sapinya kok menangis, seperti manusia saja !? … Selanjutnya penyembelihan
bisa dikerjakan dengan mudah sekali…
Yang
dirahasiakan oleh ayahanda almarhum adalah bahwa pada malam sebelumnya ayahanda
pernah bermimpi didatangi seorang laki-laki dengan perawakan yang gagah, kumis
melintang dan berpakain seperti seorang jawara. Setelah uluk salam, si orang ini memohon
dengan sangat agar dia “disempurnakan”
oleh ayahanda. Kemudian malam hari setelah penyembelihan itu, ayahanda pun
bermimpi didatangi orang itu lagi, dia mengucapkan terima kasih kepada ayahanda
karena dia telah “disempurnakan”,
kemudian dia mohon diri dan langsung pergi …
Menurut
ayahanda, almarhum kakek juga pernah melakukan proses “penyempurnaan” pada 2
ekor kambing yang disembelihnya, dimandikan kemudian dikafani dan dikuburkan.
Ketika
ayahanda dalam keadaan sakit parah karena kanker usus, penulis masih ingat saat
beliau dirawat di Rumah Sakit, beliau sempat memberi wejangan kepada penulis
bahwa beliau tidak akan meninggal di Rumah Sakit dan seandainya pulang
kehadirat Allah pun dia akan pulang pada hari Jumat. Kemudian beliau menambahkan bahwa sekarang ini
dia sedang menunggu satu tanda lagi, dimana bila tanda itu datang berarti hari
yang tersisa hanya tinggal 1 hari saja dan mungkin tidak akan sempat bertemu
lagi. Pada waktu itu penulis tidak
berani bertanya hari Jumatnya adalah Jumat yang mana, Jumat yang kapan ???
Ternyata memang beliau meninggal dunia pada hari Jumat 28 Desember 1984 pukul
04.00 WIB dan memang penulis tidak sempat berjumpa lagi dengan beliau.
Selanjutnya
ayahanda almarhum pernah mengatakan bahwa dia tidak mau kalau harus menitis
kembali (reinkarnasi), alasannya adalah bahwa perjalanan melalui reinkarnasi
itu sangat melelahkan, karena jadi bodoh lagi, sehingga harus merayap lagi dari
bawah, apalagi bila lahirnya di kolong jembatan … jadi anak gembel … Seandainya
dilahirkan sebagai anak konglomerat pun belum tentu bisa hidup enak.
Beliau
berpesan : Bila saatmu tiba, kamu pulang jangan sampai kesasar. Situasi ayah sudah tidak mungkin untuk
memberikan pelajaran ini, maka sebaiknya kamu harus mencoba mencari pelajaran
tersebut di Cirebon, mudah-mudahan di Cirebon masih ada yang memiliki pelajaran
ini, walaupun sangat sedikit sekali kemungkinan untuk mendapatkannya …Demikian
pesan terakhir almarhum yang disampaikan kepada penulis…Dari kata-kata beliau,
penulis mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan beliau memiliki pelajaran khusus
untuk maksud tersebut …
Semoga
Allah membimbing penulis dengan Cahaya-Nya kepada Cahaya-Nya.
Amin
… Amin … Ya Robbal Alamin …
SEBUAH IJTIHAD
Ketiga
kisah tersebut menjadi dorongan bagi penulis untuk membuka kembali setiap
lembar Al Qur’an, terutama yang berkaitan dengan masalah ruh dan reinkarnasi.
Sebelumnya memang penulis pernah menggaris bawahi beberapa ayat yang berkaitan
dengan masalah ruh dan masalah reinkarnasi ini, namun hati penulis masih merasa
belum pas, karena buku-buku tinjauan kepustakaan mengenai masalah ini sangat
sulit di dapat. Apalagi di kota kecil seperti di
Cirebon, walaupun sekarang di Cirebon sudah ada Toko Buku Besar Gramedia.
Pada
suatu hari secara kebetulan, penulis mendapat pinjaman sebuah foto copy dari
buku karangan H. E Semedi yang berjudul “SEBUAH IJTIHAD”. Ternyata
materi isi buku tersebut adalah bahasan mengenai reinkarnasi berdasarkan
ayat-ayat Al Qur’an yang agaknya selama ini kurang diperhatikan bahkan tidak
dipercayai oleh sebagian besar umat Islam.
Hanya
sayang sekali foto copy buku yang saya terima itu tidak mengikut sertakan baik
nama percetakannya ataupun nama penerbitnya. Walaupun tulisannya sudah agak
kabur, karena hasil foto copy buku yang difoto copy ulang, namun masih bisa
dibaca dan sangat bermanfaat sekali bagi penulis. Buku tersebut telah membuka
wawasan penulis serta menambah keyakinan penulis mengenai betapa universalnya
dan betapa sempurnanya ajaran Islam di dalam Al Qur’an. Untuk itu penulis
mengucapkan rasa terima kasih kepada pengirim buku tersebut dan juga kepada
penulisnya, yaitu H. E. Semedi.
Oleh
karena kondisi tulisan foto copy tersebut sudah mengabur, maka penulis berusaha
membuat ringkasannya saja serta tanpa mengurangi rasa hormat penulis pada H. E.
Semedi, penulis juga memberikan beberapa catatan sesuai dengan apa yang ditulis
oleh Semedi sendiri dan juga sesuai dengan keyakinan penulis.
Di
dalam buku tersebut, menurut H. E. Semedi, setiap manusia akan ber-reinkarnasi
atau dilahirkan kembali menjadi manusia harus melalui rahim manusia juga.
Manusia tidak akan dilahirkan kembali menjadi hewan melalui rahim hewan. Dalam hal ini mungkin beliau khilaf bahwa bagi
Allah tidak ada sesuatupun yang tidak mungkin. Allah-lah yang Maha Kuasa atas
segalanya. Allah yang menghidupkan, yang mematikan dan Allah juga yang
menghidupkan kembali. Allah yang berkuasa untuk merubah dan memberi kita
bentuk, apapun bentuknya.
Kami menentukan kematian di antara kamu dan Kami
berkuasa merubah rupa kamu dan menciptakan ( kembali ) dalam ( bentuk ) yang
tidak kamu ketahui
(AL WAAQI’AH 56 :
60-61).
Hai manusia, apa yang memeperdayakan kamu terhadap
Tuhan-mu Yang Maha Pemurah, yang menciptakan kamu, lalu membentuk dan
menyempurnakan kamu dalam bentuk yang dikehendaki-Nya Dia membentuk tubuhmu
(AL INFITHAAR 82 : 6-8).
Lalu Kami berfirman kepada mereka : JADILAH KAMU KERA !!!
(AL BAQARAH 2 : 65).
Tatkala mereka melanggar apa yang dilarang baginya, kepadanya : JADILAH KAMU KERA YANG DIJAUHI DAN
DI BENCI ( AL-A’RAF 7 : 166 ).
…
Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ( ada )
yang dijadikan kera
dan babi … ( AL MA’IDAH 5 : 60 )
Walaupun
mungkin yang dimaksud adalah perubahan moralnya menjadi seperti kera, akan
tetapi bila Tuhan menghendaki orang durjana itu dilahirkan kembali melalui
rahim kera, kemudian hidup menjadi seekor kera, maka siapa yang kuasa mencegah
kehendak Allah.
Sedangkan
H. E. Semedi sendiri berpendapat bahwa bila seseorang dilahirkan kembali ke
dunia, reinkarnasi, dengan jasmaninya yang baru ini, maka identitas orang
tersebut bisa berubah. Kebangsaannya atau kaumnya dan jenis kelaminnya pun bisa
berubah. Berarti menjadi se-ekor hewanpun seharusnya bisa. Bila Tuhan menghendaki, bentuk apapun bisa
terjadi.
Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia
menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dia memberikan anak perempuan kepada yang Dia
kehendaki, dan memberikan anak laki-laki kepada yang Dia kehendaki (ASY-SYUURA 42 : 49).
Tidak Aku sia-siakan amal siapapun yang beramal, baik
laki-laki atau perempuan . Kamu berasal
satu daripada yang lain.
(ALI IMRAN 3 : 195).
Pembahasan
mengenai reinkarnasi ini tentu akan mencakup masalah ruh, masalah alam akhirat,
masalah kurun waktu di alam akhirat yang semuanya itu tidak bisa dibuktikan
secara nyata. Selain itu juga menyangkut
masalah ayat-ayat Al Qur’an yang mutasyabihaat, yang mengandung kiasan-kiasan
dan perumpamaan-perumpamaan. Untuk mentafsirkan ayat-ayat tersebut diperlukan
suatu pengkajian dan penghayatan yang sangat mendalam.
Masalah
kita harus percaya atau tidak akan adanya reinkarnasi, itu tergantung kepada
diri pribadi masing-masing. Islam
mengajarkan agar kita berani berijtihad, berani untuk mengajukan pendapat
masing-masing. Terserah lu…EGP bro…
Barang siapa berijtihad, apabila dia benar, maka baginya
dua pahala dan apabila salah, maka baginya satu pahala (
Hadits Rosulullah SAW ).
Setelah
kita mengetahui adanya reinkarnasi berdasarkan ayat-ayat Al Qur’an, maka
menurut pendapat penulis, yang penting adalah mencari dan mempelajari ilmunya,
bagaimana tata cara pelaksanaan pengamalan dan penghayatannya, sesuai dengan
ajaran Al Qur’an dan Sunnah, sehingga kita hidup di dunia ini tidak membabi
buta, serta kita bisa selamat sampai kembali kepada Illaahi Robbi.
Bila kita buta di dunia, maka di akhirat pun akan
buta. (AL ISRA 17 : 72).
Sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit
dan Kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam keadaan buta. (THAAHAA
20 : 124).
Oleh
karena mereka buta, maka Ruh mereka tersesat masuk ke rahim hewan, sehingga
mereka terlahir kembali ke dunia ini sebagai hewan. Hal itu adalah merupakan
hukuman dari Allah, sesuai dengan amal dan perbuatannya tatkala mereka hidup di
dunia dimana perbuatannya lebih hina dari hewan.
Bagi
mereka yang beriman kepada Allah semata, maka Allah akan membimbing dengan
Cahaya-Nya kepada Cahaya-Nya. Mereka
akan mendapat keridhoan Allah dan mendapat ucapan selamat dari Allah.
Cahaya di atas Cahaya, Allah menuntun kepada
Cahaya-Nya kepada yang dikehendaki-Nya
(AN
NUUR 24 : 35).
Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), datanglah
kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan penuh keridhoan, masuklah ke dalam
golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku. (AL
FAJR 89 : 27-30).
Ucapan selamat dari Tuhan-mu. Salaamun qaulam
mirobbirohiim (YAASIN 36 : 58).
Untuk
mendapat taufik dan hidayah Allah, keridhoan Allah serta ucapan selamat dari
Allah, tentu bukan suatu hal yang mudah. Hal ini tergantung kepada kesabaran kita,
keimanan, keikhlasan serta tetap (istiqomah) bertawakal semata-semata kepada
Allah di dalam setiap menghadapi ujian dari Allah tatkala kita hidup di dunia.
Jika mereka tetap ( istiqomqh ) menempuh jalan (
tariqat ) itu, sesungguhnya akan kami beri air ( rizki, rahmat, makrifat ) yang
berlimpah-limpah (AL JIN 72 : 16).
Adanya
reinkarnasi ini justru untuk membuktikan kepada kita bahwa Allah itu Maha
Pengampun, Maha Adil serta Maha Bijaksana. Mengapa demikian ??? Karena Allah
akan memberi ampunan, katakanlah suatu grasi atau suatu remisi bagi manusia
durjana sekalipun. Islam tidak menganut
paham Unforgiving God, kecuali bagi mereka yang mempersekutukan Allah …
Demikianlah menurut H. E. Semedi.
Bila manusia itu mati maka ada tiga hal yang bisa menolongnya, yaitu :
Amal kebaikannya, ilmu yang diamalkannya dan do’a anak yang soleh
( Hadits Rosulullah ).
Katakanlah : Wahai hamba-hamba-Ku yang telah
melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa atas rahmat
Allah yang akan mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.
(AZ-ZUMAR 53).
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik,
tetapi Dia mengampuni dosa-dosa selain itu terhadap orang-orang yang
diridhoi-Nya (AN NISAA 4 : 48).
Kami akan memasang timbangan yang adil untuk hari
kebangkitan, sehingga tak ada orang yang rugi sedikitpun, biarpun amalan itu
hanya seberat biji sawi, Kami akan memperlihatkannya dan Kami cukup sebagai
penghisab. (AL ANBIYAA 21 : 47).
Sebaiknya
bagi mereka yang soleh, mereka akan mendapat pahala di dunia dan di akhirat. Walaupun mereka sudah meninggal dunia, do’a
dan amal ibadahnya masih tetap tercatat sebagai tabungan di akhirat. Contohnya adalah do’a Nabi Ibrahim atau do’a
Nabi Muhammad yang memohon kepada Allah agar umatnya mendapat keselamatan di
dunia dan di akhirat. Do’a Nabi Muhammad
ini bisa menjadi safa’at bagi umat yang senantiasa patuh dan ta’at mengikuti
ajaran beliau.
Demikian
pula halnya dengan do’a para leluhur kita, ketika mereka masih hidup di dunia,
do’a mereka telah tercatat sebagai tabungan di akhirat. Atas izin dan keridhoan Allah tabungan
tersebut bisa diterima oleh anak-cucunya sebagai karomah atau maunat, bila
anak-cucunya patuh dan ta’at kepada Allah dan Rosulnya serta sering berdo’a
untuk Rosul dan para leluhurnya, secara minimal memberikan hadiah Al Fatihah
bagi rosul serta bagi para leluhur mereka yang sudah almarhum.
Mari kita perhatikan beberapa firman Allah dibawah
ini :
Janganlah kamu mengira orang-orang yang meninggal di
jalan Allah itu mati, tidak…!!! Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan
mendapat rizki
(ALI IMRAN 3 : 169)…
Uenak buanget bro… Ga usah kerja
gitu lo…!!!
Mereka ( Ruhnya ) tidak merasakan kematian di dalamnya ( akhirat
), kecuali kematian yang pertama ( di dunia )… (AD
DUKHAAN 44 : 56). Ruh tetap hidup disisi Tuhannya..
Pengertian
rezeki dalam surat ALI IMRAN 3 : 169 sangat luas sekali, antara lain, misalnya
karomah atau maunat, do’a beliau akan turun kepada anak cucunya apabila
anak-cucunya patuh dan ta’at kepada Allah dan Rosulnya, serta sering
menghadiahkan do’a, secara minimal membacakan Surat Al Fatihah bagi arwah
baliau serta arwah para leluhurnya.
Dengan
memperhatikan kedua ayat tersebut, bisa kita pahami bahwa yang mengalami
kematian dan kehancuran adalah jasmaninya saja (kematian pertama), dari tanah
akan kembali menjadi tanah, sedangkan di alam akhirat ruhaninya tidak akan
merasakan kematian lagi. Ruhaninya akan
tetap hidup dan akan kembali ke alam ghaib. Selanjutnya apakah Ruhani yang akan menjalani
azab dan rahmat kubur…??? Ataukah
jasmaninya dihidupkan kembali agar merasakan balasan dari Allah, kehidupan yang
sempit di dunia ataukah kehidupan penuh barokah…???
Bila
kita perhatikan Firman Allah : Setelah
sempurna kejadiannya, Aku hembuskan Ruh-Ku kepadanya ( AL HIJR 15 : 29 ).
Berarti
setiap ruh itu merupakan Essensi Dzat Allah, dimana Dzat Allah akan tetap suci
dan tetap bersih dari polusi duniawi.
Oleh karena itu Ruh pun akan tetap suci, sehingga apakah mungkin ruh
mendapatkan siksa kubur…???
SURGA-NERAKA
DIMANAKAH DIKAU
Apakah
surga dan neraka itu hanya sekedar bahasa kiasan…??? Apakah hanya sekedar
bahasa metapora…??? Apakah ayat-ayat tentang surga dan neraka itu adalah
ayat-ayat mutasyabihat, yaitu ayat-ayat yang terselubung, penuh makna, bagaikan
seorang gadis yang memakai cadar…???
Manusia
itu ada jasmaninya, ada Ruhnya
dan ada nafsunya…
Yang
masuk surga atau neraka itu jasmaninya, Ruhnya atau… nafsunya…????
JASMANI :
Diciptakan dari lumpur, berarti manusia mmengandung unsur tanah dan air. Manusia itu membutuhkan oksigen dari udara, sehingga tubuhnya hangat, berarti pada jasmani ada unsur api dan angin. Setelah mati jasmaninya akan hancur dan kembali ke unsur semula.
Ruh :
Berasal dari DZAT ILAHI.. maka RUH TETAP SUCI.. Ruh tetap kekal tidak akan mengalami kerusakan dan kematian ...
Diciptakan dari lumpur, berarti manusia mmengandung unsur tanah dan air. Manusia itu membutuhkan oksigen dari udara, sehingga tubuhnya hangat, berarti pada jasmani ada unsur api dan angin. Setelah mati jasmaninya akan hancur dan kembali ke unsur semula.
Ruh :
Berasal dari DZAT ILAHI.. maka RUH TETAP SUCI.. Ruh tetap kekal tidak akan mengalami kerusakan dan kematian ...
Setelah sempurna kejadiannya, Aku hembuskan Ruh-Ku
kepadanya
( AL HIJR 15 : 29 dan ASH-SHAD 38 : 72 )..
Mereka
( Ruhnya ) tidak merasakan kematian di dalamnya ( akhirat ), kecuali kematian
yang pertama ( di dunia ).. (AD DUKHAAN 44 : 56)..
Pahami ayat ini secara
universal…
Karena
Islam ajaran dari Rosulullah saw adalah Rahmatan lil alamin, tidak sekedar
untuk umat manusia tapi juga untuk seluruh alam semesta… Dengan demikian RUH-KU
merupakan ESSENSI DZAT ALLAH yang imanen, yang bersemayam di dalam setiap
ciptaan-NYA, di dalam atom sekalipun sebagai SUMBER ENERGI… RUH-KU tetap suci,
tetap kekal abadi, tidak akan rusak dan tidak akan mengalami kematian.
Hadits Qudsi :
Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, oleh
sebab cinta, Aku ingin dikenal, maka Aku jadikan makhluk ( Nur Muhammad ) agar
ia mengenal akan Aku.
Hadits Rosulullah saw :
Aku adalah bapak dari segala ruh.
Aku berasal dari Cahaya Allah, semua yang ada di
alam ini berasal dari cahaya ku.
Yang mula-mula dijadikan Allah adalah Nur Nabimu ya
Jabir dan Allah jadikan dari Nur itu segala sesuatu dan engkau wahai Jabir
adalah termasuk sesuatu itu.
BERARTI RUH BERASAL DARI CAHAYA ALLAH
BERARTI RUH BERASAL DARI CAHAYA ALLAH
Karena
Ruh itu merupakan Essensi Dzat Allah dimana Dzat Allah akan tetap suci dan
tetap bersih tidak kena polusi duniawi.
Demikian juga Ruh, dimana Ruh pun akan tetap suci, Ruh akan tetap kekal,
Ruh tidak rusak dan tidak akan mengalami kematian, karena Ruh berasal dari Dzat
Allah. Oleh karena itu apakah mungkin Ruh
mendapatkan siksa kubur…???
Selanjutnya bila kita
perhatikan Firman Allah : Setelah sempurna kejadiannya, Aku hembuskan Ruh-Ku
kepadanya ( AL HIJR 15 : 29 ).
BERARTI RUH ADALAH ESSENSI-SARI PATI
DZAT ILAHIYAH YANG BERSEMAYAM DI DALAM SEMUA MAHLUK CIPTAANNYA…
Di alam semesta, di dalam hewan dan
tumbuh-tumbuhan, di dalam diri manusia, di dalam batu, di dalam patung, di
dalam ATOM
SEBAGAI SUMBER ENERGI…. Bila atom
meledak Hirosima dan Nagasaki hancur
Karena
Ruh itu merupakan Essensi Dzat Allah dimana Dzat Allah akan tetap suci dan
tetap bersih tidak kena polusi duniawi.
Demikian juga Ruh, dimana Ruh pun akan tetap suci, karena Ruh berasal
dari Dzat Allah. Oleh karena itu apakah
mungkin ruh mendapatkan siksa kubur…???
NAFSU :
KENAPA MANUSIA DIBERI NAFSU… ??? Karena Allah akan mengujinya...!!!
KENAPA MANUSIA DIBERI NAFSU… ??? Karena Allah akan mengujinya...!!!
Sesungguhnya telah Kami ciptakan
manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar
dan melihat.Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus, ada
yang bersyukur dan ada pula yang kafir .. ( AL INSAN 76 : 1 - 3 )
Apakah manusia mengira cukup dengan
berkata : kami telah beriman, dan mereka tiada di uji ? ( AL ANKABUT 29 : 2 )
Kami pasti akan menguji kamu sekalian
dengan sesuatu berupa ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta benda, jiwa dan
buah-buahan, tapi sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,
yang bila bencana menimpa dirinya dia berkata : sesungguhnya kita adalah milik
Allah dan kepada Allah kita akan kembali
( AL BAQARAH 2 : 155-156 )
Agar NAFSU terkendali maka diberi Amanah, Dibai’at
dengan SYAHADAT…
karena Allah Maha Mengetahui bahwa
manusia bersifat dzolim dan bodoh.
Terbukti setelah lahir ke alam dunia
manusia melalaikan amanah Allah, KARENA ADA NAFSU, sehingga manusia disebut
INSAN yang artinya LALAI
Sesungguhnya telah kami tawarkan
AMANAH kepada langit, bumi dan gunung-gunung, akan tetapi mereka semua enggan
memikulnya, karena takut menghianatinya, namun
manusia bersedia memikulnya, karena manusia sungguh zalim dan bodoh (AL AHZAB 33 : 72)
Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu
mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap mereka ( seraya berfirman ) :
Bukankah AKU TUHANMU…??? Semua jiwa ( anfusihim ) menjawab : Benar kami
bersaksi
( AL A’RAAF 7 : 172 )…
Semua umat manusia
di dunia sudah muslim karena sejak di alam arwah.. sudah bersyahadat, sudah di bai’at
Allah, tak perlu lagi dibai’at oleh
manusia…
Sabda Rosulullah saw : Berpeganglah pada Al Qur'an dan Sunnah agar selamat.. tidak ada
kewajiban bai’at bagi seorang muslim.
ANFUSIHIM bentuk jamak dari NAFS.. NAFSU.. namun ada yang mengartikan
NAFS sebagai JIWA dan ada juga yang mentafsirkannya sebagai RUH… Secara logika yang diberi amanah, yang
bersyahadat, yang bersaksi, yang dibai’at itu NAFSNYA, jiwanya, agar NAFS
TERKENDALI, bukan jasmaninya dan bukan pula Ruhnya…!!! Karena NAFS cenderung untuk
berbuat jahat…
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh
kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat oleh Tuhan-ku, sesungguhnya
Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(
YUSUF 12 : 53 )
Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya-nafsnya dan sesungguhnya
merugilah orang-orang yang mengotorinya (
ASY-SYAM 91 : 9-10 )
Nafsu adalah dosa syirik tersembunyi.. Nafsu itulah berhala besar yang
harus dihancurkan. Bukan patung-patung
di Purwakarta …!!!
Hujwiri sufi dari Persia berkata : Barang siapa yang mencampakkan hawa nafsunya
maka Tuhan akan mendekatinya, meskipun ia berada dalam gereja. Barang siapa yang mengikuti hawa nafsunya
maka Tuhan akan menjauhinya, meskipun ia
berada di dalam mesjid….
Islam semu gitu loh …!!!
Sufi lain mengatakan bahwa bila kita
berjalan mendekatkan diri kepada Allah maka Tuhan akan berlari mendekati kita …
RUH adalah ESSENSI DZAT ALLAH.. yang
berada di dalam setiap Ciptaan-NYA..
Setelah AKU sempurnakan kejadiannya
AKU hembuskan ruh KU kepadanya
( AL HIJR 15 : 29 dan ASH-SHAD 38 : 72 ).. maknai ayat ini
secara universal
Tanda-tanda Kami disegenap penjuru,
dan didalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al Qur’an itu
benar... ( FUSHSHILAT 41 : 53 ) …
...di dalam dirimu, apakah engkau tidak
memperhatikan (
ADZ-DZARIYAT 51 : 21 ).
Di dalam diri manusia ada Yang Maha Melihat .. ( AL QIYAMAH 75 : 14 )
Berarti RUH adalah ESSENSI-SARI PATI
DZAT ALLAH yang bersemayam, yang IMANEN di dalam semua mahluk ciptaan-NYA… Di
alam semesta, di dalam hewan dan tumbuh-tumbuhan, di dalam diri manusia, di
dalam batu, di dalam patung, di dalam ATOM SEBAGAI SUMBER ENERGI…. Bila atom
meledak Hirosima dan Nagasaki hancur …
Oleh karena itu, kata Al Ghazali :
1. Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhan-nya. Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasa dirinya bodoh. Barang siapa mencari Tuhan keluar dari dirinya maka dia akan tersesat semakin jauh…. Pertanyaan saya : Apakah mencari Tuhan ke Mekah tersesat…??? Apakah Allah ada di Mekah…??? Silahkan pikirkan sendiri
1. Barang siapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhan-nya. Barang siapa mengenal Tuhannya maka dia merasa dirinya bodoh. Barang siapa mencari Tuhan keluar dari dirinya maka dia akan tersesat semakin jauh…. Pertanyaan saya : Apakah mencari Tuhan ke Mekah tersesat…??? Apakah Allah ada di Mekah…??? Silahkan pikirkan sendiri
1.
2. Tauhid murni adalah penglihatan atas Tuhan
dalam semua benda …Bila kita tidak
menyadari adanya unsur-unsur keillahian yang tersembunyi di dalam setiap
ciptaan-Nya berarti islamnya adalah islam semu….
2.
AS
SYIBLI : Aku tidak melihat segala sesuatu kecuali Allah…
MUHAMMAD
BIN WASI : Aku tidak melihat segala sesuatu tanpa Allah di dalamnya…
Wajar bila para sesepuh kita bila hendak
menebang pohon selalu minta izin, minta maaf dan berdo’a terlebih dahulu.. Berarti yang disembah bukan bendanya, bukan nama-NYA
tapi essensi Dzat Ilahiyah yang ada di dalamnya. Lalu
bagaimana mereka yang menghancurkan patung-patung di Purwakarta.. ??? Seperti apa yang dikatakan Al Ghazali islamnya Islam semu.. islamnya masih islam-islaman…???
Namun
di dalam Al Qur’an memang tidak dikatakan amanah itu apa… Apakah berupa tugas
hidup di dunia sebagai apa…??? Ataukah amanah itu agama…??? Karena dunia adalah panggung sandiwara dan
Allah adalah sutradaranya. Dunia juga
merupakan bangku sekolahan bagi semua Ruh agar naik tingkat untuk mencapai
kesempurnaan melalui peran hidup kita di dunia sebagai apa…
Sesungguhnya telah Kami
tawarkan amanah ( agama…??? ) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, akan
tetapi mereka semua enggan memikulnya, karena takut menghianatinya, namun
manusia bersedia memikulnya, ia sungguh zalim dan bodoh sekali (AL
AHZAB 33 : 72).
Bila
kita perhatikan secara keseluruhan, maka setiap manusia seutuhnya akan memiliki
jasmani, ruh dan nafsu. Dalam keadaan
sadar dia akan merasa sebagai manusia seutuhnya, karena ada jasmaninya, ada
ruhaninya dan ada nafsunya… Dalam keadaan koma, pingsan atau tidur hanya ada
jasmani dan rohnya. Pada orang mati hanya ada jasmaninya saja, ruh dan nafsunya
tidak ada…
Bila
jasadnya rusak, maka Ruh akan keluar meninggalkan jasad bersama nafsunya, yang
disebut kematian. Proses kematian dan
pemusnahan hanya diderita oleh jasad. Ruh
tidak terkena proses degenerasi dan proses pemusnahan. Ruh tidak mengenal kematian, karena
pengertian RUH-KU adalah essensi dari Dzat Allah yang imanen dalam diri kita ( Al HIJR 15 : 29 dan AS SHAAD 38 : 72 ).
Mereka ( RUHNYA ) tidak merasakan kematian di
dalamnya ( akhirat ), kecuali kematian yang pertama ( di dunia ).. (
AD DUKHAAN 44 : 56 ).. Ruh tetap hidup disisi Tuhannya…
Setelah
jasad musnah, kemana Ruh akan pergi ??? Karena Ruh berasal dari Cahaya
Allah…apakah Ruh akan kembali ke Cahaya asalnya ??? Kembali ke Cahaya asal
disebut SWARGA, SWAR adalah Cahaya dan GA adalah kembali, seperti dalam
film GHOST yang dibintangi Demi Moore, dimana ruh pacarnya dijemput oleh
Cahaya…
Apakah
Ruh juga akan dibangkitkan kembali untuk ber- reinkarnasi ???
Mari
kita simak Firman Allah :
Wahai
nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah kepada Tuhan-mu
dengan suka cita dan penuh keridhoan… Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku
dan masuklah ke dalam surga-Ku
( AL FAJR 89 : 27-30 ).
Pengertian
NAFSU
dalam hal ini mencakup amarah, luwamah,
sufiah dan mutmainah. Semua umat Islam percaya akan adanya rahmat dan siksa
kubur.
Yang menjadi pertanyaan
:
Bila
yang dipanggil Allah itu MUTMAINAHNYA saja, maka yang akan
mendapat azab kubur itu apanya …???
Apakah jasmaninya, Ruhnya ataukah amarah, luwamah dan
sofiyahnya,??? Ruh tidak mungkin kena
azab, karena Ruh tetap suci… Jasmani di kubur… hancur jadi tanah… Jasmani tanpa
Ruh dan nafsu apakah bisa merasakan sakit dan pedihnya siksa kubur…???
Sebelum
terjadi kiamat konon kabarnya Ruh mereka yang sudah mati berada di alam
barzah… Konon kabarnya proses pengadilan
di Padang Masyar itu nanti setelah hari kiamat.
Jadi apa yang sedang dilakukan para Ruh orang-orang yang sudah mati itu
saat ini…??? Apa yang sedang terjadi
pada diri para Ruh mereka saat ini…??? Apakah mereka sudah masuk surga untuk
mendapatkan pahala atau sudah masuk neraka untuk menerima siksa tanpa proses
pengadilan…???
Di
dalam Al Qur’an, gambaran di surga hanya ada kesenangan fisik antara lain : air
yang mengalir, makanan dan minuman yang tidak memabukan, kasur-kasur yang
empuk, gadis-gadis montok dan bidadari,
namun cowo maconya dan bidadaranya ngga ada…!!! Jadi ibu-ibu rugi dong… di surga ngga ada
pendampingnya…
Apakah
mungkin Ruh tanpa jasmani tanpa nafsu bisa merasakan nikmatnya surga…??? Apakah
Ruh ada kelaminnya…??? Silahkan jawab
sendiri.
Gue
sendiri bingung BRO…
Bila
Ruh ada kelaminnya, bidadarinya dan gadis montoknya mungkin hamil dan gue bisa
praktek disana nolongin bidadari melahirkan.
Mungkinkah ayat-ayat tentang neraka dan surga itu adalah ayat-ayat
mutasyabihat, hanya bahasa kiasan atau
bahasa metapora tentang kesusahan dan kesenangan hidup di dunia … ???
EGP
aja lagi….
Surga
yang mengalir sungai-sungai dibawahnya…mereka diberi buah-buahan…
mereka memperoleh pasangan-pasangan yang suci
( AL BAQARAH 2 : 25 )
Dan
kasur-kasur yang tebal lagi empuk ( AL WAQIAH 56 : 34 )
Dan
gadis-gadis montok yang usianya sebaya ( AN NABA 78 : 33 )
Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan
menundukkan pandangan, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka dan
tidak pula oleh jin.
Maka nikmat ( SEX ) Tuhan kamu yang manakah
yang kamu dustakan
( AR-RAHMAN 55 : 56-57 )
Minuman
dari gelas yang campurannya adalah air kafur … ( AL INSAN 76 : 5 )
Wedang jahe dari mata
air salsabila… (
AL INSAN 76 : 17-18 )
Campuran
khamr murni dari Tasnim ( AL MUTAFFIFIN
83 : 27 )
Minuman
di surga air kapur dan wedang jahe…???
Kurang gizi…!!! Surga gitu loh…!!!
Namun menurut berita terkini, di zaman now, di surga sudah ada perbaikan gizi, sudah ada
es cream magnum, capucino, fanta dan coca cola.
Nerakanya juga sudah dipasangin AC… Luaaarrr biasa… hehehe..
Daripada
mereka di alam barzah bengong… maka wajar bila Allah menghidupkan mereka
kembali ke alam dunia, bereinkarnasi untuk menerima balasan atas apa yang
mereka lakukan di kehidupan mereka sebelumnya… Apakah azab yang pedih berupa
kehidupan yang sempit ataukah kehidupan yang penuh berkah di dunia sebagai
pahala dari Allah Yang Maha Adil, Maha Rahman dan Maha Rahim…??? Itu semua
sebagai pembelajaran bagi semua Ruh di dunia untuk mencapai kesempurnaan… agar bisa kembali kepada Allah...
Barang
siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan
yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam
keadaan buta ( THAHA 20 : 124 )
Mereka menetap di dalamnya ( neraka???
), tidak akan diringankan baginya siksaan, dan tidak pula mereka ditunda
(siksaannya), kecuali mereka kemudian bertaubat dan berbuat baik,
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
( ALI IMRAN 3 : 88 – 89
).... Taubat itu di dunia ataukah di akherat... ???
Setiap yang memiliki nafs (nafsin) akan
merasakan kematian dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepada kamu
ganjaranmu. Barang siapa dipindahkan
dari api (neraka) dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia memperoleh
kemenangan dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan….(
ALI IMRAN 3 : 185 ). Surga itu kesenangan hidup di dunia yang memperdayakan..
Apakah
mungkin taubat itu dilakukan di alam barzah…???
Taubat hanya mungkin dilakukan tatkala kita masih hidup di
dunia…??? Sekotor apapun manusia,
sebesar apapun dosa kita, Allah Maha Pengampun, Allah Maha Rahman dan Maha
Rahim…
Allah
akan menerima siapapun yang kembali kepada-Nya… dan diberi ampunan, dilapangkan
jalan kehidupannya dan diangkat kembali derajatnya. Diangkat dari neraka dunia, dipindahkan ke
surga, itulah suatu kemenangan... Diangkat dari kehidupan yang sempit dipindahkan ke
kehidupan yang menyenangkan namun juga memperdayakan, karena ada nafsu… sesuai
Surat ALI IMRAN 3 : 185…
Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas
terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa atas rahmat Allah yang akan
mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(AZ-ZUMAR 53).
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik,
tetapi Dia mengampuni dosa-dosa selain itu terhadap orang-orang yang
diridhoi-Nya (AN NISAA 4 : 48).
Barang
siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-nya, hendaklah ia berbuat
kebaikan dan jangan mempersekutukan Tuhan-nya dengan apapun
(
AL KAHFI 18 : 110 ).
orang-orang
yang beriman mintalah pertolongan dengan sabar dan Sholat, sesungguhnya Allah
bersama orang-orang yang sabar ( AL
BAQARAH 2 : 153 )
Cahaya
di atas Cahaya, Allah akan membimbing dengan Cahaya-NYA kepada Cahayanya
bagi yang Dia kehendaki (
AN NUUR 24 : 35 ).
Barang
siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar dan
memberi rizki dari arah yang tidak diduga … Allah akan memberikan kecukupan …
akan dimudahkan segala urusannya … dihapus segala kesalahannya …serta dilipat
gandakan pahalanya ( AT THOLAQ 65 : 2-3-4-5 ).
Ingatlah
Allah sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-NYA di waktu pagi dan petang,
Dia akan mengeluarkan
kamu dari kegelapan kepada Cahaya yang terang
(
AL AHZAB 33 : 41-43 )
Selesai
sholat, bertebaranlah kamu di muka bumi, cari karunia Allah, kerjakan
dzikir sebanyak-banyaknya agar kamu sukses ( AL JUMU’AH 62 : 10 ).
Hai
orang-orang yang beriman, jika kamu menolong ( agama ) Allah, niscaya Dia akan
menolong dan
meneguhkan kedudukanmu ( MUHAMMAD 47 : 7
).
Barang
siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan
kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan kehidupan yang baik dan Kami akan
memberinya pahala sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan
(
AN NAHL 16 : 97 )
Wajar
bila ada sesepuh yang mengatakan bahwa neraka dan surga itu adanya di
dunia. Neraka adalah kehidupan yang
sempit dan surga adalah kehidupan yang menyenangkan di dunia. Dikehidupan baru yang penuh barokah dan
menyenangkan, mungkin kita tidak lulus ujian, karena ada nafsu. Kehidupan di dunia hanyalah kesenangan
yang memperdayakan, karena ada nafsu.. Para pencari sejati bukan mencari dunia dan bukan pula surga…tetapi mencari
keridhoan Allah dan ucapan selamat dari Allah..
Allah-lah seindah-indahnya tempat
untuk kembali… (ALI IMRAN 3 : 14)
Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), datanglah
kepada Tuhan-mu dengan rasa suka cita dan penuh keridhoan, masuklah ke dalam
golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam surga-Ku. (AL
FAJR 89 : 27-30)...
Ucapan selamat dari Tuhan-mu. Salaamun qaulam
mirobbirohiim ( YAASIN 36 : 58 )
Dari
Sang Pencipta kembali kepada Sang Pencipta. Semua ciptaan-Nya disebut
makhluk, ada yang tampak dan ada yang tidak tampak. Surga itu ciptaan Allah yang tidak tampak,
berarti surga adalah makhluk. Kita harus
kembali kepada Allah bukan kepada makhluk.
Ruh mengalami ribuan kali reinkarnasi ke alam dunia, karena dunia merupakan bangku sekolahan bagi setiap ruh untuk naik tingkat sampai akhirnya Ruh mencapai kesempurnaan. Setelah Ruh mencapai kesempurnaan, maka Ruh itu tidak akan ber-reinkarnasi lagi, dia akan tetap di sisi Allah. Itu yang enak, ngga usah kerja…
Oleh karena itu kata Al Qur’an jadi manusia itu merugi…lebih baik tetap hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rizki... Kita harus berusaha agar tidak dilahirkan kembali ke dunia.
Ruh mengalami ribuan kali reinkarnasi ke alam dunia, karena dunia merupakan bangku sekolahan bagi setiap ruh untuk naik tingkat sampai akhirnya Ruh mencapai kesempurnaan. Setelah Ruh mencapai kesempurnaan, maka Ruh itu tidak akan ber-reinkarnasi lagi, dia akan tetap di sisi Allah. Itu yang enak, ngga usah kerja…
Oleh karena itu kata Al Qur’an jadi manusia itu merugi…lebih baik tetap hidup di sisi Tuhannya dan mendapat rizki... Kita harus berusaha agar tidak dilahirkan kembali ke dunia.
Demi waktu Asar… sesungguhnya manusia itu selalu
dalam kerugian… kecuali bagi mereka yang beriman, mereka yang beramal soleh dan
berbicara tentang hal-hal yang baik dan mereka yang sabar…( AL ASR
103 : 1-3 )
Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu
tadinya mati, lalu Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian
menghidupkannu kembali, selanjutnya kepada-Nya lah kamu dikembalikan (AL
BAQARAH 2 : 28).
Innaa
lillaahi wa inna ilaihi raajiuun. Dari Allah kembali kepada Allah Sang Pencipta ( AL
BAQARAH 2 : 156 ).
Allah-lah
seindah-indahnya tempat untuk kembali ( ALI IMRAN 3 : 14 ).
Janganlah kamu mengira orang-orang yang meninggal di
jalan Allah itu mati, tidak…!!! Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan mendapat
rizki
(ALI
IMRAN 3 : 169).
Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah dia
yang paling takwa diantara kalian
(
AL HUJURAT 49 : 13 )
Silahkan
pilih :
Kembali
kepada Sang Pencipta atau kembali ke surga mahluk ciptaan-Nya…!!! monggo
wani piro…!!!
MASALAH
RUH
Mereka akan bertanya kepadamu masalah ruh. Katakanlah : Masalah ruh itu urusan Tuhan.
Kamu hanya diberi ilmu sedikit sekali
(AL
ISRA 17: 85).
Ayat
tersebut dengan jelas menerangkan bahwa manusia hanya sedikit sekali diberi
ilmu oleh Allah, sehingga walau bagaimanapun, dengan cara secanggih apapun
tidak akan bisa membuka rahasia tentang Ruh ini. Kita mengetahui bahwa Ruh itu ada di dalam
diri kita, walaupun kita tidak bisa melihatnya namun kita mempercayainya. Bila jasmani ini tanpa Ruh maka disebutnya
mayat, orang mati.
Kita
tidak bisa melihat Ruh, yang bisa kita lihat hanyalah jasmaninya. Melalui
jasmaninya kita bisa lihat jelas jenis kelaminnya, apakah laki-laki atau
perempuan. Sedangkan mengenai Ruh, kita tidak mengetahui apakah ada jenis
kelaminnya atau tidak. Apakah Ruh itu seperti halnya malaikat, dimana malaikat
pun tidak mempunyai jenis kelamin dan tidak mempunyai hawa nafsu.
Sewaktu
kita hidup, kita bisa merasakan rasa sakit, sedih, riang-gembira, dan
sebagainya. Akan tetapi bila kita dalam
keadaan koma, tidak sadar diri, tidak punya nafsu, maka kita tidak bisa
merasakan apa-apa lagi. Manusia
seutuhnya ada jasmaninya ada Ruhnya dan ada nafsunya.
Walaupun
Al Qur’an tidak menjelaskan bahwa Ruh itu berkelamin atau tidak, namun Allah
menciptakan pasangannya. Allah senantiasa menciptakan segala sesuatu selalu
berpasang-pasangan. Demikian juga dengan
masalah Ruh.
Hai manusia bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah
menciptakan kamu dari nafsu ( jiwa, jenis ) yang satu ( min nafsiw
wahidatin ), dan dari padanya, Allah menciptakan pasangannya … (AN
NISAA 4 : 1).
H.
E . Semedi berpendapat, mungkin itulah yang disebut jodoh hakiki, NAFS yang satu
berada dalam jasmani suami (Adam) dan NAFS pasangannya berada dalam jasmani
istrinya (Hawa). Sebagaimana halnya H. E. Semedi, maka penulis pun cenderung
berpendapat bahwa bila pasangan suami-istri sering cekcok, tidak ada kecocokan
dan tidak ada kebahagiaan di dalam rumah tangga, mungkin salah satu penyebabnya
adalah NAFS suami istri tersebut bukan pasangannya. Menurut bahasa ilmiahnya aura mereka tidak
serasi, sehingga perpaduan kedua aura mereka membentuk gambaran aura yang
kacau. Kekacauan aura ini akan
menimbulkan energi negatif bagi mereka.
Menurut
H. E. Semedi kata NAFS dalam bahasa Arab bisa diterjemahkan sebagai RUH atau
JIWA yang jenisnya hanya ada satu atau diterjemahkan sebagai JENIS saja. Nafs bila ditafsirkan sebagai nafsu,
mengandung unsur amarah, luwamah, sufiah dan mutmainah yang akan mempengaruhi
kematangan kepribadian dan nalar seseorang. Sedangkan jiwa menurut ilmu kedokteran jiwa
adalah Psyko, keadaan mental seseorang yang merupakan keadaan kepribadian
seseorang dimana dalam perkembangannya sejak dari masa anak-anak sampai dewasa
senantiasa dipengaruhi oleh faktor keturunan (gen pembawa sifat) dan faktor
lingkungannya. Ilmu yang mempelajari perkembangan jiwa disebut Psykologi dan Ilmu yang
mempelajari kelainan jiwa disebut Psykiatri.
Setelah
Adam dan Hawa, maka generasi manusia selanjutnya dilahirkan melalui rahim
ibunya masing-masing, setelah melalui proses biologis. Jadi yang berjenis kelamin adalah jasmaninya,
yang mempunyai nafsu adalah jasmaninya. Seandainya
Ruh mempunyai alat kelamin dan mempunyai nafsu, apakah mungkin terjadi
perkawinan di alam Arwah. Apakah mungkin
Ruh di alam Arwah berkembang biak melalui perkawinan ??? Selanjutnya H.E Semedi
menambahkan bahwa Al Qur’an pun membahas mengenai masalah banci (hermaphrodite)
dan kemandulan.
Ia menciptakan yang dikehendaki-Nya. Ia memberikan (
jenis kelamin ) perempuan kepada yang dikehendaki-Nya dan memberikan ( kelamin
) laki-laki kepada yang dikehendaki-Nya atau Dia mencampurkan mereka laki-laki
dan perempuan (banci), dan Dia menjadikan mandul siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya
Dia Maha Mengetahui, Maha Kuasa.
(ASY SUYUURA 42: 49-50).
PROSES
TERJADINYA RUH
Sebagian
besar umat Islam berpendapat bahwa Ruh telah diciptakan sebelum terbentuknya
jasad (Adam). Walaupun demikian ada juga
yang berpendapat bahwa Ruh diciptakan setelah terbentuknya jasad. Perbedaan pendapat tersebut tidak perlu
dipermasalahkan, yang penting adalah bahwa semua umat Islam meyakini akan keberadaan
Ruh…
Sebelum
Allah menciptakan segala sesuatu, yang pertama kali Allah ciptakan adalah NUR
MUHAMMAD. Dari Nur Muhammad ini Allah
menciptakan segala sesuatu... Berarti Ruh diciptakan dari Nur Muhammad….
Hadits Qudsi :
Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, oleh
sebab cinta, Aku ingin dikenal, maka Aku jadikan makhluk ( Nur Muhammad ) agar
ia mengenal akan Aku.
Hadits Rosulullah SAW :
Aku adalah bapak dari segala ruh.
Aku berasal dari Cahaya Allah, semua yang ada di
alam ini berasal dari cahaya ku.
Yang mula-mula dijadikan Allah adalah Nur Nabimu ya
Jabir dan Allah jadikan dari Nur itu segala sesuatu dan engkau wahai Jabir
adalah termasuk sesuatu itu.
Hadits
Qudsi tersebut menjelaskan keberadaan Tuhan yang tersembunyi, Dia belum
mempunyai nama, Dia adalah Dzat mutlak tanpa bentuk, tanpa ruang dan waktu. Dia diluar jangkauan akal ( transendental ). Dia berada di dalam Ke-Esa-an-NYA yang murni,
sebagai suatu Essensi Dzat yang berada di suatu alam yang disebut alam
Ahadiyyaah. Kemudian Dia ingin Eksis,
ingin dikenal, maka Dia mulai menghadirkan Dirinya dalam Dirinya sendiri dan
memproklamirkan dirinya sebagai ALLAH. Kata Allah berasal dari kata Al Ilah artinya
Yang Disembah. Nama Tuhan yang sebenarnya gue ngga tau Bro.. ketemu aje ngga pernah ape lagi kenal namaNYA. Tak jumpa maka tak kenal, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak iman... Wajar ya Bro kalo ada sesepuh yang bilang bahwa awal mula beragama itu mengenal Allah... Jadi jangan sok merasa diri paling berimanlah...
Aku adalah Allah ( Yang Disembah ), dan tiada Tuhan selain Aku,
maka sembahlah Aku ( THOHA
20 : 14 ).
Aku adalah Tuhan-mu, karena itu sembahlah Aku (AL
ANBIYA 21:41).
Dia
adalah Allah yang berkuasa (kudrat) dan berkehendak (irodat). Dia ingin eksis.
Dia ada dan tak ada apa-apa disampingnya ( HADITS ).
Oleh
karena tidak ada apa-apa disampingnya, maka untuk menghadirkan diri-Nya
sendiri, Dia pancarkan (Emanasi) Cahaya Dzat-Nya sendiri melalui sifat
Kalam-Nya, yaitu KUN, maka jadilah Nur Muhammad yang disebut juga sebagai alam
Wahdat. Nur Muhammad ini kemudian merupakan sumber dari semua ciptaan Allah.
Dari Nur Muhammad ini kemudian terpancar bermacam-macam ciptaan-Nya.
Dalam
tahapan berikutnya tercipta alam Arwah, di dalamnya termasuk alam Ruh dan
Malaikat. Selanjutnya tercipta Alam Ajsam (Alam Jasad), alam semesta dan segala
isinya sampai ke Alam Insan Kamil yang disebut alam wahidiiyyah atau hakekat
insaniah. Kemudian Dia memproklamirkan
diri-Nya dan memerintahkan kepada semua makhluk ciptaan-NYA agar menyembah kepadaNya
….
Aku adalah Tuhan-mu, karena itu sembahlah Aku …
( AL ANBIYA 21 : 41 dan Surat THOHA 20 : 14 ).
Maka
:
Kepada Allah bersujud apa yang ada di langit dan
segala yang ada di bumi
( AN NAHL 16 : 49 ).
Dan tiada sesuatu apapun yang tiada bertasbih
memuji-Nya. (AL ISRA 17 : 44).
Semua mahluk tunduk dan taat kepada perintah Allah
kecuali Iblis.
( AL BAQARAH 2 : 34 ).
Proses
pancaran keluarnya Dia dari kemurniannya ini disebut proses tanuzzullat, proses
emanasi atau disebut juga proses penurunan martabat (degradasi), Dia turun
untuk memanifestasikan dirinya, dari Martabatnya yang paling tinggi di Alam
Ahadiyah turun sampai ke Alam Insan Kamil melalui 7 tahapan (martabat).
Selanjutnya
Dzat Allah tersembunyi dalam Insan Kamil (imanensi). Hal ini bisa kita ibaratkan sebagaimana biji
gandum yang mempunyai potensi untuk tumbuh, setelah menjadi sebuah pohon
gandum, biji menjadi tersembunyi di dalam pohon. Atau bila biji gandum telah menjadi roti,
walaupun potensinya sudah sangat berkurang, namun zat gandum tetap ada,
tersembunyi di dalam roti. Demikian juga
dengan Dzat Allah, menjadi tersembunyi di dalam diri setiap insan.
Dzat Allah meliputi segala sesuatu (
FUSHSHILAT 41 : 54).
Di dalam dirimu, apakah engkau tidak memperhatikan
(ADZ- DZAARIYAAT 51 :
21).
Di dalam setiap rongga anak Adam Aku ciptakan suatu
mahlgai yang disebut dada, dalam dada ada qolbu, dalam qolbu ada fuad, dalam
fuad ada syafoga, dalam syafoga ada Sir, di dalam SIR ada AKU, tempat Aku
menyimpan rahasia (
HADITS QUDSI ).
Di
dalam Sir ada Aku … Maka Sang Aku (Nur Dzat) ini akan menggerakkan Sir,
kemudian Sir akan menggerakkan Ruh, kemudian Ruh akan menggerakkan qolbu dan
qolbu akan menggerakkan akal (budi, cipta, rasa, kersa), selanjutnya akal atau
otak akan menggerakkan tubuh. Otak kita yang
menyerap ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup.
Tubuh fisik sebagai pelaksana untuk melakukan perintah Allah.
Menurut
istilah para sesepuh : Nur, Sir, Budi, Cipta, Rasa, Kersa, Pangawasa (daya).
Tiada yang bergerak kecuali atas perintah Tuhan ( Hadits ).
Firman
Allah :
Tangan Tuhan berada di atas tangan mereka
( AL FATH 48 : 10 ).
Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau
melempar, akan tetapi Allah-lah yang melempar (AL AN FAAL 8 :
17).
Jasmani
manusia berasal dari tanah. Adam merupakan manusia pertama yang diciptakan
Allah dari tanah tanpa melalui proses biologis. Penciptaan Adam tidak terjadi
secara serta merta dalam waktu sekejap, akan tetapi melalui suatu proses
bertahap dalam kurun waktu yang cukup lama.
Oleh
karena itu, ada Hadits Rosulullah yang mengatakan :
Aku memiliki waktu khusus dengan Tuhan, yang dimana
di dalamnya tiada lagi malaikat atau Rosulnya.
Aku sudah menjadi Nabi, sedangkan Adam adalah dalam
keadaan antara air dan lempung.
Akulah Bapak dari segala Ruh, dan Adam adalah Bapak
segala Jasad.
Setelah Aku sempurnakan kejadiannya maka Aku tiupkan
Ruh-Ku kepadanya …
(AL HIJR 15 : 29, AS
SHAAD 38 : 72).
Dan (ketika) Tuhan-mu mengeluarkan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap Jiwa-Nafs mereka
masing-masing (dan berfirman) : Bukankah Aku Tuhan-mu…??? Mereka menjawab : Benar kami bersaksi …
(AL A’RAAF 7 : 172).
Dari
ayat-ayat tersebut di atas, agaknya setiap manusia sebelum dilahirkan ke dunia, NAFS-nya sudah
diambil kesaksiannya oleh Allah bahwa Allah adalah Tuhan mereka, kemudian
secara serempak mereka menjawab : Benar kami bersaksi …
Ini merupakan syahadat ( kesaksian ) awal.
Ini merupakan syahadat ( kesaksian ) awal.
Selain
diambil kesaksiannya, semua umat manusia juga membawa beban amanah. Di dalam Al
Qur’an tidak dikatakan amanahnya itu apa…??? Apakah amanah itu berupa tugas hidup
manusia di dunia sebagai pembelajaran untuk mencapai kesempurnaan…??? Apakah ditugaskan
sebagai penjahat besar yang kemudian bertaubat ataukah sebagai ulama besar yang
melakukan maksiat…??? Apakah sebagai khalifah untuk memberi rahmat bagi seluruh
alam semesta…??? Ataukah amanah itu agama…???
Bila
amanah itu agama, tidak dikatakan
agamanya itu apa…??? Ruh manusia
bersedia memikul amanah tersebut karena manusia bersifat zalim dan bodoh,
sehingga harus banyak belajar. Ternyata
setelah hidup di dunia, penghianatanpun terjadi karena NAFS cenderung untuk berbuat jahat. Oleh karena itu, manusia disebut INSAN yang
artinya adalah lalai (lupa).
Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh
kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat oleh Tuhan-ku, sesungguhnya
Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( YUSUF
12 : 53 )
Sesungguhnya telah Kami
tawarkan amanah ( agama…??? ) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, akan
tetapi mereka semua enggan memikulnya, karena takut menghianatinya, namun
manusia bersedia memikulnya, ia sungguh zalim dan bodoh sekali (AL
AHZAB 33 : 72).
Ingatlah
ketika Tuhan-mu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi ( AL BAQARAH 2 : 30 )
Dan
tiadalah Allah mengutus engkau hai Muhammad, melainkan untuk memberi rahmat bagi seluruh alam
semesta ( AL ANBIYA 21 : 107 )
PERKEMBANGAN
JANIN MENURUT AL QUR’AN
Bukankah Kami ciptakan kamu dari cairan hina yang
Kami tempatkan dalam wadah yang aman sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami
tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan ( AL
MURSALLAT 77 : 20-23 ).
Dan sesungguhnya kami ciptakan manusia dari saripati
tanah basah, kemudian Kami jadikan nutfah (setetes mani) dalam wadah yang aman,
kemudian kami jadikan nutfah itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami
jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang,
lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian kami keluarkan
dia sebagai mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta Yang Terbaik
(AL
MU’MINUUN 23 : 12 – 14).
Ia
ciptakan kamu dalam perut ibumu setingkat demi setingkat dalam tiga selubung kegelapan.
Itulah Allah Tuhan-mu.
Kepunyaan-Nya-lah kerajaan, tiada Tuhan selain dia. Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan ( AZ-ZUMAR 39 : 6 )
Setelah Aku sempurnakan bentuknya dan Aku tiupkan
Ruh-Ku kepadanya…
(AL HIJR 15 : 29, AS
SHAAD 38 : 72).
Sebelum
masuk kedalam jasmani Jiwa-Nafs sudah bersyahadat ketika Allah berfirman :
Bukankah aku Tuhanmu. Para Jiwa-Ruh menjawab : Benar kami bersaksi ( Al
A’raf 7 : 172 ).
Kemudian
Ruh dihembuskan ke janin dalam kandungan ibu.
Janin sudah hidup, sudah bergerak,, jantungnya sudah berdenyut namun
belum diberi NAFSU.. Dalam kandungan Ruh sudah bertaqwa kepada Allah sejak hari
pertama dalam kandungan Ibu, karena Ruh berasal dari Dzat ALLAH. Setelah bayi dilahirkan ke dunia, bayi mulai
bernafas, bayi menangis keras, mulai-lah ada nafsu..
Semua
umat manusia yg hidup di dunia ada jasmaninya, ada ruhnya dan ada
nafsunya. Semua umat manusia sudah mengemban amanah… Namun di dalam Al
Qur’an tidak dikatakan amanah itu apa… Apakah berupa tugas hidup di dunia
sebagai apa…??? Ataukah amanah itu agama…??? Namun yang pasti, Ruh berasal dari DZAT YANG
MAHA SUCI.. Ruh yang harus mengendalikan
nafsu…
Bila
nafsu tidak terkendali maka jasmani yang akan menanggung akibatnya.. Jasmani akan dimasukkkan ke dalam neraka,
yaitu kehidupan yang sempit di dunia.
Namun bila manusia itu bertaubat Allah akan mengangkatnya kembali ke
kehidupan yang penuh barokah.. Bila dia
belum menerima balasan dikehidupan yang sekarang, mungkin dia akan menerima
balasannya dikehidupan yang akan datang…
Sesungguhnya
nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi Rahmat
oleh Tuhan-ku, sesungguhnya Tuhan-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( YUSUF 12 : 53 )
Sesungguhnya
beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya-nafsnya dan sesungguhnya
merugilah orang-orang yang mengotorinya (
ASY-SYAM 91 : 9-10 )
Barang
siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan
kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan kehidupan yang baik dan Kami akan
memberinya pahala sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan
(
AN NAHL 16 : 97 )
Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu
tadinya mati, lalu Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian
menghidupkannu kembali, selanjutnya kepada-Nya lah kamu dikembalikan (AL
BAQARAH 2 : 28).
Hai manusia jika kamu ragu-ragu tentang hari
kebangkitan, maka sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari segumpal tanah, kemudian
dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging
yang sempurna kejadiannya dan tidak sempurna kejadiannya, agar Kami dapat
menjelaskan kepadamu dan Kami tempatkan yang Kami kehendaki di dalam rahim
untuk suatu masa tertentu (ajalum
musamman) dan kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, dan kamu menjadi
dewasa dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan diantara ka mu ada yang
dikembalikan ke tingkat hidup yang paling rendah, sehingga ia tidak mengetahui
apa-apa setelah tadinya berpengetahuan …(AL HAJJ 22 : 5).
Dan bagi setiap umat ada suatu masa. Maka bila tiba masanya tidak bisa mereka menundanya
sesaatpun, dan tidak bisa pula mereka memajukannya.
(AL A’RAAF 7 : 34).
Kemudian sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian
benar-benar akan mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan
kembali di hari kebangkitan (AL
MU’MINUUN 23 : 15 – 16).
Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Tuhan
mereka yang sebenarnya . Sesungguhnya segala hukum kepunyaan-Nya dan Dia-lah
pembuat perhitungan yang paling tepat.
(AL AN’AAM 6 : 62).
Al
Qur’an memang sangat luar biasa… waktu itu belum ada pelajaran embriologi ilmu
kedokteran…namun Al Qur’an sudah menyatakan bahwa perkembangan janin dalam
kandungan ibu melalui tiga selubung kegelapan.
Secara embriologi selubung yang paling luar adalah EKTODERM, bagian
tengah MESODERM dan lapisan selubung yang paling dalam adalah ENTODERM… Pada
tahapan ini belum berbentuk sebagai bayi…
“Ia ciptakan kamu dalam perut ibumu setingkat demi
setingkat, DALAM TIGA SELUBUNG KEGELAPAN” (AZ-ZUMAR 39:6)
Tahap
selanjutnya setiap lapisan selubung berkembang membentuk organ-organ tubuh… Dimulai
dari lapisan paling luar-ektoderm membentuk bulu, kulit dan organ otak. Lapisan
tengah- mesoderm akan membentuk tulang dan otaot. Lapisan dalam-entoderm membentuk organ dalam
manusia. Manusia dikatakan mati bila
rekaman gelombang otaknya sudah datar..
Secara
medis kita tidak mengetahui kapan Ruh dihembuskan ke janin… Secara medis melalui
alat USG denyut jantung bayi sudah bisa terlihat saat janin berusia dua bulan…
Berarti bayi sudah hidup… walaupun belum diberi nafas…
TANDA –
TANDA MENJELANG KEMATIAN
Untuk
melengkapi tulisan ini, Bapak H. Abdul Radjak dari Tarakan, Kalimantan Timur
berkenan mengirimkan catatannya kepada penulis mengenai tanda-tanda menjelang
kematian bagi mereka yang mendapatkan rahmat Allah.
Catatan
tersebut sumbernya berasal dari ajaran Sech H. Muhammad Seman Al Banjari yang
dipimpin oleh Muhammad Suming Abu Bakar.
Tanda-tanda
menjelang kematian adalah sebagai berikut :
Tanda Pertama
Bila
Allah berkenan memberikan rahmatnya kepada kita maka tanda pertama adalah perasaan
seperti tertusuk jarum, dimana rasa sakitnya terasa sampai ke ubun-ubun, serta
kita juga mendengar seperti suara letusan senapan sebanyak 1 (satu) kali. Bila
kita mendapat rahmat tersebut maka ucapkanlah : YA … HU … Berarti sisa usia
kita tinggal 40 hari … maka janganlah
kita lalai … untuk tetap beribadah kepada Allah …
Tanda Kedua
Rahmat
Allah yang kedua adalah dari mata kita keluar cahaya putih yang berubah wujud
dan berdiri di hadapan kita sebagai manusia yang berpakaian sangat indah dan
berhadap-hadapan dengan kita, maka segeralah kita ucapkan : ALHAK KULHAK …
Berarti sisa usia kita tinggal 7 hari lagi … Maka kita harus lebih tekun lagi
untuk beribadah kepada Allah
Tanda Ketiga
Dari
mulut keluar cahaya yang sangat indah, kemudian cahaya tersebut berubah wujud
yang sangat menyerupai rupa diri kita sendiri, disertai bau yang sangat harum,
maka segeralah ucapkan : ALHAMDULILLAHI RABBIL ALLAMIN … Berarti sisa usia kita
tinggal tiga hari lagi. Mulailah kita berwasiat ….
Tanda Ke-empat
Adalah
merupakan hari H kita, hari yang kita nanti-nantikan, saat kita kembali ke
Rahmat Allah … Telinga kita berdengung panjang, teramat panjang … Pandangan
mata kita berubah menjadi kabur … kemudian segalanya menjadi hitam, alam
semesta terasa gelap gulita … Walaupun demikian kita hendaknya jangan lalai
untuk tetap berdzikir kepada Allah … ujung lidah dilipat ke atas menyentuh
langit-langit … Selanjutnya dari kegelapan tersebut akan muncul suatu titik
cahaya … yang merubah kegelapan tersebut menjadi terang benderang dan sangat
gilang gemilang, sangat indah tiada tara … Sungguhpun demikian kita harus tetap
tenang dan tetap berdzikir kepada Allah semata … Kita janganlah ragu dan bimbang lagi, karena saat
itu kita sedang berhadapan dengan “NUR ALLAH”.
Kemudian
kita mendengar suara mendengung kembali … disertai rasa kantuk yang sangat
hebat … maka tetaplah berdzikir kepada Allah … Bila kita masih mampu untuk
mengangkat kedua belah telapak tangan kita, maka angkatlah … ucapkanlah Allahu
Akbar atau Laa illaaha ilallaah atau Allah…Allah…Allah ujung lidahnya
menyentuh langit-langit, sambil menutup kedua mata kita… Kita kembali ke Rahmat
Allah… amin… amin... Ya Robbal alamin…
KEBANGKITAN
RUH DAN PENGHISABAN
Apakah
Ruh akan segera menjalani masa hukuman setelah kematian jasmani ??? Berapa lama
masa hukuman tersebut harus dijalani ??? Apakah hukuman yang diterima Ruh bisa mendapatkan keringanan, grasi, remisi
bahkan pengampunan dari Allah Yang Maha Pengampun …Apakah di akhirat Ruh harus
menunggu sampai akhir zaman, hari kehancuran total seluruh alam semesta yang
disebut hari kiamat tanpa ada proses pengadilan ??? Apakah perhitungan Allah
tidak cepat ???
Pada
hari kiamat, menurut pelajaran agama yang kita terima sewaktu masih dibangku
sekolah, semua ruh akan dikumpulkan di padang Masyar untuk diadili… Mungkin dalam bayangan kita, yang namanya Padang
Masyar adalah suatu lapangan yang sangat luas… luar biasa luasnya… Begitu
banyak Ruh, milyaran ruh berdesak-desakan dalam antrian, menunggu giliran
proses sidang pengadilan di Padang Masyar… ada yang duduk, ada yang jongkok ada
yang berdiri, ada yang kebingungan … macam-macam lah…
Sampai
saat ini kiamat masih belum terjadi, berarti para ruh yang sudah meninggal itu
sampai saat ini pun belum berkumpul di Padang Masyar. Bila demikian para Ruh itu berada dimana…???
Katanya mereka ada di alam barzah lagi pada bengong, menanti dan menanti proses
sidang pengadilan yang akan dilaksanakan di Padang Masyar setelah hari
kiamat. Berarti sampai saat ini belum ada
keputusan sidang pengadilan… neraka dan surga masih kosong Bro…
Yang demikian itu, sesungguhnya Allah, Dia-lah yang
Haq, Dia-lah yang menghidupkan orang mati dan Dia-lah Yang Maha Kuasa atas
segala sesuatu.
Sesungguhnya saat itu akan tiba. Tiada keraguan
dalam hal itu, oleh karena Allah akan membangkitkan mereka di dalam kubur (AL
HAJJ 22 :6-7).
Yang
dimaksud dengan kebangkitan di dalam kubur dalam surat AL HAJJ 22 : 6-7 adalah
kebangkitan Ruh. Saat kebangkitan Ruh di
alam kubur itulah yang disebut qiyaamat (bangkit). Setelah Ruh dibangkitkan, kemudian Ruh akan
dikumpulkan sesuai dengan amal perbuatannya di dunia, sesuai dengan kadar
keimanannya masing-masing, di neraka atau disurga, tanpa merugikan siapapun… Di
kehiidupan yang sempit ataukah dikehidupan yang penuh barokah di dunia…???
Apakah
hari kebangkitan itu harus menunggu sampai akhir zaman…???
Bila
kita meyakini bahwa Allah Maha Kuasa atas segalanya, maka kita harus yakin
bahwa sekalipun jasad sudah mati, Allah bisa menghidupkannya kembali. Hal ini
bisa kita simak melalui kisah yang terjadi pada zaman Nabi Musa a.s…
Dan ketika kami berkata : “Hai Musa !!! Kami tidak percaya kepadamu
sebelum kami melihat Allah dengan nyata”. Lalu halilintar menyambarmu sedang
kamu menatap. Kemudian Kami hidupkan kamu setelah kematianmu agar kamu
bersyukur.
( AL BAQARAH 2 : 55-56 )
Dan Dia-lah
pembuat perhitungan yang paling tepat
(AL
ANN’AAM 6 : 62).
Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah
kepada Tuhan-mu dengan suka cita dan diridhoi-Nya, masuklah ke dalam golongan
hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-KU (AL
FAJR 89 : 27 : 30).
Surga Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama mereka
yang saleh di antara orang tua mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka (AR
RA’D 13 : 23).
Dan orang-orang yang beriman, lalu anak-cucu mereka
mengikuti mereka dengan iman, Kami susulkan keturunan mereka pada mereka dan
kami tidak mengurangi amal mereka sedikitpun (ATH-THUUR 52 :
21).
Dengan
demikian berdasarkan ayat-ayat tersebut di atas, bila kita sekeluarga semuanya
se-agama dan se-iman, maka di akhiratpun kita semua akan berkumpul kembali…Di
kehidupan yang baru pun mereka akan berkumpul kembali. Kemudian bagaimanakah
nasibnya mereka yang mengingkari rahmat Allah ??? Semua tergantung kepada amal perbuatannya
masing-masing.
Pada hari itu kamu akan dihadapkan ( kepada Tuhan ),
tiada sesuatupun dari keadaanmu akan disembunyikan
(AL HAAQQAH 69 : 18).
Kumpulkanlah mereka yang berbuat dzolim bersama
istri-istri mereka dan apa-apa yang biasa mereka sembah selain Allah, dan
tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka dan tahanlah mereka, karena mereka
harus ditanyai
(ASH-SHAFFAAT 37 : 22
- 24).
Dan demi Tuhan engkau…!!! Kami akan menanyai mereka semuanya tentang
apa yang telah mereka kerjakan (AL
HIJR 15 : 92).
Pada hari Tuhan memanggil mereka dan berfirman :
Apakah jawaban yang kamu berikan kepada
utusan-utusan itu (AL
QASHASH 28 : 65).
Sungguh tentu Kami akan menanyai umat yang telah
menerima Rosul yang diutus kepada mereka dan Kami juga akan menanyai
Rosul-Rosul itu (AL
A’RAAF 7 : 6).
Ada
sesepuh yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan utusan di Surat AL A’RAAF 7
: 6.. adalah utusan yang ada di dalam diri kita sendiri, yaitu : anggota badan,
panca indera kita serta nafsu kita. Semua itu merupakan kitab pribadi yang akan
memberikan kesaksian dihadapan Allah.
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya
sendiri (AL QIYAAMAH 75 : 14).
Lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi terhadap
apa yang mereka kerjakan.
(
AN NUR 24 : 24 )
Berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi
kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan ( YAASSIIN 36 : 65 )
Pendengaran, penglihatan dan hati masing – masing
akan dimintai tanggung jawabnya ( AL ISRO
17 : 36 )
Bacalah kitabmu…!!!
Cukuplah dirimu sendiri sebagai penghijab terhadapmu
(AL
ISRO 17 : 14).
Manusialah
yang berbuat dzolim terhadap dirinya sendiri akhirnya manusia juga yang
menghisab dirinya sendiri. Maha suci Allah dari tindakan dzolim dan
penghisaban, Dia Maha Pengampun, Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang.
Bila
demikian, apakah benar mereka akan ditanyai ??? Bukankah Allah Maha Mengetahui
akan segala sesuatu ???
Menurut
H.E Semedi, yang dimaksud ditanyai disini adalah kita diminta untuk
mempertanggungjawabkan semua perilaku kita, jadi bukan dalam arti yang
sebenarnya (muhkamaat), akan tetapi bersifat kiasan (mutasyabihaat).
Oleh
karena itu, dianggap janggal bila di akhirat ada pertanyaan-pertanyaan dari
malaikat Munkar dan Nakir : Siapakah Tuhan kamu ? Siapakah Nabi kamu ? Apakah agama kamu ? Apa
kiblat kamu? Siapa pemimpin kamu? Dan siapakah saudaramu?
Cara menjawabnya bagi laki-laki dan
bagi wanita pun berbeda… Apakah Ruh ada kelaminnya…??? Apakah yang menjawab jasadnya yang sudah jadi
mayat…??? Bila jasadnya yang menjawab,
maka tidak perlu ditanya, karena kata Al Qur’an, tangan dan kaki bersaksi. Mata, telinga dan lidah bersaksi…
Maka jawablah dengan tegas dan jelas serta
meyakinkan :
Allah adalah Tuhanku, Muhammad adalah Nabiku, Islam
adalah agamaku, Ka’bah kiblatku, Al Qur’an adalah pemimpinku, dan kaum
muslimin-muslimat, mukminin-mukminat adalah saudaraku..
Dan
jika wanita jawablah : Aku rela Allah sebagai Tuhan, aku rela Islam agamaku, aku rela Muhammad
Nabiku dan Rosul Allah…
Apakah
malaikat Rokib dan Atid tidak tersinggung, karena catatannya tidak digubris…???
Apakah tidak ada koordinasi diantara malaikat, walaupun masih dalam satu departeman…???
Ajaran seperti ini justru akan sangat merendahkan derajat Tuhan Yang Maha Agung
lagi Maha Mulia, Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Pengampun dan Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang …
Menurut
ajaran Islam addinu bil aqli. Agama harus masuk akal, agama harus
rasional. Di era globalisasi ini, ajaran
yang tidak masuk akal akan sangat merugikan perkembangan Islam, karena bagi
mereka yang berfikiran kritis atau mereka yang non Muslim pasti akan
mentertawakan ajaran tersebut. Oleh
karena itu, ajaran Islam yang tidak rasional merupakan propaganda yang buruk
bagi umat Islam itu sendiri, demikian menurut H.E Semedi.
Wajar bila ada sesepuh
yang berpesan bahwa beliau tidak mau dibacakan Talkin saat menjelang
kematiannya. Beliau mengatakan bahwa ujian dari Allah itu senantiasa ada
sampai saat menjelang maut pun kita masih tetap diuji… Pada saat terakhir itu
jin, syaethon , iblis dan sebangsanya
datang menyamar menyerupai kerabat yang kita kenal yang sudah tiada, membujuk manusia agar mengikutinya… Pada
saat seperti itu kata sesepuh, kita harus membantu orang yang sedang dalam
sakaratul maut agar dia tidak terpengaruh bujukan iblis…
Nasehat
sesepuh ini sangat rasional, masuk diotak gue Bro… Beliau bilang, agar ruh tidak terjebak bujukan syaethon dan
iblis, maka syaethon, iblis dan sejenisnya itu harus di usir, sehingga perjalanan Ruh manusia langsung
lurus menuju Allah tanpa hambatan…
Pada hari saat harta benda dan anak-anak tidak berguna, kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih ( ASY-SYU’ARA : 26 : 88-89 )
Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan
yang lurus, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir ( AL INSAN 76 : 3 )…
Inilah
jalan yang lurus menuju kepada-Ku ( AL HIJR 15 : 41 )
Jangan
ikuti jalan-jalan lain (
AL AN’AM 6 : 153 )
Oleh karena itu sesepuh
itu menganjurkan agar yang harus dibaca adalah Surat Pengusiran yaitu Al Hasyr 59 : 21-22-23-24.
Lalu ditiupkan dari arah kiri kearah kanan, agar semua jin setan dan
iblis yang menghalangi jalan disingkirkan. Kalau sekiranya Allah
menurunkan Al Qur’an kepada sebuah gunung, pasti gunung itu akan tunduk,
terpecah belah karena takut kepada Allah, itu sebagai perumpamaan bagi kita,
agar kita berpikir Bro.
Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada
sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-belah disebabkan
takut kepada Allah. Dan Kami buat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia
agar mereka berpikir.
Dialah Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang
Mengetahui yang ghoib dan yang nyata. Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang.
Dia Allah, tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha
Suci, Maha Penyelamat, Maha Pemberi Keamanan, Maha Pemelihara, Maha Perkasa,
Maha Kuasa, Maha Agung, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang
Membentuk Rupa, Yang Memiliki Asma ul Husna.
Bertasbih kepadaNya apa yang ada di langit dan di bumi. Dia Maha Perkasa dan Maha Bijaksana. (AL HASYR 59 : 21-22-23-24)
Selanjutnya kita mohon
agar Utusan Allah yang sangat menyayangi kita datang dan kita berharap agar si
sakit yang sedang menjelang maut tetap bertawakal kepada Allah, maka kita harus
membacakan Surat At Taubah 9
: 128-129.. untuk si sakit…
Telah datang kepadamu seorang utusan dari kaum-mu
sendiri, yang sangat merasakan penderitaan-mu, yang sangat menginginkan (
keimanan dan keselamatan ) bagimu, amat belas kasih dan penyayang terhadap
orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling, maka katakanlah : Cukup Allah
bagiku, tiada Tuhan selain Dia, hanya kepadaNya aku bertawakal, dan Dia Tuhan
Pemilik Arsy Yang Agung ( AT TAUBAH 9 : 128-129 )
Kemudian siapakah Utusan
itu…??? Itulah Dia Yang Maha Suci, Yang Maha Kudus, Tuhan malaikat dan Ruh.
Subbuhun, Kuddusun,
Robbuna wa Robbul malaikatu wa Ruh…
Yang bagaimana …???
Dia
adalah Cahaya diatas Cahaya, Allah akan membimbing dengan Cahayanya menuju
kepada Cahayanya ( AN NUUR 24 : 35 )..
Do’a selanjutnya : Bismillaahi
nikmatilladzina an amtuna alaena wa kafa bihi nikmati islam…agar si sakit mendapatkan nikmat Islam… yaitu Innalillahi wa innailaihi roojiun, dari Allah kembali kepada Allah. Dari Cahaya Kembali kepada Cahaya,
bukan ke surga… Selanjutnya secara bergantian kita membisikkan Asma Allah ditelinga si sakit, agar
dia tetap tawakal…sampai akhir hayatnya tetap mengingat Allah… Akhirnya dia
kembali kepada Allah, meninggal dengan
tenang… Sampai saat ini belum pernah ada yang meninggal dengan sukses…
hehehe…
Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu (
AN NISA 4 : 1).
Dan Tuhan menyaksikan segalanya (
AL AHZAB 33 : 52).
Sesungguhnya Allah meliputi segala sesuatu dan
mengetahui segala sesuatu
( AL BAQARAH 2 : 115 ).
Dzat Allah meliputi segala sesuatu (
FUSHSHILAT 41 : 54 ).
Dalam dirimu apakah engkau tidak memperkatikan (ADZ-DZAARIYAAT
51 : 21).
Dia (Allah) bersamamu di manapun kamu berada, Allah melihat
segala sesuatu yang kamu kerjakan
(AL HADID 57 : 41).
Di
alam kubur arwah orang-orang kafir menyesali perbuatannya tatkala dia hidup di
dunia. Setelah kematiannya Ruh mereka bisa melihat dan mendengar sesuatu yang
terjadi di alam kubur :
Sesungguhnya kamu telah lalai, maka mulai hari ini
Aku buka tabir yang menutupimu, maka pandangan matamu menjadi tajam ( AL
QAF 50 : 22 ).
Kemudian
Ruh mereka meratap memohon kepada Allah agar dihidupkan kembali serta mereka
berjanji akan berbuat baik dan akan menjadi orang yang beriman.
Yang
menjadi pertanyaan adalah : “Apakah di alam kubur bagi mereka yang sudah meninggal
dunia itu masih bisa minta ampunan kepada Allah atau adakah semacam remisi,
grasi atau bahkan amnesti dari Allah setelah kita berada di alam kubur ???
Ya Orang kafir senantiasa tidak ingat akan akibat
kejahatannya, sehingga manakala datang kematian kepada seseorang dari mereka,
dia menyesal dan berkata : Ya Tuhanku, hidupkanlah aku kembali, agar aku dapat
beramal saleh dalam perkara yang aku lalaikan… Tidak…!!! Itu hanya alasan
belaka, dibelakang (waroo’a) mereka ada suatu tabir yang menghalangi mereka,
sampai hari mereka dibangkitkan
( AL MU’MINUN 23 :
99-100 ).
Sekiranya kami dapat kembali kedunia, niscaya kami
akan menjadi orang-orang yang beriman.
Sesungguhnya hal ini menjadi keterangan yang nyata, tetapi kebanyakan
mereka tidak mau percaya
( ASY-SYU’ARA 26 :102-103 ).
Mari
kita perhatikan ayat-ayat dibawah ini
:
Barang
siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan
yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam
keadaan buta ( THAHA 20 : 124 )
Mereka menetap di dalamnya, tidak akan diringankan
baginya siksaan, dan tidak pula mereka ditunda (siksaannya), kecuali
mereka kemudian bertaubat dan berbuat baik, sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang
( ALI IMRAN 3 : 88 – 89 ).
Dari
ayat tersebut ( ALI IMRAN 3 : 88 – 89 ), muncul suatu pertanyaan, apakah di
alam akhirat Allah masih memberi kesempatan kepada Ruh atau Nafs untuk bertaubat,
sebagai bukti bahwa Dia Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sebagaimana halnya narapidana yang berbuat
baik selama di dalam Rumah Penjara, kemudian pemerintah memberikan grasi atau
remisi kepadanya. Sangat masuk di akal
bila ayat ini berlaku untuk kehidupan di dunia…
Oleh
karena itu Ruh dihidupkan kembali, dilahirkan kembali, reinkarnasi ke alam
dunia, diberi kesempatan untuk bertaubat dan berbuat kebaikan… Insya Allah
Tuhan akan mengampuni semua
dosa bagi setiap manusia yang betaubat, kecuali dosa syirik…
Katakanlah : Wahai hamba-hamba-Ku yang telah
melampaui batas terhadap diri sendiri, janganlah kamu berputus asa atas rahmat
Allah yang akan mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.
(AZ-ZUMAR 53).
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik,
tetapi Dia mengampuni dosa-dosa selain itu terhadap orang-orang yang
diridhoi-Nya (AN NISAA 4 : 48).
Mari
kita perhatikan ayat berikut dibawah ini :
Setiap yang memiliki nafs (nafsin) akan merasakan
kematian dan pada hari kebangkitan akan dibayarkan kepada kamu ganjaranmu. Barang siapa dipindahkan dari api (neraka)
dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia memperoleh kemenangan dan
kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan yang memperdayakan…. (ALI IMRAN 3 : 185).
Bila
kita simak Surat ALI IMRAN 3 : 88-89 serta ALI IMRON 3 : 185… mungkin akan menimbulkan
banyak pertanyaan… Setelah manusia itu mati, jasadnya dikubur atau dibakar ( di
kremasi ), berarti jasadnya akan hancur, musnah… Ruh manusia karena berasal dari Dzat Allah,
dari Dzat Yang Maha Kekal, maka Ruh tidak akan mengalami kerusakkan . Ruh tidak akan mengalami proses
kematian.
Ruh
berasal dari Cahaya Allah… wajar bila Ruh akan kembali kepada Cahaya
Allah.. Ruh berasal dari Dzat Yang Maha
Suci, maka Ruh tetap suci, tidak tercemar
oleh polusi duniawi, tidak tercemar oleh sampah-sampah kehidupan. Bila Ruh tetap suci maka yang mendapat siksa
itu apanya …??? Apakah Ruhnya atau jasadnya…???
Menurut
penelitian Einstain, semua benda yang ada di dunia ini berasal dari Energi
Quanta… yang bergabung… Energi Quanta 1 bergabung dengan Energi Quanta 2,
Energi Quanta 3 dst… menjadi atom, menjadi molekul akhirnya menjadi manusia…
bila benda itu, atau manusia itu mati, jasadnya hancur, musnah kembali menjadi
Energi Quanta…yang berupa cahaya yang berasal dari Cahaya Yang Satu.. Energi
Quanta yang berasal dari Cahaya akan kembali ke Cahaya semula. Itulah yang
disebut Swarga. Swar artinya Cahaya dan
Ga artinya kembali. Swarga artinya
kembali ke Cahaya Semula…
Manusia
yang masih hidup ada jasadnya atau jasmaninya ada Ruhnya dan ada nafsunya. Nafsu manusia terdiri dari : amarah, luwamah,
sufiyah dan mutmainah… Ternyata yang dipanggil Allah adalah nafsu mutmainahnya…
Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah
kepada Tuhan-mu dengan suka cita dan diridhoi-Nya, masuklah ke dalam golongan
hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-KU (AL FAJR 89 : 27 : 30).
Apakah
yang akan mendapatkan siksa kubur itu nafsu amarah, luwamah dan
sufiyahnya…??? Seandainya memang benar
amarah, luwamah dan sufiyahnya yang mendapatkan siksa neraka, apakah tanpa
jasmani tanpa Ruh bisa merasakan kesakitan…???
Demikian juga mutmainah, tanpa jasmani, tanpa kelamin, tanpa Ruh, apakah
bisa merasakan kenikmatan surga…???
Mari
kita perhatikan Surat ALI IMRAN 3 : 185 : …
Barang
siapa dipindahkan dari api neraka
dan dimasukkan ke dalam surga, sesungguhnya ia memperoleh kemenangan dan kehidupan dunia itu hanyalah kesenangan
yang memperdayakan….
Ada apa di surga menurut Al Qur’an…??? Hanya ada kesenangan fisik… yang memperdayakan
: Air yang mengalir (AL
BAQARAH 2 : 25 ), kasur-kasur
yang empuk ( AL WAQIAH 56 : 34 ), gadis –gadis montok ( AN NABA 78 : 33 ), bidadari…( AR-RAHMAN 55 : 56-57 ), minuman air kafur dan wedang jahe (AL INSAN 76 : 5, 17-18 ), Campuran
khamr murni dari Tasnim (AL MUTAFFIN
83 : 27)
Bagi perempuan, bagi ibu-ibu cowo maco dan bidadaranya ngga ada… ibu-ibu hanya menanggung dosanya saja, meledos ngga terasa terus hamil…
hehehe..
Pertanyaannya : Apakah
ayat-ayat tentang surga-neraka adalah ayat-ayat mutasyabihat ??? Ayat-ayat metapora…???
Bila
kita menganggap bahwa neraka merupakan penjara bagi para arwah manusia durjana
untuk melaksanakan hukuman dari Allah atas segala perbuatannya didunia, maka
sebagai bukti bahwa Allah Maha Pengampun serta Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, adalah masuk akal bila para arwah yang berada dineraka masih
diberi
kesempatan
untuk bertaubat dan berbuat kebaikan, diberi keringanan hukuman, bahkan
kemudian dipindahkan ke surga. Berarti dalam menjalani hukuman di alam akhirat,
ada suatu kurun waktu tertentu yang tentu saja berbeda untuk setiap orang.
Hal
ini dimungkinkan karena amal jariahnya sendiri, ilmu yang diamalkannya serta
do’a dari anak-anaknya yang soleh.
Dengan demikian kata TIDAK !!! dalam
Surat AL MU’MINUN 23 : 100 hanya bersifat sementara saja sampai sebatas waktu
yang ditentukan Tuhan… Oleh karena Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
Allah Maha Pengampun dan Maha Mengabulkan semua do’a.. maka Allah mengabulkan
do’a ruh yang ingin dihidupkan kembali ke dunia yang kita sebut reinkarnasi…
Dia-lah yang menciptakan kamu dari unsur tanah,
kemudian Dia tentukan batas waktu
(ajalan, term) kematian kamu,
disamping itu ada pula batas waktu lainnya yang akan ditetapkan kemudian
oleh-Nya (ajalum musammaa indahu). Namun begitu kamu masih tetap meragukannya (AL AN’AAM 6 : 2 terjemahan Bachtiar
Surin).
Menurut
H.E Semedi ayat tersebut harus diterjemahkan sebagai berikut :
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian
Dia menetapkan bagimu suatu masa ( waktu ) dan suatu masa (lagi) ditentukan di
sisi-Nya, kemudian kamu ragukan
Dia-lah
yang menciptakan kamu dari tanah, berarti dari unsur kimiawi yang terdapat
dalam tanah. Kemudian Dia menetapkan bagimu suatu masa, yaitu suatu masa untuk
hidup di dunia dan berakhir dengan kematian. Dan suatu masa (yang lain)
ditentukan di sisi-NYA adalah di alam akhirat yang berakhir dengan
dilahirkannya kembali kamu ke dunia. Kemudian (namun) masih kamu ragukan,
menjelaskan keraguan bahwa tinggal hidup di alam akhirat itu selama masa waktu
tertentu, dimana masa waktu tersebut berbeda-beda bagi setiap orang, demikian
menurut H.E Semedi. Ukuran waktu di
dunia dan ukuran waktu di akhirat tidak sama, dimana 1 hari di akhirat sama
dengan seribu tahun di dunia.
Dan mereka meminta kepadamu supaya siksaan itu
disegerakan, namun Tuhan tidak akan menyalahi janji-Nya. Sebenarnya satu hari
di sisi Tuhan-mu, sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu (AL HAJJ 22 : 47).
Perbedaan
waktu tersebut mungkin dalam pengertian yang sebenarnya (muhkamaat), sehingga
bila reinkarnasi terjadi setelah kurun waktu ribuan tahun maka generasi
keluarga yang ber-reinkarnasi tersebut mungkin sudah musnah, sudah tidak ada
lagi di dunia. Dengan demikian bila kita
dilahirkan kembali baik di tempat asal yang sama ataupun di daerah lain maka
hasilnya tetap akan menjadi kaum yang lain yang sama sekali berbeda dengan
generasi yang sebelumnya.
Oleh
karena itu masalah reinkarnasi inipun menjadi sulit untuk dibuktikan kebenarannya.
Kemungkinan lain dari perbedaan waktu tersebut menurut H.E Semedi adalah bukan
dalam arti yang sebenarnya (mutasyabihaat). Perbedaan waktu tersebut merupakan
ungkapan perasaan subjektif dari seseorang yang sedang menjalani hukuman,
misalnya bila kita berdiri diatas bara api yang berkobar-kobar, maka satu
detikpun akan dirasakan sebagai penderitaan yang berkepanjangan …
Sebaliknya
bila kita sedang berada dalam kesenangan, maka kesenangan itu akan terasa
berlalu dengan sangat singkat sekali. Oleh
karena Tuhan adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, maka
Tuhan tidak akan membiarkan hamba-hambanya
menderita secara berkepanjangan…
Ketika
di dalam neraka, para arwah bertaubat memohon ampun dan belas kasihan Allah
agar mereka bisa dikembalikan ke dunia. Bila mereka diberi kesempatan
dikembalikan ke dunia mereka berjanji akan berbuat kebaikan. Namun jangan lupa,
bahwa di alam arwah mereka telah diambil kesaksiannya bahwa Allah adalah Tuhan
mereka. Kemudian setiap akan lahir ke dunia Ruh manusia akan senantiasa membawa
amanah tugas di dunia atau agama dan jangan lupa juga bahwa hidup di dunia ada
nafsu yang bisa menyesatkan mereka.
Seandainya
mereka dibangkitkan kembali ke dunia, mungkin Tuhan akan membangkitkan mereka
di tempat lain, jauh dari sanak keluarganya semula di suatu negeri di seberang
lautan atau dijadikan mahluk lain yang sama sekali bukan sebagai manusia.
Bukankah Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya… !!!
Firman
Allah :
Dan Tuhanmu Maha Kaya lagi Maha Pemurah, jika Dia
menghendaki, Dia dapat memusnahkan kamu dan mengganti kamu dengan siapa yang
Dia kehendaki sebagaimana Dia telah menjadikan kamu dari keturunan yang lain
( AL AN’AAM 6 : 133 ).
Oleh
karena itu, sesungguhnya jasmani juga merupakan penjara bagi ruhani. Kematian justru
merupakan Rahmat Allah bagi Ruhani yang suci, mereka menerimanya dengan rasa
suka cita dan wajah berseri, karena mereka akan kembali ke Rahmat Allah.
Pada hari itu wajah
mereka ( yang beriman ) berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya. Wajah-wajah ( orang kafir ) muram, karena akan ditimpakan kepadanya malapetaka
yang dasyat ( AL QIYAAMAH 75 : 22-23-24-25 )
Ruhani
yang suci ini tidak ingin dikembalikan lagi ke dunia untuk menjadi bayi lagi, menjadi
bodoh lagi, merangkak lagi dari nol dan harus menjalani bermacam-macam ujian
lagi dst … Kecuali bila Allah menghendaki lain.
Berarti
setiap ruhani harus melaksanakan ujian tahap demi tahap agar bisa kembali
kepada Allah. Ujian tersebut hanya dilakukan dengan cara melahirkannya kembali
ke dunia sesuai dengan keinginan dari Ruh itu sendiri.
Sekiranya kami dapat kembali kedunia, niscaya kami
akan menjadi orang-orang yang beriman.
Sesungguhnya hal ini menjadi keterangan yang nyata, tetapi kebanyakan
mereka tidak mau percaya
( ASY-SYU’ARA 26 :102-103 ).
Bila
demikian masalah reinkarnasi, dibangkitkan kembali ke dunia seyogianya
ditujukan bagi mereka yang masih mempunyai utang-piutang karma atau bagi
mereka yang imannya masih lemah. Setelah utang-piutangnya lunas, atau bagi mereka
yang keimanannya sudah sangat kuat, maka ruh sucinya akan kembali ke pangkuan
Ilahi Robi, berkumpul bersama golongan hamba-hamba Allah yang beriman lainnya
serta mendapat ucapan selamat dan keridoan dari Allah.
Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu
tadinya mati, lalu Dia hidupkan, lalu Dia matikan, lalu Dia hidupkan kamu
kembali, kemudian kepada-Nya kamu akan kembali ( AL BAQARAH 2 : 28 ).
Wahai nafsu mutmainah (jiwa yang tenang), kembalilah
kepada Tuhan-mu dengan suka cita dan diridhoi-Nya, masuklah ke dalam golongan
hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-KU ( AL
FAJR 89 : 27 : 30 ).
Surga Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama mereka
yang saleh di antara orang tua mereka, istri-istri mereka dan keturunan mereka
( AR RA’D 13 : 23 ).
Salamun qaulam-mir-robbir-rohiim. Salam sebagai
ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang ( YAASSIIN 36 : 58 ).
AYAT-AYAT
MENGENAI REINKARNASI :
Reinkarnasi
berasal dari kata latin re-in-carnis. Re
artinya kembali atau pengulangan. In artinya di dalam, Carnis artinya daging. Jadi reinkarnasi artinya kembali menjadi
daging, menjelma menjadi daging, dilahirkan kembali menjadi mahluk yang berdaging.
Pada
umumnya hanya umat Budha, Hindu dan Kong Fu Cu yang percaya akan adanya
reinkarnasi ini. Sedangkan bagi umat Islam mungkin hanya sebagian kecil saja
yang percaya akan adanya reinkarnasi berdasarkan ajaran Al Qur’an.
Mereka
yang sebagian kecil ini tidak ragu-ragu akan kebenaran Al Qur’an. Mereka yakin bahwa Al Qur’an mencakup semua
ajaran agama di dunia serta merupakan penyempurnaan dari semua ajaran-ajaran
agama sebelumnya. Mereka yakin bahwa Al Qur’an merupakan petunjuk yang sangat
universal.
Mereka
yakin bahwa yang disebut Islam itu adalah Fitrah dan Fitrah Allah tidak pernah
berubah yaitu : kesucian, kedamaian, keselamatan,
kasih-sayang, sabar, ikhlas serta berserah diri kepada Allah melalui keimanan
dan ketaqwaan. Mereka yakin itulah
Fitrah Allah yang sudah terprogram di dalam hati masing-masing. Mereka Yakin itulah Islam yang diridhoi
Allah. Itulah Islam Universal. Itulah Islam yang dianut semua umat di dunia…
BAGI
MEREKA YANG MEYAKINI REINKARNASI
Ayat-ayat
Al Qur’an mengenai reinkarnasi yang penulis garis bawahi diantaranya :
Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu
tadinya mati, lalu Dia menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian
menghidupkannu kembali, selanjutnya kepada-Nya lah kamu dikembalikan ( AL BAQARAH 2 : 28 ).
Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu
bersyukur
( AL BAQARAH 2 : 56 ).
Barang
siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-nya, hendaklah ia berbuat
kebaikan dan jangan mempersekutukan Tuhan-nya dengan apapun
(
AL KAHFI 18 : 110 ).
Barang
siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka pasti akan
kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan kehidupan yang baik dan Kami akan
memberinya pahala sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan
(
AN NAHL 16 : 97 )
Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang
menciptakan langit dan bumi dan tidak lelah dan tidak merasa payah
menciptakannya, berkuasa menghidupkan orang-orang mati…??? Ya sesungguhnya Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu.
( AL AHQAAF 46 : 33 ).
Darinya ( tanah ) Kami ciptakan kamu, kepadanya (
tanah ) Kami kembalikan kamu dan darinya
( tanah ) kami keluarkan kamu untuk kedua kalinya
( THAHA 20 : 55 ).
Siapakah yang menghidupkan kembali tulang belulang
yang telah hancur luluh itu… ???
Katakanlah : yang menghidupkannya ialah yang menjadikannya pertama kali
dan Dia ( Allah ) Maha Mengetahui segala makhluk ( YAASIN
36 : 78-79 ).
Kami menentukan kematian di antara kamu dan Kami
berkuasa merubah rupa kamu dan menciptakan ( kembali ) dalam ( bentuk ) yang
tidak kamu ketahui
( AL WAAQI’AH 56 : 60-61
).
Hai manusia, apa yang memeperdayakan kamu terhadap
Tuhan-mu Yang Maha Pemurah, yang menciptakan kamu, lalu membentuk dan
menyempurnakan kamu dalam bentuk yang dikehendaki-Nya Dia membentuk tubuhmu
( AL INFITHAAR 82 : 6-8 ).
Lalu Kami berfirman kepada mereka
: JADILAH KAMU KERA !!!
( AL BAQARAH 2 : 65 ).
Tatkala mereka melanggar apa yang dilarang baginya,
kepadanya : JADILAH
KAMU KERA YANG DIJAUHI DAN DI BENCI (
AL-A’RAF 7 : 166 ).
…
Yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ( ada )
yang dijadikan kera
dan babi … ( AL MA’IDAH 5 : 60 )
BAGI MEREKA YANG MERAGUKAN REINKARNASI
Menurut
H.E Semedi, bagi
mereka yang ragu, bagi mereka yang ingkar, mereka akan senantiasa
mempertanyakan sungguh benar atau tidaknya masalah reinkarnasi ini.. Maka
perhatikanlah beberapa ayat Al Qur’an dibawah ini :
Jika kamu heran, maka yang
mengherankan adalah ucapan mereka : Bila kami telah menjadi debu, apakah
kami sesungguhnya akan menjadi ciptaan baru…??? Begitulah orang-orang yang
mengingkari Tuhannya, orang-orang demikian dibelenggu lehernya, orang-orang
demikian adalah (akan menjadi) penghuni neraka, mereka akan tinggal di dalamnya (
AR RA’AD 13 : 5 ).
Dan mereka berkata : Bila kami
hilang dalam tanah bagaimana kami dapat diciptakan kembali… ??? Tidak…!!!
Mereka mengingkari pertemuan dengan Tuhan mereka ( AS
SAJADAH 32 : 10 ).
Demikianlah ganjaran bagi mereka karena mereka
mengingkari tanda-Kami dan berkata : Bila kami telah menjadi tulang-belulang
dan debu bertebaran, apakah kami sungguh akan dibangkitkan kembali sebagai
ciptaan yang baru
( AL ISRAA 17 : 98 ).
Orang-orang
yang ingkar berkata : Bila kami telah menjadi debu seperti nenek moyangkami, apakah kami akan dihidupkan kembali. Sejak
dahulu kami telah diberi ancaman dengan ini ( hari kebangkitan-reinkarnasi )
kami dan nenek moyang kami. Sebenarnya
ini hanyalah dongeng orang-orang terdahulu ( AN NAML 27 : 67-68 ).
Bagi orang
kafir Reinkarnasi hanya dianggap
dongeng…
Orang-orang yang ingkar berkata : Maukah kami
tunjukkan kepadamu seorang laki-laki yang mengabarkan kepadamu bila badanmu
telah cerai-berai sama sekali, kamu akan diciptakan kembali ( SABA 34 : 7 ).
Dan manusia berkata : Betulkah
bahwa apabila aku telah mati, aku akan dihidupkan kembali…??? Tidaklah manusia itu ingat bahwa sesungguhnya
Kami telah menciptakannya dahulu, ketika ia tidak ada sama sekali ( MARYAM 19 : 66-67 ).
Celakalah manusia, alangkah ingkarnya… Dari apa Dia ( Tuhan ) menciptakannya??? Dari
setetes mani Dia menciptakannya dan membentuknya. Lalu dia memudahkan jalannya, kemudian
mematikan dan menguburnya, kemudian bila dikehendaki-Nya Dia menghidupkannya
kembali (‘ABASA
80 : 17-22).
Ia menciptakannya dalam ayat tersebut akan sama artinya
dengan Ia menjadikan, dilahirkan kembali atau menghidupkan kembali di alam
dunia nyata, bukan di alam ghoib akhirat, karena di dalam ayat tersebut tidak
ada kata-kata akhirat.
Al
Qur’an mengajak semua umat yang membacanya agar terus berfikir dan berfikir.
Dengan banyaknya Surat-surat yang mengandung ayat-ayat tentang penciptaan kembali, kebangkitan kembali, seolah-olah
Tuhan memang menghendaki agar kita memikirkan hal tersebut yaitu reinkarnasi dan
tidak mengingkarinya.
Bagi
mereka yang ragu-ragu, Al Qur’an kemudian menegaskan :
Hai manusia…jika kamu ragu-ragu tentang kebangkitan,
bahwa Kami ciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari
suatu gumpalan daging yang berbentuk dan tidak berbentuk, agar kami dapat
menjelaskan kepada kamu dan Kami tempatkan yang kami kehendaki di dalam rahim
untuk suatu masa tertentu dan kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi dan
kamu menjadi dewasa ( AL HAJJ 22 : 5 )
Barang
siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan
yang sempit dan kami akan menghimpunnya pada hari kebangkitan dalam
keadaan buta ( THAHA 20 : 124 )
Setelah
sempurna kejadiannya di dalam rahim, kemudian Ruh dihembuskan. Bila Tuhan
menghendaki maka bisa saja Tuhan menghembuskan Ruh tersebut ke dalam rahim
hewan yang sedang hamil, sehingga ketika dilahirkan, Ruh tersebut berada dalam
tubuh hewan.
Barang siapa dipimpin Allah, ia dipimpin benar. Barang siapa disesatkan-Nya, bagi mereka
tidak kau dapatkan teman-teman pelindung selain Dia (Allah) dan Kami kumpulkan
mereka pada hari kebangkitan di atas mukanya dalam keadaan buta, bisu dan
tuli. Tempat kediaman mereka adalah
neraka; tiap kali apinya padam, kami besarkan nyalanya ( AL
ISRAA 17 : 97 ).
Demikian ganjaran bagi mereka, karena mereka mengingkari tanda-tanda Kami dan berkata : “Bila kami telah menjadi tulang belulang dan debu bertebaran, apakah kami
sungguh akan dibangkitkan kembali sebagai ciptaan yang baru?? ( ISRAA 17 : 98 ).
Mereka
yang disesatkan Allah maka tiada lagi pelindung baginya. Mereka buta di dunia
dan buta pula di akhiratnya. Tidak ada sedikitpun cahaya yang akan membimbing
mereka, karena mereka mengingkari tanda-tanda Allah. Mereka tidak percaya bahwa
mereka akan dilahirkan kembali ke dunia nyata. Kemudian untuk menyadarkan
mereka Allah berfirman :
Tidak-kah mereka lihat bahwa Allah menciptakan
langit dan bumi berkuasa menciptakan yang sama dengan mereka dan Allah telah
menetapkan suatu masa ( di akhirat ) bagi mereka yang tidak diragukan lagi ???
Tetapi orang-orang durjana enggan menerima kecuali dengan ingkar
( AL ISRAA 17 : 99 ).
Tidak
diragukan lagi artinya pasti terjadi. Allah tidak akan mengingkari janji-NYA.
Di
alam kubur arwah orang-orang kafir menyesali perbuatannya tatkala dia hidup di
dunia. Setelah kematiannya Ruh mereka bisa melihat dan mendengar sesuatu yang
terjadi di alam kubur :
Sesungguhnya kamu telah lalai, maka mulai hari ini
Aku buka tabir yang menutupimu, maka pandangan matamu menjadi tajam ( AL QAF 50 : 22 ).
Kemudian
Ruh mereka meratap memohon kepada Allah agar dihidupkan kembali serta mereka
berjanji akan berbuat baik dan akan menjadi orang yang beriman.
Yang
menjadi pertanyaan adalah : “Apakah di alam kubur bagi mereka yang sudah
meninggal dunia itu masih bisa minta ampunan kepada Allah atau adakah semacam
remisi, grasi atau bahkan amnesti dari Allah setelah kita berada di alam kubur
???
Ya Orang kafir senantiasa tidak ingat akan akibat
kejahatannya, sehingga manakala datang kematian kepada seseorang dari mereka,
dia menyesal dan berkata : Ya Tuhanku, hidupkanlah aku kembali, agar aku dapat
beramal saleh dalam perkara yang aku lalaikan… Tidak…!!! Itu hanya alasan
belaka, dibelakang (waroo’a) mereka ada suatu tabir yang menghalangi mereka,
sampai hari mereka dibangkitkan ( AL MU’MINUN 23 :
99-100 ).
Sekiranya kami dapat kembali kedunia, niscaya kami
akan menjadi orang-orang yang beriman.
Sesungguhnya hal ini menjadi keterangan yang nyata, tetapi kebanyakan
mereka tidak mau percaya ( ASY-SYU’ARA 26 :102-103 ).
REINKARNASI BAGAIKAN
SIKLUS SIANG DAN MALAM
Menurut
H.E Semedi siklus kehidupan dan kematian hampir sama seperti siklus adanya
siang dan malam yang terus menerus, berulang-ulang, berlangsung secara
berkesinambungan.
Kau masukkan malam ke dalam siang dan Kau masukkan
siang ke dalam malam. Kau keluarkan yang
hidup dari yang mati dan Kau keluarkan yang mati dari yang hidup. Kau beri rizki kepada siapa yang Kau
kehendaki tanpa batas
( ALI IMRAN 3 : 27 ).
Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Ia
mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Ia menghidupkan kembali bumi
setelah kematiannya, seperti itulah kamu akan di keluarkan ( AR RUUM 30 : 19 ).
Katakanlah : Siapa yang memberi rizki kepadamu dari
langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan
penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala
urusan..??? Mereka akan berkata
Allah. Maka katakanlah : Mengapa kamu
tidak bertaqwa (kepada Allah)…???
( YUNUS 10 : 31 ).
Dalam
Surat Ali Imran 3 : 27 telah dijelaskan bahwa proses pergantian siang dan malam
bukan terjadi hanya 1 kali saja, akan tetapi terjadi terus-menerus selama bumi
beredar mengelilingi matahari dan berputar pada porosnya. Demikian juga
mengenai siklus kehidupan dan kematian yang berulang-ulang dan terus menerus
dinyatakan dalam kalimat : Kau keluarkan yang hidup dari yang mati dan
Kau keluarkan yang mati dari yang hidup, merupakan suatu analogi yang
seolah-olah Allah memang menghendaki agar umat manusia senantiasa memperhatikan
segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini. Apa yang telah diciptakan
Allah, maka Allah akan senantiasa mengulanginya. Analogi tersebut diperkuat
melalui Surat Ar Ruum 30 : 19.
Malam—siang—malam—siang dst…
Mati—hidup—mati—hidup—mati..dst…
Proses
pengulangan siklus kehidupan di dunia setelah kehidupan di akhirat, bisa kita
perhatikan melalui ayat-ayat tersebut dibawah ini :
Tidak-kah manusia itu ingat bahwa sesungguhnya Kami
telah menciptakan dahulu ketika ia tidak ada sama sekali ( MARYAM 19 : 67 ).
Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan semula,
begitulah Kami akan mengulanginya…
( AL ANBIYAA 21 : 104 ).
Dia-lah yang menghidupkan-mu, kemudian Dia
mematikan-mu, lalu menghidupkan-mu (lagi).
Sesungguhnya manusia tidak tahu berterima kasih ( AL
HAJJ 22 : 66 ).
Allah-lah yang menciptakan-mu, lalu memberi-mu
rizki, kemudian mematikan-mu, kemudian menghidupkan-mu lagi… (
AR RUUM 30 : 40 ).
Bagaimana kamu tidak beriman kepada Allah, padahal
kamu tadinya mati, lalu Dia menghidupkan-mu, kemudian Dia mematikan-mu,
kemudian Dia menghidupkan-mu (lagi), kemudian kepada-Nya kamu akan kembali ( AL BAQARAH 2 : 28 ).
Barang
siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhan-nya, hendaklah ia berbuat
kebaikan dan jangan mempersekutukan Tuhan-nya dengan apapun
(
AL KAHFI 18 : 110 ).
Hanya kepada-Nya lah kamu semuanya akan kembali,
sebagai janji yang benar dari Allah.
Sesungguhnya Allah yang memulai penciptaan, kemudian mmengulanginya agar
Dia dapat memberikan pahala kepada mereka yang beriman dan melakukan kebaikan
secara adil dan untuk orang-orang yang ingkar disediakan minuman yang mendidih
dan azab yang pedih karena keingkaran mereka ( YUNUS 10 : 4 ).
HARI KEBANGKITAN YANG
INDAH, CERIA DAN DAMAI
Menurut
H.E Semedi, kelahiran kembali ke alam nyata senantiasa dinyatakan di dalam Al
Qur’an dengan perkataan “menghidupkan
kembali”, “menciptakan kembali”, sedangkan kebangkitan Ruh di alam ghaib, pada
umumnya dinyatakan dengan kata “membangkitkan”. Saat kebangkitan Ruh di alam akhirat itulah yang disebut dalam bahasa
Arab qiyaamatu.
Qoyama,
qoyum arti harfiahnya
adalah berdiri… Jadi, hari qiyamat berarti hari kebangkitan, bukan hari
kehancuran total sebagai akhir zaman seperti yang selama ini kita tafsirkan.
Demikian juga kata ajal (ajalum musammaa) dalam bahasa Arab yang
seharusnya ditafsirkan sebagai kurun waktu tertentu (term), sering
ditafsirkan sebagai mati atau kematian…
Dalam
masalah qiyaamat ini H.E Semedi menganjurkan agar kita menghayati Surat AL
QIYAAMAH, dimana isi dari ayat-ayatnya pun ternyata tidak menyinggung masalah
kehancuran total sebagaimana yang kita bayangkan selama ini.
Surat
Al Qiyaamah menceritakan keraguan orang-orang kafir atau orang-orang fasik akan
hari kebangkitan dan rasa takut mereka saat menghadapai sakaratul maut. Pada
saat menjelang maut itu Allah memutar ulang rekaman perjalanan hidupnya dan
akhirnya dia sendiri yang menjadi saksi atas dirinya sendiri.
Hal
ini berbeda keadaannya bagi orang-orang mukmin, wajah mereka pada saat itu
berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya, mereka mendapat rahmat Allah.
Beberapa
cuplikan ayat-ayat dari Surat Al Qiyaamah :
Apakah manusia mengira
bahwa Kami tidak akan mengumpulkan ( kembali ) tulang- belulangnya . Bukan
demikian, sesungguhnya Kami berkuasa menyusun kembali jari-jemarinya dengan
sempurna ( AL QIYAAMAH 75 : 3-4 )
Ia bertanya : Bilakah
hari kiamat itu ?? ( AL QIYAAMAH 75 : 6
)
Pada hari itu
diberitahukan kepada manusia apa-apa yang telah dikerjakannya dan apa-apa yang
dilalaikannya. Di dalam diri manusia ada
Yang Maha Melihat
(
AL QIYAAMAH 75 13-14 )
Pada hari itu wajah
mereka ( yang beriman ) berseri-seri, karena melihat wajah Tuhan-nya. Wajah-wajah ( orang kafir ) muram, karena akan ditimpakan kepadanya malapetaka
yang dasyat ( AL QIYAAMAH 75 :
22-23-24-25 )
Dan dia yakin bahwa
sesungguhnya itulah waktu perpisahan ( kematian )
(
AL QIYAAMAH 75 : 28 )
Kepada Tuhan-mu lah pada
hari itu kamu digiring ( AL QIYAAMAH 75
: 30 )
Apakah manusia mengira
bahwa dia akan dibiarkan begitu saja ???
(
AL QIYAAMAH 75 : 36 )
Bukankah
( Allah ) berkuasa menghidupkan orang mati ??
(
AL QIYAAMAH 75 : 40 )
H.E
Semedi mengajak kita untuk berfikir dan merenungkan kembali mengenai makna hari
kebangkitan (qiyaamah) yang selama ini kita anggap sebagai hari kehancuran
total atau hari akhir zaman melalui ayat yang lain :
Dan Allah, Dia-lah yang mengirimkan angin, lalu
angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang
mati, lalu Kami hidupkan bumi yang telah mati dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu ( FAATHIR
35 : 9 ).
Ia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Ia
mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan Ia menghidupkan kembali bumi
setelah kematiannya, seperti itulah kamu akan di keluarkan ( AR RUUM 30 : 19 ).
Dari
Surat Faathir 35 : 9 dan Surat Ar Ruum 30 : 19 tersebut bisa kita bayangkan
bahwa hari kebangkitan adalah suatu musim semi yang indah penuh keceriaan dan
kedamaian. Hari kebangkitan sama sekali tidak menggambarkan sesuatu yang sangat
mengerikan, tidak menggambarkan suatu kehancuran total seperti dongeng yang
selama ini pernah kita dengar sebelumnya… Karena Qiyam artinya bangkit…
Dengan
demikian kita bisa memahami bila H.E Semedi berpendapat bahwa Ruh akan
dibangkitkan dan dilahirkan kembali setelah dalam kurun waktu tertentu di alam
kubur, tanpa harus menunggu sampai hari akhir zaman yang selama ini kita sebut
sebagai hari qiyamat… Seharusnya hari qiyamat itu kita terjemahkan sebagai hari
kebangkitan, bukan hari kehancuran. Kurun waktu tertentu itu lamanya tergantung
kepada amal perbuatannya serta kadar keimanannya masing-masing.
REINKARNASI SEBAGAI
BUKTI ALLAH MAHA ADIL
Kepada-Nya
lah kamu semuanya akan kembali. Janji
Allah yang benar, Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya
supaya Dia dapat memberi pahala kepada mereka yang beriman dan beramal saleh
secara adil. Sedangkan bagi mereka yang
kafir (disediakan) minuman air yang mendidih dan azab yang pedih karena
kekafirannya ( YUNUS
10 : 4 ).
Barang siapa berbuat baik, laki-laki atau perempuan,
dan ia beriman, maka pasti akan kami hidupkan ( dilahirkan kembali ) dengan
kehidupan yang baik dan kami akan memberinya pahala (sebagai balasan) sesuai
dengan apa yang telah mereka lakukan ( AN
NAHL 16 : 97 )
Kami akan memasang timbangan yang adil untuk hari
kebangkitan, sehingga tak ada orang yang rugi sedikitpun, biarpun amalan itu
hanya seberat biji sawi, Kami akan memperlihatkannya dan Kami cukup sebagai
penghisab. ( AL ANBIYAA 21 : 47 ).
BENCANA ALAM DAN
KEMATIAN MASAL
H.E
Semedi juga mengulas mengenai tentang bencana alam dan kematian masal dalam
Surat Al Haaqqah 69 : 13-19 serta Surat
Az Zalzalah 99 : 1 – 6 sebagai berikut :
Dan apabila sangkala berbunyi sekali tiupan dan bumi
beserta gunung-gunung diangkat dan dihancurkan dengan sekali benturan, maka
pada hari itu terjadilah peristiwa kiamat dan terbelahlah langit, karena pada
hari itu langit menjadi lemah dan para malaikat akan berada di setiap penjuru
langit. Pada hari itu delapan malaikat
menjunjung Arsy Tuhan-mu di atas mereka.
Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhan-mu), tiada sesuatupun dari
keadaanmu yang tersembunyi. Adapun orang-orang yang diberikan kitabnya kedalam
tangan kanannya, ia akan berkata : Ambilah, baca kitabku (AL HAAQQAH 69 : 13 – 19).
Bilamana bumi digoncangkan dengan gempa buminya dan bumi
mengeluarkan beban-bebannya (yang dikandungnya) dan manusia bertanya : Mengapa
bumi ini (jadi begini)...??? Pada hari itu bumi akan menceriterakan kisahnya. Karena sesungguhnya Tuhan-mu telah
memerintahkan kepadanya. Pada hari itu
umat manusia akan keluar bergolongan-golongan untuk diperlihatkan
perbuatan-perbuatan mereka (AZ ZALZALAH 99 : 1-6).
Menurut
H.E Semedi bila ayat-ayat dari kedua Surat di atas ditafsirkan secara harfiah,
maka setiap orang pasti akan berfikir bahwa orang-orang mati harus menunggu
sampai terjadinya kehancuran total pada akhir zaman sebelum mereka dibangkitkan
kembali dan dihisab amal perbuatannya.
Ayat-ayat
dari kedua Surat tersebut mengungkapkan dan menggambarkan suatu tragedi, suatu
peristiwa yang dahsyat, suatu dramatisasi agar kita menghayati adanya peristiwa
besar yang terjadi baik pada seseorang maupun pada sekelompok atau suatu umat
yang mengakibatkan kematian ataupun kehancuran umat tersebut secara masal.
Misalnya gempa bumi, letusan gunung berapi atau bencana alam lainnya seperti
dalam riwayat kota Sodom dan Gomorah.
Pada
peristiwa tersebut terjadi kematian secara serempak, kemudian mereka akan
dihisab dan dibangkitkan kembali sesuai dengan kadar keimanannya masing-masing.
Bagi mereka yang soleh tidak akan
gentar, tidak ada keraguan untuk memperlihatkan buku catatan amalnya kepada
siapapun juga … Mereka ini yakin bahwa Maha Benar Allah dengan segala
Firman-Nya. Mereka yakin bahwa Allah tidak akan
mengingkari janjinya.
SANGGAHAN REINKARNASI
DARI PIHAK YANG
BERWENANG
Seperti
kita ketahui bahwa selama ini sebagian umat Islam tidak mempercayai adanya
reinkarnasi. Dalam hal ini Pemerintah
c.q Departemen Agama memberikan sanggahan-sanggahannya berdasarkan ayat-ayat Al
Qur’an, terutama ayat-ayat yang menunjukkan adanya siksaan neraka jahanam serta
ganjaran surga yang kekal abadi. Berarti setiap manusia yang sudah mati akan
tetap tinggal di alam akhirat untuk selama-lamanya.
Menurut
H.E Semedi bila kita hanya berpegang pada ayat-ayat tersebut saja tanpa melihat
dan mempelajari ayat-ayat lainnya serta keterkaitannya satu sama lain atau
tanpa melihat kandungan Al Qur’an secara keseluruhan, tanpa melihat Kemuliaan
dan Keagungan Tuhan, tanpa melihat sifat Rahman-Rahim Tuhan, tanpa melihat
bahwa Allah Maha Pengampun, terlebih lagi masalah reinkarnasi ini tidak bisa
dibuktikan secara nyata, maka bisa dipastikan bahwa kita semua akan menolak
adanya masalah reinkarnasi.
Beberapa
ayat yang diajukan Pihak resmi antara lain adalah :
Surat
AL MU'MINUUN 23 : 99 – 100
“Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu, hingga
apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata : “Ya,
Tuhanku, kembalikanlah aku ke dunia. Agar aku berbuat amal saleh terhadap apa
yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak !!! Sesungguhnya itu adalah
perkataan yang diucapkannya saja. Dan di
belakang (waraa) mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.
Surat
AL FURQON 25 : 69
“Akan
dilipat gandakan azab untuknya pada hari kebangkitan dan dia akan kekal di
dalamnya, dalam keadaan terhina.”
Surat YUNUS 10 : 27 dan
52
“Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat)
balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka
seorang perlindungpun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi malam
yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim itu :
“Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal, kamu tidak diberi balasan melainkan
dengan apa yang telah kamu kerjakan.”
Surat
AS-SAJADAH 32 : 14
“Maka. Rasakanlah olehmu (siksaan) disebabkan kamu lupa
akan pertemuan dengan harimu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakanmu (pula)
dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang kamu kerjakan.”
Surat MUHAMMAD 47 : 15
Gambaran (penghuni) surga yang dijanjikan kepada
orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang
tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang tiada berubah
rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan
sungai-sungai dari madu yang disaring dari Tuhannya, (apakah) sama dengan
gambaran orang-orang yang kekal dalam neraka dan diberi minum air yang mendidih
sehingga memotong-motong ususnya.
Demikianlah balasan (terhadap) musuh-musuh Allah, (yaitu)
neraka; mereka mendapat tempat tinggal yang kekal di dalamnya sebagai balasan
atas keingkarannya terhadap tanda-tanda (ayat-ayat) kami.
Surat
AT-TAUBAH 9 : 17 dan 63
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan
masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui mereka sendiri kafir. Itulah
orang-orang yang hapus semua amal mereka, dan mereka kekal di dalam neraka.
Surat AL HASYR 59 : 17
Maka kesudahannya kedua golongan itu, bahwa sesungguhnya
keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan
(bagi) orang-orang yang zalim.
Surat AL BAQARAH 2 : 25,
29, 81-82, 163, 217, 257 dan 275
Dan sampaikanlah berita gembira bagi mereka yang beriman
dan berbuat kebaikan, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir
sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga
itu, mereka mengatakan : “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu.
Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada
istri-istri yang disucikan dan mereka kekal di dalamnya.
Surat ALI IMRAN 3 : 15,
77, 107, 116, 136 dan 198
Surat AL MAIDAH 5 : 80,
Surat Al A’Raaf 7 : 36 dan 45
Dan banyak lagi ayat-ayat
yang sejenis yang menunjukkan adanya siksa neraka dan ganjaran surga yang kekal
di dalamnya. Oleh karena itu dalam
ringkasan ini tidak perlu semuanya harus dicantumkan, silahkan cari sendiri di
dalam Al Qur’an.
SANGGAHAN DARI MEREKA
YANG RAGU
Menurut
H.E Semedi, sanggahan dari mereka yang tidak percaya akan adanya reinkarnasi
adalah dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut :
“Mengapa
di dalam Al Qur’an tidak terdapat kata-kata reinkarnasi dan tidak ada sebuah
Hadits pun yang membahas tentang reinkarnasi???”
Memang
benar istilah reinkarnasi tidak terdapat di dalam Al Qur’an. Menurut Semedi
begitulah bahasa Al Qur’an yang penuh dengan perumpamaan-perumpamaan bagi
mereka yang mau berfikir. Apakah engkau tidak mengetahui ??? Apakah kita harus
menolak istilah zaman sekarang yang secara kebetulan tidak tercantum di dalam
Al Qur’an ??? Misalnya : Istilah “listrik”, “reaktor nuklir”, “radio”,
“televisi”, “galaksi”, “fisika”, “atom”, “psikiatri”, “hipnotis” dsb.
Dalam
hal ini penulis ingin menambahkan bahwa istilah “keluarga berencana” pun tidak tercantum
di dalam Al Qur’an, yang tercantum di dalam Al Qur’an hanya perintah menyusukan
bayi selama 2 tahun ( AL BAQARAH 2 : 233 ) dan perintah bahwa kita
hendaknya jangan sampai mewariskan (meninggalkan) keturunan yang lemah
(ANNISAA 4 : 9).
Lemah
dalam arti kata yang luas … adalah lemah jasmaninya, ruhaninya, mentalnya serta
lemah keadaan sosial ekonominya … Bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib
seseorang atau suatu kaum kecuali orang atau kaum tersebut berusaha sendiri
untuk mengadakan perubahan (AR-RA’AD 13 : 11).
Di
dalam Al Qur’an memang tidak ada kata-kata reinkarnasi, yang ada adalah
kata-kata : dihidupkan kembali, diciptakan kembali, dikeluarkan lagi,
dikeluarkan untuk kedua kalinya serta kata-kata lain yang senada …
Mengenai
Hadits, secara terus terang Semedi mengatakan bahwa beliau kurang menguasai
masalah Hadits. Bagi Semedi segala ilmu dan semua ajaran telah tercantum di
dalam Al Qur’an dengan sempurna. Walaupun demikian beliau memberikan penjelasan
mengenai Hadits Rosulullah yang sering di ulang-ulang untuk
memperingatkan para sahabatnya :
Janganlah kamu tuliskan ucapan-ucapanku !!! Siapa yang
menuliskan ucapanku selain Al Qur’an, hendaklah menghapuskannya; dan kamu boleh
meriwayatkan perkataan-perkataan ini. Siapa yang dengan sengaja berdusta
terhadapku, maka tempatnya adalah neraka.
Dan apa yang diberikan Rosul kepada-mu, terimalah. Dan apa yang dilarang
Rosul, tinggalkanlah… ( AL HASYR 59 : 7 ).
Hai orang-orang yang beriman… taatilah Allah dan taatilah
Rosul (Nya) dan ulil amri diantara kamu.
Kemudian bila kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah dan Rosul, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian. Yang demikian itu lebih utama
dan lebih baik akibatnya (AN NISAA 4 : 59).
Menurut
Semedi, mungkin pada saat itu Rosulullah sudah merasa khawatir, bila segala
ucapan-ucapan beliau dibukukan, maka pada suatu ketika akan dapat menimbulkan
hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya :
- Kumpulan catatan tersebut bisa menjadi beban yang memberatkan bagi umatnya.
- Bisa menimbulkan perselisihan diantara umatnya dalam hal penilaian antara yang sahih dan yang tidak sahih.
- Akan menimbulkan mahzab-mahzab yang masing-masing berpegang pada ucapan Rasul yang mereka jadikan bahan bertentangan atau karena perbedaan persepsi mereka karena Rasul mengatakannya dalam situasi yang berbeda.
- Kemungkinan salah dengar, salah persepsi atau dibelokkan artinya baik secara disengaja maupun tanpa disengaja.
- Golongan yang membenci Islam akan dengan sengaja menyusupkan ajaran-ajaran palsu.
- Serta hal-hal lain yang akan bisa merusak citra Islam.
Ternyata
200 tahun lebih setelah Rasulullah wafat dibentuk panitia untuk menghimpun dan
membukukan Hadits-hadits Rasulullah. Menurut Semedi, mula-mula terkumpul lebih
dari 600.000 “calon Hadits”, disaring menjadi 20.000 dan disaring lagi untuk
dibukukan menjadi hanya tinggal beberapa ribu saja.
Melihat
kurun waktu 200 tahun lebih yang sudah terlalu lama, serta jumlah “calon
hadits” yang begitu banyak, maka bisa kita bayangkan betapa sulitnya pekerjaan
yang dilakukan panitia tersebut. Mungkin terjadi perdebatan panjang bahkan
perselisihan untuk menentukan mana yang sahih dan mana yang tidak. Wajar bila
kemudian timbul golongan-golongan atau mahzab-mahzab. Tidak aneh bila kemudian muncul golongan-golongan
yang lebih mengutakamakan Hadits dari pada Al Qur’an.
Kurun
waktu 200 tahun lebih berarti sudah 2 generasi. Apakah masih ada saksi hidup
??? Apakah pada saat itu sudah ada sistim penyimpanan arsip yang baik ???
Apakah pengumpulan calon hadits itu dihimpun dari mulut ke mulut melalui
wawancara ??? Apakah mereka yang diwawancarai tersebut mempunyai daya ingat
yang kuat ??? Apakah diantara panitia tersebut tidak ada kelompok kepentingan
??? Mengingat mereka adalah bukan Rosul dan bukan pula para sahabat Rasul,
mereka adalah generasi baru setelah Rasul. Siapa yang bisa menjamin bahwa di
dalam Hadits-hadits yang disingkirkan itu tidak terdapat ajaran reinkarnasi ???
Mengingat
pada saat itu banyak Kaum Nasrani yang bermukim di zajirah Arab, dimana Kaum
Nasrani pun setelah mengadakan muktamar gereja kristen di Konstantinopel pada
tahun 553 Masehi, yaitu kira-kira 50 tahun sebelum munculnya Agama Islam telah
menetapkan untuk membuang ayat-ayat mengenai reinkarnasi dari kitab Injil.
Apakah anggota panitia penyusun Hadits pada waktu itu tidak terpengaruh Kaum
Nasrani yang telah membuang ajaran reinkarnasi tersebut ???
Sesungguhnya
Al Qur’an telah meramalkan bahwa suatu saat nanti akan ada kelompok kepentingan
yang lebih mengutamakan Hadits-hadits yang menurut mereka sahih daripada ajaran
Al Qur’an.
Hal
ini sesuai dengan Firman Allah :
Ya Tuhan-ku… Sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini
sesuatu yang tidak diacuhknan ( AL FURQAAN 25 : 30 ).
Telah kami jelaskan kepada manusia dalam Al Qur’an ini
segala pemisalan, tetapi manusia dalam banyak hal suka membantah ( AL KAHFI 18 : 54 ).
Menurut
Al Khathib justru hadits-hadits Rosulullah itu dibukukan karena mulai tampak
adanya gejala-gejala pemalsuan hadits yang muncul di wilayah sebelah timur,
pada saat pemerintahan Umar bin Abdul Aziz sebagai Khulafa ar-Rasyidin yang
ke-lima. Umar bin Abdul Aziz memerintahkan Ibnu Shihab az-Zuhri untuk
menghimpun sunah-sunah Rosulullah dan membukukannya menjadi beberapa eksemplar.
Selanjutnya khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirimkan satu buku kepada setiap
pejabat di wilayah-wilayah kekuasaan Islam.
Hal
ini terjadi pada awal tahun 100 H. yang dianggap sebagai awal pembukuan dari
hadits-hadits Rosulullah. Himpunan
Hadits yang dibukukan itu berasal dari catatan para sahabat pada zaman
Rosulullah termasuk catatan dari Siti Aisyah setelah melalui seleksi yang
ketat. Catatan para sahabat maupun Siti
Aisyah tidaklah berupa buku, namun berupa tulisan pada lembaran kulit, daun,
tulang dan apa saja yang bisa ditulisi.
Setelah
penulisan dipelopori oleh khalifah maka muncul keberanian dari para tokoh ulama
terkenal lainnya yang menyusun buku tentang hadits Rosulullah, antara lain Imam
Malik bin Anas, Imam Ahmad bin Hambal ( 164 - 214 H ) dan Imam Abu Abdullah
Muhammad bin Ismail al-Bukhori ( 194 - 256 H ) dan lain-lainnya.
Sesungguhnya
penulisan hadits-hadits Rosulullah ini telah dilakukan sejak dini. Shahifah
adalah catatan hadits yang berasal langsung dari Rosulullah sendiri yang
memerintahkan untuk menuliskannya. Perintah
tersebut diberikan kepada Abdulah bin Amr (7 SH-65 H). Tulisan tersebut diberi nama oleh penulisnya
Ash-Shahifah Ash-shadiqah. Tulisan-tulisan
Ibnu Abbas (3 SH-68 H). Shahifah Jabar
bin Abdillah al-Anshari (16 SH-78 H). Shahifah
milik Hamam bin Munabbih (40 - 131H). Catatan
Hamam ini berasal dari Abu Hurairah, sebelum Abu Hurairah meninggal pada tahun
59 H. Berarti dokumen tersebut ditulis sebelum tahun 59 H.
Kaum
orientalis berpendapat bahwa hadits-hadits Rosulullah mulai ditulis pada awal
tahun 200 H dengan maksud untuk mengecoh orang Islam agar tidak mempercayai
hadits. Kaum orientalis berpendapat bahwa hadits-hadits tersebut adalah tulisan
atau pendapat para ulama biasa bukan dari Rasulullah S.A.W.
(Al-Khatib
: Hadits Nabi sebelum dibukukan).
Meskipun
Semedi tidak menguasai masalah hadits, dia mengajukan sebuah Hadits yang dapat
dipergunakan untuk memperkuat kebenaran reinkarnasi :
Do’a yang diajarkan oleh Nabi Muhammad
s.a.w. : “Ya Tuhan !!! Bangunkanlah bagiku agamaku yang menjadi pegangan segala
urusanku; bangunkanlah duniaku yang menjadi tempat (pencaharian) penghidupanku;
bangunkanlah akhiratku yang menjadi tempat pulang bagiku; jadikanlah hidupku
menjadi tambahan kekuatanku untuk segala amal kebaikan; dan
jadikanlah kematianku untuk beristirahat dari segala
kejahatan.
( Riwayat
Muslim dari Abi Hurairah ).
“Jadikanlah kematianku untuk beristirahat dari
segala kejahatan.”
Mengapa pada kalimat tersebut Rosulullah s.a.w. mempergunakan istilah kematian
untuk beristirahat, tidak untuk berhenti dari kejahatan ???
Bagi
mereka yang percaya akan adanya reinkarnasi maka kematian itu pada hakekatnya
hanyalah selingan di antara dua kehidupan fisik dunia. Demikian juga
sebaliknya, kehidupan fisik pun merupakan selingan dari antara dua kematian
atau kehidupanan akhirat. Kita semua menyadari bahwa selama hidup di dunia
tentu akan digoda oleh kebutuhan fisik dan nafsu yang bisa menjerumuskan diri
ke dalam tindak kejahatan. Setelah kematiannya bagi ruh para durjana tidak akan
bisa langsung berada di sisi Allah.
Dunia
fisik merupakan tempat ujian bagi setiap ruh untuk meningkatkan kualitas
kesucian spiritualnya secara tahap demi tahap, sampai bisa mencapai tingkat
ihsan dan insan kamil sehingga mereka tidak usah mengalami reinkarnasi secara
terus menerus. Mereka bisa tetap hidup
kekal disisi Tuhannya dan mendapat rejeki, kecuali bila Tuhan menghendaki lain.
Itulah perjalanan sufistik yang mau
tidak mau harus kita tempuh.
Sesungguhnya
kamu melalui tingkat demi tingkat ( AL INSYQAAQ 84 : 19 )
Dan Kami telah tunjukkan kepadanya dua jalan, maka
tidak-kah sebaiknya ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah kamu jalan yang mendaki lagi sukar
itu…??? (AL BALAD
90 : 10 – 12).
Cahaya diatas Cahaya, Allah akan membimbing dengan
Cahayanya kepada yang Dia kehendaki ( AN NUUR 24 : 35 )
Adapun orang-orang yang berbahagia, mereka itu di dalam
surga, tinggal di dalamnya selama terbentang langit dan bumi, kecuali Tuhan-mu
menghendaki lain sebagai karunia yang tiada putus-putusnya ( HUUD 11 : 108 ).
Pada
dasarnya setiap Ruh senantiasa ingin hidup kekal di sisi Allah termasuk ruh
para durjana sekalipun. Setelah kematiannya Ruh mereka bisa melihat dan
mendengar sendiri tentang alam kubur :
Sesungguhnya kamu telah lalai, maka mulai hari ini Aku
buka tabir yang menutupimu, maka pandangan matamu menjadi tajam ( AL QAF 50 : 22 ).
Oleh
karena itu, kemudian mereka (para ruh) memohon kepada Allah :
Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan memdengar, maka
kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal sholeh, sesungguhnya
sekarang kami yakin
( AS
SAJDDAH 32 : 12 ).
Seandainya kami dapat kembali ke dunia,
niscaya kami akan menjadi orang-orang yang beriman ( ASY-SYU’ARA 26 :
102 ).
Sebagai
bukti bahwa Allah Maha Mengabulkan semua do’a, Maha Pengasih lagi Penyayang,
maka Allah pun berkenan untuk menghidupkan mereka kembali ke dunia nyata dengan
syarat bahwa mereka bersaksi dan harus membawa amanah, tugas di dunia, agama
atau amanah apapun dari Allah. Di alam
dunia, Allah pun akan menguji mereka dengan nafsu … Oleh karena itu, jangan
merasa dirimu suci, tapi berusahalah hidup sebaik mungkin sesuai ajaran Al
Qur’an dan Sunah Rasul …
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap
dirinya bersih…??? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dia kehendaki ….(
AN- NISA 4 : 49 )
Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada
kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih selama-lamanya, tetapi
Allah membersihkan siapa yang Dia kehendaki .. ( AN-NUUR 24 : 21 )
Karena itu janganlah kamu menganggap dirimu suci !!! Dia Maha Mengetahui siapa yang taqwa ( AN-NAJM 53 : 32 )
Hai orang-orang yang beriman janganlah ada diantara kamu
yang memperolok-olokkan orang lain, karena mungkin mereka lebih baik dari kamu …
Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau berburuk
sangka , sesungguhnya berburuk sangka adalah dosa dan janganlah mencari-cari
aib orang lain dan jangan pula sebagian dari kamu mencela dan membusuk-busukkan
orang lain
(
AL HUJURAT 49 : 11-12 )
Sanggahan
lainnya adalah :
- Jika benar terjadi reinkarnasi, mengapa kita tidak ingat lagi kepada kejadian-kejadian pada kehidupan kita yang lalu ??”
- Mengapa menurut data statistik ternyata jumlah penduduk di dunia senantiasa meningkat ??” Dengan adanya reinkarnasi, seharusnya jumlah penduduk di dunia tidak akan bertambah banyak, karena Ruhnya juga tidak bertambah banyak.
Bila
kita tidak bisa mengingat kejadian-kejadian pada kehidupan kita yang lalu,
secara logika adalah wajar, karena ingatan kita tersimpan di dalam otak jasmani
kita yang telah dikubur dan telah hancur menjadi tanah. Apakah ruhani bisa
berfikir ??? Sebagaimana halnya dengan malaikat, apakah malaikat bisa berfikir
??? Apakah malaikat mempunyai nafsu, apakah malaikat mempunyai jenis kelamin
???
Penulis
sendiri berpendapat bahwa Ruhani yang menggerakkan otak untuk berfikir dan
mengingat sesuatu. Jadi, yang berfikir adalah otak. Otak tidak bisa mengingat
sesuatu tanpa disertai adanya Ruhani, demikian juga Ruhani bila ingin
menyatakan sesuatu harus melalui otak, kemudian otak akan menggerakkan tubuh.
Bila
Ruhani memasuki bayi dan dilahirkan kembali ke dunia, adalah wajar bila harus
belajar lagi dari awal. Bila kita bisa mengingat peristiwa-peristiwa
dikehidupan sebelumnya, maka kita bisa terbelenggu masa lalu, ini bisa
menyebabkan kita stres berat… Allah Maha Mengetahui segala sesuatu… Allah tidak
pernah membuat umatnya susah…
Semedi
memberikan penjelasannya sesuai dengan Firman Allah :
Hai manusia… Jika kamu ragu-ragu tentang hari
kebangkitan, maka sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari tanah, kemudian dari
segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan
tidak sempurna kejadiannya, agar Kami dapat menjelaskan kepadamu dan Kami
tempatkan yang Kami kehendaki di dalam rahim untuk suatu masa tertentu dan
kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi dan kamu menjadi dewasa dan diantara
kamu ada yang diwafatkan dan diantara kamu ada yang dikembalikan ke tingkat
hidup yang paling rendah setelah tadinya berpengetahuan
(SURAT AL HAJJ 22 : 5).
Menurut
Semedi, bila pengertian “dikembalikan ke tingkat hidup yang paling rendah”
ditafsirkan sebagai “dimasukkan ke dalam neraka”, “dijadikan kafir” atau
“dijadikan pikun”, maka tafsiran-tafsiran tersebut menjadi tidak sesuai dengan
kata-kata selanjutnya yaitu : “sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah
tadinya berpengetahuan”. Mengapa tidak sesuai ??? Mengenai tafsiran “dimasukkan
ke dalam neraka”, menurut pendapat penulis juga terasa kurang pas, karena pada
ayat tersebut tidak sedang membahas tentang masalah neraka.
Memang
mengenai masalah usia tua dan kepikunan ada kaitannya, namun dalam hal ini,
baik yang kafir maupun yang pikun walaupun pengetahuannya sudah menjadi
berkurang, akan tetapi mereka masih mengetahui apa-apa, sehingga menurut
pendapat Semedi mengenai penafsiran “dijadikan kafir” dan “dijadikan pikun”
pada ayat tersebut, menjadi tidak seluruhnya benar.
Oleh
karena itu, Semedi berpendapat bahwa kata-kata : “dikembalikan ketingkat hidup
yang paling rendah, sehingga ia tidak mengetahui apa-apa setelah tadinya
berpengetahuan” lebih cocok bila diartikan sebagai : “dilahirkan kembali ke
dunia sebagai bayi”. Dalam hal ini bayi yang baru dilahirkan dan tidak
mengetahui apa-apa merupakan tingkatan hidup yang paling rendah dari siklus
kehidupan manusia. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya bayi tersebut bisa
melihat, bisa mendengar, bisa berbicara, menjadi seorang anak, menjadi remaja,
berpengetahuan, berperasaan, berwawasan, menjadi dewasa dst…
Menurut
Semedi hal ini didukung oleh firman Allah :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia (Allah) memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati agar kamu bersyukur (SURAT AN NAHL 16
: 78).
Menurut
penulis, di dalam kata-kata : “diantara kamu ada yang dikembalikan
ketingkat kehidupan yang
paling rendah” tersebut,
bisa berarti : “dilahirkan kembali
ke dunia dalam kondisi
yang memprihatinkan , baik dari
segi fisik maupun
dari segi sosial
ekonominya dan penafsiran
yang sangat ekstrem adalah
“dilahirkan kembali kedunia
sebagai hewan”. Dalam
hal ini tidak ada
sesuatu yang tidak
mungkin bagi Allah.
Allah Maha Kuasa
atas segalanya.
Mengenai jumlah
penduduk di dunia
yang setiap tahun
selalu meningkat, dimana dengan
adanya reinkarnasi seharusnya
jumlah tersebut tetap tidak
meningkat , Sumedi memberikan
penjelasan berdasarkan Al Qur’an
sebagai berikut :
1.
Bumi pada
zaman dahulu kala , ratusan tahun
yang lalu, pernah
berpenghuni jauh lebih
besar dari jumlah
penduduk bumi pada
masa kini .
2.
Peradaban ilmu
dan teknologi penduduk
bumi jaman dahulu
kala sudah lebih
canggih dari ilmu
dan teknologi masa
kini.
3.
Kecanggihan ilmu
dan teknologinya , menyebabkan
mereka lupa diri,
mereka menjadi sombong ,
musrik dan kutur. Karena
terhijab oleh kecanggihan
ilmu dan teknologinya , mereka melupakan
Tuhan-nya. Kemudian mereka
menyalahgunakan ilmu dan
teknologi yang dimilikinya ,
sehingga menimbulkan bencana
yang sangat dahsyat
dan akhirnya mereka
menjadi musnah karena ulah
mereka sendiri.
4.
Mereka
yang selamat adalah manusia-manusia pilihan Allah.
5.
Belum
semua Ruh yang mati dihidupkan kembali, oleh karena itu penduduk bumi masih
terus akan meningkat.
Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang telah kami
binasakan, yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya, maka lihatlah itu
tempat kediaman sesudah mereka tidak didiami lagi, kecuali hanya sebagian kecil
dan Kami adalah pewarisnya
(AL QASHASH 28 : 58)
Surat
Al qashash 28 : 58 ini memberikan kepada kita bahwa banyak negeri yang semula
subur makmur, kerta raharja, gemah ripah loh jinawi namun penduduknya hanya
bersenang-senang saja tanpa mensyukuri nikmat Allah artinya tidak peduli kepada
masalah kelestarian alam serta lingkungan hidup, maka akibat kerusakan yang
mereka timbulkan, mereka sendiri pun akhirnya ikut binasa.
Data-data
sejarahnya juga ikut musnah. Hanya sebagian kecil saja yang tersisa baik
alamnya maupun penghuninya. Oleh karena itu, penyebaran penduduk di dunia
menjadi tidak merata. Di daerah yang subur penduduknya bisa sangat padat. Di
daerah gersang penduduknya sangat jarang atau bahkan tidak ada sama sekali.
Daerah
yang semula suburpun bisa rusak berat karena ulah manusia yang serakah, karena
ulah manusia yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa memperhatikan
kepentingan orang lain, tanpa memperhatikan kelestarian alam dan lingkungan
hidup. Berapa banyak hutan tropis yang rusak ??? Konon kabarnya lembah Mekahpun pada awalnya adalah daerah yang
subur.
Legenda
Benua Atlantis yang hilang mengisahkan kecanggihan ilmu dan teknologi
penduduknya yang lebih canggih dari keadaan penduduk bumi masa kini. Edgar
Cayce seorang para normal dari Amerika, pada masa hidupnya sempat menghipnotis
dirinya sendiri dan menceritakan kisah kecanggihan ilmu dan teknologi penduduk
Benua Atlantis tersebut. Kisah banjir besar di dalam Al Quran adalah kisah Nabi
Nuh.
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi
yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) telah Kami
teguhkan kedudukkannya di muka bumi dengan keteguhan yang belum pernah kami
berikan kepadamu (AL AN’AAM 6 : 6).
Berapa banyak umat yang telah kami binasakan sebelum
mereka, sedangkan mereka lebih baik perlengkapannya dan lebih canggih dipandang
mata (MARYAM 19 : 74).
Apakah mereka tidak bepergian di muka bumi dan
memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka??? Mereka itu (orang-orang sebelumnya) lebih
banyak dari pada mereka (yang sekarang) dan lebih hebat kekuatannya dan
bekas-bekas peninggalannya di muka bumi, tetapi apa yang biasa mereka usahakan
tidak dapat menolong mereka
( AL MU’MIN 40 : 82 ).
Maka ketika datang Rosul-rosul kepada mereka membawa
bukti-bukti, mereka bersombong dengan pengetahuan yang mereka miliki, maka
mereka ditimpa azab karena apa yang biasa mereka perolok-olokan itu (
AL MU’MIN 40 : 83 ).
Bahasa
Al Qur’an menurut Semedi memang sesuai dengan zamannya, tidak ada istilah bom
atom, bom nuklir, bom hidrogen atau senjata sinar laser dan sebagainya, bencana
alam yang disebabkan oleh ledakan yang dahsyat hanya diumpamakan dengan ledakan
seperti petir atau sebagai sapuan angin yang menghancur luluhkan segala sesuatu
menjadi serbuk. Itulah bahasa Al Qur’an.
Bagi
mereka yang mau berfikir : Apakah memang ada petir yang bisa membinasakan dan
memusnahkan satu kaum ??? Apakah ada badai topan yang bisa menghancurkan segala
sesuatu sampai menjadi serbuk ??? Bandingkan dengan kerusakan yang disebabkan
oleh bom atom atau bom napalm dan
sejenisnya pada masa kini.
Jika berpaling, katakanlah : Aku telah memperingatkan
kamu tentang petir, seperti petir (yang menimpa) kaum ‘Aad dan Tsamud (
FUSHSHILAT 41 : 13 ).
Dan juga pada ‘Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka
angin yang membinasakan. Angin itu tidak membiarkan sesuatu yang dilandanya
melainkan menjadikannya seperti bubuk.
Dan pada Tsamud, ketika dikatakankepada mereka : Bersenang-senanglah
kamu sampai suatu waktu… Tetapi mereka durhaka terhadap perintah Tuhannya, lalu
mereka disambar petir, sedang mereka melihatnya (AZZARIYAAT
51 : 41-44)
Bagi
mereka yang ragu juga mengatakan bahwa : “Reinkarnasi tidak terdapat dalam
ajaran Islam”. Menurut Semedi memang benar demikian bila yang dimaksud dengan
Islam adalah para penganutnya. Para penganut
Islam dalam hal ini kebanyakan para ulama belum pernah mengajarkan paham
tersebut. Hal ini mungkin sejak awal mereka sudah apriori terhadap masalah ini,
sehingga sampai kapanpun akan terjadi perbedaan persepsi. Perbedaan persepsi
ini bisa disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan serta keterbatasan akal
pikiran kita sehingga kita kurang bisa memahami makna ayat-ayat Al Qur’an yang
bersangkutan dengan masalah reinkarnasi.
Masalah
reinkaransi ini adalah masalah Ruh. Masalah Ruh adalah masalah keghoiban dan
kerahasiaan Allah, sehingga sulit untuk bisa dibuktikan secara nyata. Oleh
karena itu, sulit untuk diyakini oleh kebanyakan orang awam, kecuali bagi para
ulama kasyaf yang sudah bisa melihat alam ghoib dan alam kubur.
Demikian
menurut pendapat penulis.
Maka sekiranya engkau berselisih pendapat, ikutilah
golongan mayoritas yang berpijak kepada kebenaran dan terdiri dari ahlinya ( Hadits ).
Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri, meskipun orang lain
telah memberimu fatwa. Yang terbaik
adalah yang menentramkan Ruhani. ( Hadits )
Al
Qur’an pun mengajarkan kepada kita bahwa bila kita tidak mengetahui maka kita
harus bertanya kepada Ahli Ilmu. Namun ahli ilmu tersebut menurut Semedi harus
yang berpijak pada azas kebenaran, misalnya dalam mentafsirkan ayat-ayat Al
Qur’an juga harus benar, sesuai dengan artinya yang murni dan konsisten.
Semedi
memberikan contoh sebagai berikut :
- Kata “mati” dalam Al Baqarah 2 : 28 :
“Bagaimana kamu tidak beriman kepada
Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Ia hidupkan kamu, kemudian Ia mematikan
kamu, kemudian menghidupkan kamu ( lagi ), kemudian kepadanya kamu
dikembalikan.
Semedi menghendaki agar kata “mati”
tersebut jangan ditafsirkan sebagai tidak atau belum ada, sebagai “segumpal
darah” atau pun sebagai “ketika di dalam rahim”.
Mati harus tetap ditafsirkan mati,
yaitu keadaan setelah selesai siklus kehidupan dan sekarang berada di alam
kubur.
- Kata Arab “ajalu” dalam Al An’aam 6 : 2 yang sebenarnya berarti “masa” atau “waktu” hendaknya jangan diterjemahkan sebagai “kematian”, karena tanpa disadari akan menghapuskan ajaran Allah yang menyatakan bahwa selain ada kurun waktu tertentu di dunia, ada pula kurun waktu tertentu di alam kubur atau di akhirat.
- Kata Arab qiyaamatu artinya yang murni adalah “kebangkitan”, yaitu kebangkitan Ruh Orang mati di akhirat atau di alam kubur setelah kematiannya, jangan ditafsirkan sebagai “akhir zaman”, “kebangkitan pada akhir zaman” atau “kehancuran total dunia pada akhir zaman”
- Kata-kata “diciptakan kembali”, “dihidupkan kembali”, dan “dikeluarkan” di dalam beberapa ayat Al Qur’an telah ditafsirkan secara tidak konsisten. Semula ditafsirkan sebagai “dilahirkan kembali ke dunia”, akan tetapi kemudian setelah kata-kata itu mendapat tambahan kata “lagi” atau “kembali” maka selanjutnya tafsirannya dirubah menjadi “dihidupkan kembali di akhirat”. Bila konsisten seharusnya tetap ditafsirkan sebagai semula, yaitu “dilahirkan kembali ke dunia”.
Akhirnya
menurut pendapat penulis, karena masalah reinkarnasi ini menyangkut masalah Ruh
yang menjadi rahasia Allah, maka bila kita sulit untuk mendapatkan Ahli Ilmu
yang berpegang pada kebenaran atau kita sulit mencari Ulama kasyaf yang sudah
bisa melihat alam kubur, sebaiknya kita
hayati Hadits Rosulullah yang mengatakan bahwa setelah minta fatwa
kepada orang lain, maka mintalah fatwa kepada hatimu sendiri dan yang terbaik
adalah yang menentramkan ruhani kita masing-masing.
Reinkarnasi
ini bukan tujuan akhir dari ajaran Islam, karena reinkarnasi adalah kembali ke alam dunia,
sedangkan tujuan akhir dari ajaran Islam adalah kembali kepada Allah.
Oleh karena itu mengenai masalah reinkarnasi hendaknya tidak perlu untuk
diperdebatkan.
Bagi
penulis sendiri yang penting adalah bukan masalah reinkarnasinya, akan tetapi
yang penting adalah usaha kita untuk mencapai tingkatan Ihsan dan Insan Kamil
melalui perjalanan tasawuf, sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunah Rosul …
agar kita bisa kembali kepada Allah dan tetap berada di sisi Allah … Kecuali
bila Allah menghendaki lain…
Ingat Surat AL ASR 103 :1-3… Sesungguhnya
jadi manusia itu selalu rugi…
Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau
katakan mati. Tidak..!!! mereka tetap
hidup di
sisi Tuhannya dan mendapat rizki
( ALI IMARAN 3 : 169 )
Orang yang paling mulia di sisi Allah
adalah dia yang paling takwa diantara kalian
( AL HUJURAT 49 : 13 )
PENELITIAN TENTANG
REINKARNASI
Masalah
reinkarnasi tidak terlepas dari masalah Ruh. Masalah Ruh adalah masalah
keghoiban Allah dan juga merupakan rahasia Allah. Oleh karena itu sungguh sulit
bila harus dibuktikan secara nyata. Masalah keyakinan seseorang terhadap
masalah ini, tentu saja tidak bisa dipaksakan. Tidak ada paksaan dalam ajaran
Islam. Demikian juga masalah komunikasi dengan Ruh.
Bagaimana
menurut ajaran Al Qur’an…???
Sekalipun Kami turunkan malaikat dari langit kepada
mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami
kumpulkan segala sesuatu kehadapan mereka, mereka tidak akan percaya, kecuali
bila Allah menghendaki tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui ( AL AN’AAM 6 : 111 ).
Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau
katakan mati. Tidak..!!! mereka tetap
hidup, hanya engkau tidak menyadarinya ( AL BAQARAH 2 : 154 ).
Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau
katakan mati. Tidak..!!! mereka tetap
hidup di
sisi Tuhannya dan mendapat rizki
( ALI IMARAN 3 : 169 ).
Karena
Ruh-Ruh tersebut tidak mati, maka walaupun jasadnya sudah mati dan sudah
dikuburkan, Ruh mereka yang sudah meninggal itu, mengetahui siapa yang
berziarah dan memberi salam kepadanya. Ruh mereka yang sudah mati dapat saling
bertemu,berkumpul kembali bersama golongannya masing-masing yang seiman. Bahkan
Ruh orang yang sudah mati bisa bertemu dengan Ruh kita yang masih hidup, pada saat kita yang
masih hidup dalam keadaan tertidur
(Surat Az
Zumar 39 : 42). (al Jauzy Q : Masalah Ruh).
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan
rasa suka cita dan diridhoi-Nya,
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku
( AL FAJR 27 : 30 ).
Allah-lah yang mengambil jiwa manusia ketika wafat dan
ketika tidurnya sebelum wafat, lalu ditahan-Nya jiwa itu (yang telah wfat)
serta dilepaskan-Nya kembali jiwa yang lain (yang belum wafat) sampai batas
waktu yang ditentukan. Sesungguhnya
dalam hal itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir (
AZ ZUMAR 39 : 42 ).
Tidak seorang pun yang memberi salam kepadaku, melainkan
Allah menyampaikan kepada ruh-ku, sehingga akupun membalas salamnya ( Hadits Rosulullah ).
Seorang muslim yang lewat pada kuburan saudaranya yang
dikenal dikala hidupnya di dunia, kemudian memberi salam kepadanya, maka Allah
menyampaikan salam itu kepadanya sehingga ruhnya membalas salam itu ( Hadits Rosulullah ).
Dari
kedua Hadits tersebut bisa kita pastikan bahwa Ruh bisa diajak untuk
berkomunikasi, berarti Ruh masih bisa berfikir dan berbicara namun Ruh tersebut
tidak bisa mengekspresikan karena dia sudah tidak memiliki sarana jasmani…
Tapi kebanyakan mereka tidak mengetahui … Demikian menurut Al Qur’an …
Masalah
Ruh adalah urusan Allah, manusia hanya diberi pengetahuan sedikit saja mengenai
masalah ruh ini. Walaupun demikian fenomena ruh ini sudah sejak lama menjadi
perhatian para ilmuwan di negara barat, khususnya para ahli psikologi dan para
ahli psikiatri yang melakukan penelitian melalui proses hipnotisme.
Para ilmuwan yang bukan dokter tentu saja
melakukan beberapa penelitian tentang ruh ini berdasarkan keilmuannya
masing-masing. Ada
penelitian melalui mediator yang bisa berdialog dengan para ruh orang mati,
teknik foto yang dikembangkan oleh Kirlian dari Rusia, deteksi melalui sinar
infra merah sampai ke alat-alat elektronik canggih lainnya, seperti yang sering
ditayangkan melalui TV.
Sampai
sejauh ini agaknya penelitian mereka masih belum mendapatkan hasil yang
memuaskan. Penelitian mereka hanya sebatas pada fenomena saja, sedangkan
substansi ruh sampai saat ini tidak bisa diketahui. Namun demikian agaknya mereka,
para peneliti tersebut mulai percaya bahwa ada kehidupan atau alam lain setelah
kematian jasmani. Mereka juga mulai percaya bahwa Ruh yang hidup di dunia sekarang
ini, pernah mengalami beberapa kali kehidupan di dunia ini sebelumnya.
Penelitian
reinkarnasi ruh melalui hipnotisme berawal dari ketidaksengajaan pada
saat penelitian terhadap orang-orang yang mempunyai masalah kejiwaan. Dengan
pengaruh hipnotis penderita tersebut diperintahkan untuk mengenang masa lalunya
agar terungkap latar belakang penderitaannya. Pada suatu ketika karena pengaruh
tenaga hipnotis yang begitu kuat, sampai kebablasan ke masa lalu yang jauh
sebelum orang tersebut dilahirkan melalui jasad yang sekarang ini. Peristiwa
ini merupakan titik tolak penelitian reinkarnasi Ruh melalui tata cara
hipnotisme.
Kalnel Ruka adalah orang yang pertama kali yang
berhasil mengembalikan keadaan jiwa seseorang ke masa lalunya, sampai melewati
batas kehidupan yang sekarang sehingga mencapai alam yang gelap dan sunyi serta
penuh rahasia, sebelum kelahiran kembali ke dunia nyata. Penelitian pun
berlanjut, sehingga akhirnya Ruka menyimpulkan bahwa ada kehidupan ruh sebelum
alam ini, bahwa ruh manusia pernah mengalami beberapa kali kehidupan melalui
jasad yang berbeda-beda dan meninggal berkali-kali, sampai akhirnya mencapai
kesempurnaan dan memperoleh kebebasan (Abthahiy H : Rahasia Alam Arwah).
Michael
Newton, ahli
hipnoterapi, selama 10 tahun melakukan studi kasus perjalanan ruh pada
penderita-penderita yang dihipnotisnya.
Newton pun menyimpulkan bahwa saat kematian, Ruh merasa bahagia karena
terbebas dari beban. ruh menjelaskan
bahwa dirinya berupa cahaya yang dijemput oleh cahaya dan menuju kepada Cahaya
Yang Sangat Kuat.
Menurut Newton semua Ruh memiliki
status ilahi yang sama, karena berasal dari essensi ilahi yang sama, yaitu dari
Ruh Yang Maha Tinggi. Ruh ada yang muda
ada yang tua dan yang lebih tua lagi jarang ber-reinkarnasi, bahkan tidak ber-reinkarnasi lagi bila sudah mencapai kematangan yang sempurna.
Tanpa disadari hasil penelitian
Newton ini membuktikan kebenaran ayat-ayat Al Qur’an….
Cahaya di atas Cahaya, Tuhan akan
membimbing dengan Cahaya-Nya kepada Cahaya-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki (
AN NUUR 24 : 35 )
Sesungguhnya kamu melalui tingkat
demi tingkat ( AL INSYIQAAQ 84 :19 )
Mengapa kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, Dia
menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, menghidupkanmu kembali, selanjutnya
kepada-Nya kamu dikembalikan ( AL BAQARAH 2: 28 )
Sekarang ini selain melalui
hipnoterapi, penderita dibimbing bermeditasi untuk memasuki periode kehidupan
masa lalu saat trauma kejiwaan itu terjadi…
Penulis pernah mengikuti sesi meditasi
ke masa lalu bersama beberapa teman diantaranya ada sejawat dokter Spesialis
Penyakit Dalam, teman se-asrama sewaktu masih menjadi mahasiswa di FKUI.
Sejawat ini ternyata dikehidupan yang
lalunya adalah seorang pendeta yang menjalankan misinya disuatu tempat kemudian
digantung oleh penduduk pribumi, sehingga dikehidupan yang sekarang bila dia
berjalan kepalanya miring, seperti sedang main biola. Saat masih jadi mahasiswa di FKUI dia pernah
memeriksakan dirinya ke Bagian Neurologi.
Dia diperiksa dengan alat-alat canggih, ternyata normal. Alhamdulillah setelah mengikuti sesi
meditasi ini dia sembuh, bila berjalan leher dan kepalanya tegak…
Subhanallah … Maha Benar Allah dengan
segala Firman-Nya.
Demikian
juga penelitian melalui mediator yang bisa berkomunikasi dengan Ruh. Ruh yang dipanggil
diperintahkan untuk menceritakan masa lalunya, mulai dari nama, alamat sebelum
dia meninggal dunia, pekerjaan dan kegiatan selagi dia hidup di dunia. Dari
penelitian tersebut, para Ruh ada yang tetap angkuh dan tetap tidak menyadari
kenapa dia sekarang berada dalam penderitaan tanpa akhir, ada Ruh yang
mengeluhkan penderitaannya di alam kubur dan mohon pertolongan agar dia bisa
dikirimi do’a serta ada pula Ruh yang setelah kematiannya dia merasa terbebas
dari rasa sakit dan penderitaannya tatkala hidup di dunia, dia merasa senang.
Menurut
salah seorang sesepuh, bagi mereka yang bernegosiasi (bekerja sama) dengan
makhluk halus jin, siluman atau yang disebut hodam dan sebangsanya, bila mereka
mati bahkan sebelum saat kematian mereka, Ruh mereka diambil dan dijadikan
budak oleh makhluk halus sesembahan mereka, untuk selama-lamanya. Mereka tidak
bisa masuk surga, bahkan nerakapun tidak mau menerima mereka. Mereka tidak akan
bisa mendapatkan ampunan dari Allah karena mereka telah melakukan dosa syirik.
Oleh karena itu, ilmu tersebut tidak boleh dipelajari oleh para murid beliau.
Semulia-mulianya ilmu adalah ilmu mengenal Allah.
Menurut
penulis, kelemahan penelitian Ruh baik melalui hipnotisme maupun melalui cara
mediator berkomunikasi dengan Ruh adalah kita tidak mengetahui keaslian Ruh
tersebut. Apakah Ruh yang datang berkomunikasi itu Ruh asli ataukah jin yang
berpura-pura jadi Ruh. Oleh karena itu, walau bagaimanapun masalah Reinkarnasi
sangat sulit untuk dibuktikan secara nyata.
Walaupun
demikian terlepas dari percaya atau tidak terhadap Reinkarnasi, secara pribadi
penulis mengagumi dan meyakini betapa luasnya, betapa universalnya ajaran Al
Qur’an, begitu luas cakupannya, hingga mencapai masalah reinkarnasi. Betapa
sempurnanya ajaran Islam karena tidak terpaku pada masalah reinkarnasi. Akhir
dari ajaran Islam adalah kembali kepada Allah, bukan reinkarnasi
yang kembali ke alam dunia. Maha Benar
Allah dengan segala Firman-Nya. Agar
tidak dikembalikan lagi ke alam dunia maka kita harus ingat Surat Al Asr 103
: 1-3…
Seandainya
kita percaya akan adanya reinkarnasi, hendaknya jangan tanggung-tanggung, harus
percaya juga bahwa bila Allah menghendaki, maka manusia bisa dilahirkan kembali
ketingkat kehidupan yang lebih rendah. Dia bisa dilahirkan kembali ke dunia
sebagai hewan.
Reinkarnasi
agaknya hanya bagi mereka yang tingkat keimanannya masih tipis. Bagi mereka yang sudah mencapai derajat ihsan
dan insan kamil, maka Allah-lah seindah-indahnya tempat untuk kembali, mereka
tetap hidup di sisi Tuhan-nya serta mendapat rezeki (perhatikan Surat ALI IMRAN
3 : 14 dan 169). Kecuali bila Allah menghendaki lain (HUUD : 11 : 108).
Dengan
demikian wajarlah bila para sesepuh kita yang ahli tasawuf tidak menghendaki
dirinya untuk hidup kembali ke dunia nyata. Karena dunia yang penuh fatamorgana
ini merupakan penjara dan siksaan bagi ruhaninya, sedangkan kematian adalah
bahwa dirinya kembali ke Rahmat Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Menurut
para sesepuh, tugas para wali Allah adalah menjaga kelestarian agama Islam.
Yang mengetahui wali Allah hanya para wali Allah itu sendiri. Bila salah
seorang wali Allah meninggal dunia, maka akan muncul seorang wali Allah yang lain, sebagai penggantinya.
Oleh
karena itu, menurut penulis, bukan masalah reinkarnasi, akan tetapi yang
penting adalah bagaimana usaha kita untuk bisa mencapai derajat Ihsan dan Insan
Kamil, sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunah Rosulnya, agar tidak
dikembalikan lagi ke alam dunia. Kehidupan yang kekal di sisi Allah itulah yang
terbaik, itulah tujuan kita yang harus kita sadari… bukan untuk mencapai surga…
karena di surga hanya ada kesenangan fisik… Para pencari sejati tidak mencari
Surga, tapi mencari bagaimana caranya untuk bisa mencapai IKHSAN menjadi INSAN
KAMIL yang mendapat keridhoan Allah serta ucapan selamat dari Allah..
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan-mu dengan
rasa suka cita dan diridhoi-Nya,
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-KU
( AL FAJR 89 : 27 : 30 ).
Salamun qaulam-mir-robbir-rohiim. Salam sebagai ucapan
selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang ( YAASSIIN 36 : 58 ).
Oleh
karena itu Al Qur’an telah memberikan peringatan agar kita mengakhiri masalah
reinkarnasi ini melalui Surat Al Asr 103 : 1-3…
Demi waktu Asar… sesungguhnya manusia itu selalu dalam
kerugian… kecuali bagi mereka yang beriman, mereka yang beramal soleh dan
berbicara tentang hal-hal yang baik dan mereka yang sabar…
Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau
katakan mati. Tidak..!!! mereka tetap
hidup, hanya engkau tidak menyadarinya ( AL BAQARAH 2 : 154 ).
Mereka yang meninggal di jalan Allah jangan engkau
katakan mati. Tidak..!!! mereka tetap
hidup di
sisi Tuhannya dan mendapat rizki
( ALI IMARAN 3 : 169 ).
Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah dia yang
paling takwa diantara kalian
(
AL HUJURAT 49 : 13 )
Dari
Allah kembali kepada Allah. Dari Sang Pencipta kembali kepada Sang Pencipta.
Semua
ciptaan Allah disebut MAHLUK dan mahluk ciptaan Allah itu ada yang tampak yaitu
manusia dan alam semesta, sedangkan Mahluk ciptaan Allah yang tidak tampak
diantaranya : malikat, jin, syaeton dan iblis, termasuk surga dan neraka… itu
juga mahluk ciptaan Allah yang tidak tampak
SELANJUTNYA
TERSERAH KITA MAU KEMBALI KEPADA ALLAH ATAU KEMBALI KEPADA MAHLUK CIPTAAN-NYA
YANG DISEBUT SURGA….
UNTUK
KESENANGAN FISIK DI SURGA … MONGGO… WANI PIRO…???
KESIMPULAN
Adanya
ayat-ayat yang berhubungan dengan masalah reinkarnasi ( kebangkitan kembali )
adalah merupakan bukti bahwa betapa luasnya kandungan Al Qur’an, betapa
universalnya ajaran Islam, baik dari pengertian harfiahnya maupun makna
hakikinya yang artinya damai, selamat, suci, kasih-sayang, sabar-ikhlas dan
berserah diri kepada Allah…bukan berserah diri kepada dunia… Itulah Islam ,
itulah Fitrah yang sudah terprogram dalam hati nurani kita masing-masing… Oleh
karena itu tidak ada perubahan pada fitrah Allah … ( Ar-Rum 30
: 30 )
Adanya
pembahasan reinkarnasi di dalam Al Qur’an juga merupakan bukti bahwa Tuhan
telah menyempurnakan agama bagi umatnya diseluruh dunia melalui ajaran Islam-Fitrah
yang dibawakan oleh Muhammad SAW.
Masalah
reinkarnasi ini memang sangat sulit untuk dibuktikan secara nyata, karena
menyangkut masalah Ruh yang menjadi rahasia Allah dan masalah adanya perbedaan
satuan waktu di dunia dan di akhirat, dimana 1 hari di akhirat sama dengan 1000
tahun di dunia. (AL HAJJ 22 : 47).
Walaupun
masalah reinkarnasi ini tidak bisa dibuktikan secara nyata, kewajiban kita
adalah bahwa kita harus percaya akan kebenaran Al Qur’an. Kita juga harus percaya
akan hal-hal yang bersifat ghoib ( perhatikan Surat AL BAQARAH 2 : 2-3 ).
Bahwa
ber-reinkarnasi itu bisa dibangkitkan kembali ke kehidupan yang lebih baik
sebagai suatu kemenangan atau bisa juga dimasukkan ke tingkat kehidupan yang
sangat rendah sebagai suatu kekalahan dalam perjuangan melawan hawa nafsu.
Hal
ini sebagai bukti bahwa Allah Maha Kuasa
atas segalanya. Dia Maha Kuasa untuk memberi bentuk apapun bagi yang Dia
kehendaki, sesuai dengan Kudrat dan Irodat-Nya.
Adanya reinkarnasi justru sebagai bukti bahwa Allah Maha Adil, Maha
Bijaksana, Maha Pengampun serta Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Perhitungan
Allah sangat tepat dan cepat, sehingga setiap pahala dan dosa sebesar jarahpun
tak akan terlewatkan. Allah akan mengampuni semua dosa manusia, kecuali dosa
syirik. Dosa syirik adalah dosa bagi mereka yang mempersekutukan Allah, yaitu
mereka yang bernegosiasi dengan jin, setan, siluman dan sebangsanya. Ruh mereka
tidak bisa masuk surga, bahkan neraka pun enggan menerima mereka. Ruh mereka disandera
sebagai budak oleh sesembahan mereka. Oleh karena itu, jangan mempelajari
ilmu-ilmu yang menjurus seperti itu, semulia-mulianya ilmu adalah ilmu mengenal
Allah.
Reinkarnasi
merupakan sarana untuk memperbaiki diri bagi mereka yang keimanannya masih
tipis. Berarti manusia yang semasa hidupnya hanya berbuat kejahatan saja, pada
reinkarnasi yang berikutnya belum tentu dia tetap menjadi manusia jahat,
mungkin dia menjadi manusia yang senantiasa berbuat kebajikan.
Di
dunia nyata Ruh tersebut akan ditempa agar memperoleh kesempurnaan bathin tahap
demi tahap, sampai mencapai tingkatan Ihsan dan Insan Kamil. Keagamaan
seseorang dianggap sempurna bila telah mencapai tahapan Iman, Islam dan Ihsan. Tingkatan Ihsan ini lah yang hanya bisa
dicapai melalui tasawuf.
Bagi
mereka yang sudah mencapai kesempurnaan bathin, sudah mencapai derajat Ihsan
dan Insan Kamil, mereka tidak ingin dihidupkan kembali ke dunia karena mereka
sadar bahwa jadi manusia itu rugi karena Allah-lah seindah-indahnya tempat
untuk kembali… Mereka ingin tetap hidup disisi Allah…
Demi waktu Asar… sesungguhnya manusia itu selalu dalam
kerugian… kecuali bagi mereka yang beriman, mereka yang beramal soleh dan
berbicara tentang hal-hal yang baik dan mereka yang sabar… ( AL ASR 103 : 1-3 ).
Barang siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan
Tuhan-nya, hendaknya ia mengerjakan amal soleh dan tidak mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhan-nya ( AL KAHFI 18 : 110 )
Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-KU ( LUQMAN 31 : 15 )
Inilah jalan yang lurus menuju
kepada-Ku ( AL HIJR 15 : 41 )
Jangan ikuti jalan-jalan lain ( AL
AN’AM 6 : 153 )
Sesungguhnya
telah Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.
Sesungguhnya
Kami telah menunjukinya
jalan yang lurus, ada yang bersyukur dan
ada pula yang kafir ( AL INSAN 76 :
2-3 )…
Tuhan menjadikan manusia berkeinginan,
cinta terhadap wanita, putera-puteri, emas-perak, kuda pilihan, ternak, sawah-ladang,
semuanya itu hanya secuil kesenangan hidup di dunia saja, namun Allah-lah seindah-indahnya tempat untuk kembali ( ALI IMRON 3 : 14 )
Mereka tetap hidup di sisi Tuhan-nya dan mendapat rezeki ( ALI IMRON 3 : 169 )
Kecuali bila Tuhan-mu menghendaki lain ( HUUD 11 : 108 ) …
Dengan
demikian sangatlah jelas dan gamblang bahwa tujuan akhir dari ajaran Islam
adalah bukan reinkarnasi, bukan kembali ke alam dunia, akan tetapi tujuan
akhirnya adalah kembali kepada Allah semata. Kembali kepada Cahaya Allah itulah
yang disebut Swarga.
Oleh
karena itu, bukan masalah reinkarnasinya, yang penting adalah usaha kita
untuk bisa mencapai derajat Ikhsan dan Insan Kamil sesuai dengan ajaran Al
Qur’an dan Sunah Rosul. Insya Allah
reinkarnasinya akan berakhir….tidak akan dikembalikan lagi ke alam dunia…
NAMUN tetap bersama Allah…
Orang yang paling mulia di sisi Allah
adalah dia yang paling takwa diantara kalian
( AL HUJURAT 49 : 13 )
Sesungguhnya sebaik-baiknya
bekal adalah taqwa dan bertaqwalah
kepada-Ku hai orang-orang yang berakal ( AL BAQARAH 2 : 197 )
Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu,
karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah
( SHAAD 38 : 26 )
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang
yang mensucikan jiwaya dan sesungguhnya merugilah orang-orang yang mengotorinya
( ASY-SYAM 91 : 9-10 )
Reinkarnasi tidak terlalu
penting dalam Islam, namun bermanfaat dalam dunia medis melalui
hipnoterapi...pada penderita-penderita kejiwaan…
Demikianlah
yang bisa penulis simpulkan tentang reinkarnasi. Sesungguhnya penulis tidak
mengerti apa-apa, tidak bisa apa-apa serta tidak memiliki apa-apa. Jangankan
kepandaian, kebodohan pun bukan milik penulis.
Masalah ada tidaknya reinkarnasi di dalam Al Qur’an terserah diri kita
masing-masing…
Tanya
aja sama Inul yang bergoyang… So what gitu loh…!!!???
Emangnye
gue pikirin… cape deh… enjoy aja lagi… hehehe…
Sekalipun
Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara
dengan mereka dan Kami kumpulkan segala sesuatu kehadapan mereka, mereka tidak akan percaya … ( AL AN’AAM 6 : 111 )
Kata Rosulullah :
Mintalah fatwa pada hatimu sendiri
setelah orang lain memberimu fatwa… setelah orang lain memberimu fatwa… setelah
orang lain memberimu fatwa…
Allah
memberikan petunjukNya ke hati, bukan
ke otak ( AT-TAGABUN 64 : 11 )...
Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati ( ALI IMRAN 3 : 13
).
Mata hati adalah hati nurani atau hati
nuraini, berasal dari kata Nur dan Aini
Nur artinya Cahaya dan Aini artinya Mata…yang melihat...
Di dalamnya ada Cahaya Yang Maha
Melihat ( AL QIYAMAH 75 : 14 )
Kebenaran
yang hakiki senantiasa datang dari Allah.
Sebagai
insan, penulis mohon maaf bila ada kesalahan dalam penyampaian…
BAHAN
BACAAN
- ABTHAHIY H : Alam-e Ajib-e Arwah.RAKHMAT M : Rahasia Alam Arwah. Cet. III . PT lentera Basritama. Jakarta, November 1997
- GAZUR-I-ILAHI I. : The Secret Of Ana`l Haqq. HARAHAP B dan JOEBAR A : Mengungkap Misteri Besar Mansur Al Hallaj : Ana`l Haqq. Ed. I, Cet.I. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta, Des. 1995.
- HUDAF : Fenomena Ruh. Realitas Ilmiah-Qur`aniah. Yayasan Jalan Terang. Jakarta Timur, 1983.
- KHATIB M.A. : As-Sunnah Qoblat-Tadwin. FAHMI A : Hadits Nabi Sebelum Dibukukan. Editor SHOLIHAT M. Cet. I. Gema Insani Press. Jakarta, Juni 1999.
- MACKENZIE V. : Reinkarnation : The Spanish Boy Whose Destiny Was To Be A Tibetan Lama. KISTONO L. : Reinkarnasi. Misteri Bocah Spanyol Bernama Osel.Cet. II. PT Utama Grafiti. Jakarta, Juli 1990.
- NEWTON M. : Journey Of Soul. Koleksi Studi Kasus Mengenai Kehidupan Selama Jeda Antarkehidupan. PT Bhuana Ilmu Populer Kelompok Gramedia. Jakarta, 2006.
- QOYYIM AL JAUZY S. : Arruh Li Ibnil Qoyyim. KAFIE J. : Masalah Ruh. Cet. V. PT. Bina Ilmu. Surabaya, 1994.
- RADJAK A.H. : Hubungan baik. Tarakan, Kalimantan Timur, 1998.
- SEMEDI E. : Sebuah Ijtihad. 1984. Foto copy tanpa nama dan alamat penerbit.